oleh. Fathurrahman Jr. (Delegasi PWNU NTB pada Program Digital Leadership Academy 2024 dan Dosen UIN Mataram)
Pada era distrupsi dengan kecanggihan teknologi digital saat ini, tentu transformasi digital telah menjadi kebutuhan mutlak bagi semua organisasi, lembaga, bahkan birokrasi pemerintahan yang ingin tetap relevan dan kompetitif atas segala kemajuan bidang saintek. Transformasi digital tidak hanya mencakup penerapan teknologi baru, namun juga perubahan dalam cara kerja (digital work), budaya organisasi (organization digital culture), pergerakan cepat (speed movement digital) dan model berfikir (digital mindset).
Beberapa alasan mengapa transformasi digital sangat penting bagi organisasi atau jam’iyyah Nahdlatul Ulama dari segala level (Anak Ranting, Ranting, Majelis Wakil Cabang, Cabang, Wilayah, Cabang Istimewa dan bahkan Pengurus Besar) yakni:
Pertama, peningkatan efisiensi operasional yakni sebuah upaya tansformasi digital memungkinkan otomatisasi proses administrasi yang sebelumnya manual dengan tumpukan kertas dan juga dapat memakan waktu yang lama. Teknologi seperti kecerdasan buatan artificial intelligence (AI), pembelajaran mesin (machine learning) dan analisis data (data analyst) dapat digunakan untuk mengoptimalkan proses administrasi, manajemen koordinasi organisasi, manajemen data organisasi yang tentunya berbasis pada layanan seperti textline NU DIGDAYA (Nahdlatul Ulama Digitalisasi Data dan Pelayanan).
Kedua, peningkatan pelayanan jamaah. Titik fokus pada era dimana jamaah NU memiliki banyak pilihan kebutuhan, pilihan pelayanan yang menyangkut pada kepentingan secara pribadi, sosial, kebangsaan dan keagamaan sesuai dengan ruh jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah diniyah basariyah. Tentu hal demikian akan memberikan rasa bangga dari seorang jamaah yang mendapatkan pelayanan secara mudah dan unggul. Melalui transformasi digital, organisasi dapat menggunakan data jamaah untuk menyediakan layanan yang lebih personal dan responsif.
Platform digital seperti aplikasi mobile, situs web interaktif dan media sosial memungkinkan organisasi untuk berinteraksi dengan jamaah secara real-time dan memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ketiga, adanya fleksibilitas dan adaptabilitas. Transformasi digital memberikan fleksibilitas bagi jam’iyyah dan jamaah Nahdlatul Ulama untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan iklim teknologi Dunia dan kebutuhan atas tantangan global. Teknologi digital memungkinkan pengembangan produk dan layanan baru dengan lebih cepat, serta memungkinkan organisasi untuk mengeksplorasi model baru (new model). Fleksibilitas ini sangat penting dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dan perubahan yang cepat dalam teknologi dan preferensi visi NU DIGDAYA (Nahdlatul Ulama Digitalisasi Data dan Pelayanan).
Keempat, transformasi digital akan memberikan kehematan pada pembiayaan, meskipun investasi awal dalam teknologi digital mungkin besar, dalam jangka panjang, transformasi digital dapat menghemat biaya operasional. Otomatisasi proses pembuatan big data, layanan dan penggunaan teknologi komputasi awan (cloud computing) dapat mengurangi biaya tenaga dan infrastruktur secara fisik. Selain itu juga proses analisis data dapat membantu organisasi mengidentifikasi area di mana biaya dapat dikurangi tanpa mengorbankan kualitas.
Kelima, mendukung keberlanjutan untuk jalannya sebuah roda organisasi modern. NU memang secara historis dikenal dengan jargon “organisasi pesantren, organisasi trandisional yang dekat dengan Kiai Kampung dan bahkan disebut sebagai organisasi sarungan”. Namun hal demikian bukan berarti NU tidak bisa beradaptasi dengan kebaharuan perkembangan media komunikasi dan teknologi.
Konsen NU di era KH. Yahya Cholil Staquf adalah mendorong transformasi digital secara masif dalam basis data dan layanan. Sehingga dapat mendukung tujuan keberlanjutan organisasi Nahdlatul Ulama secara adaptif di era modern. Digitalisasi dokumen sebagai upaya atau proses mengurangi penggunaan kertas dan sumber daya alam lainnya. Selain itu, teknologi seperti Internet of Things (IoT) dapat digunakan untuk memantau dan mengelola penggunaan energi secara lebih efisien dan men-support pengiritan energi.
Keenam, yakni menjadikan organisasi NU lebih kompetitif dengan berbagai organisasi lain yang sebetulnya juga memiliki keresahan yang sama. Alternatif yang paling memaksa adalah dengan melakukan transformasi digital demi mendapatkan keunggulan yang kompetitif dibandingkan dengan yang tidak bertransformasi. Dengan memanfaatkan teknologi digital, NU dapat menciptakan nilai baru bagi jamaah, jam’iyyah bahkan untuk Negara dan Agama dalam upaya meningkatkan kualitas SDM untuk visi generasi emas Indonesia tahun 2045. Transformasi digital juga memungkinkan NU untuk terus melakukan inovasi dan melahirkan generasi melek ilmu pengetahuan-teknologi.
Oleh sebab itu, NU harus berkomitmen untuk terus berinovasi dan mengadopsi teknologi digital sebagai bagian dari strategi keberlanjutan organisasi secara data dan layanan. Fokus dengan jargon NU DIGDAYA!!










