SUMBAWAPOST.com | Mataram- Direktur NTBCare saat ini, Rohyatil Wahyuni Bourhany (sering disebut Saraa Azahra), memberikan klarifikasi tegas terkait beredarnya narasi yang menyebut lembaganya mengelola dana hingga Rp31 miliar.
Ia menegaskan bahwa NTBCare bukan lembaga pengelola keuangan, apalagi entitas yang berorientasi pada profit.
“Sehubungan dengan narasi liar yang menyebut NTBCare mengelola uang Rp31 miliar, dengan ini kami tegaskan NTBCare bukan lembaga pengelola uang, bukan pula mesin pencetak profit,”ungkapnya dalam keterangan yang diterima media ini. Selasa (5/5/2026).
Rohyatil menjelaskan, NTBCare merupakan program sosial Pemerintah Provinsi NTB yang berfokus pada kerja-kerja kemanusiaan dan kolaborasi di lapangan.
“NTBCare adalah program sosial Pemerintah Provinsi NTB sebelumnya. Fokus kami sederhana yakni menghubungkan niat baik dengan aksi nyata di lapangan. Kami tidak pegang kas, tidak punya brankas, dan tidak jualan untung-rugi. Kegiatan kami murni fasilitasi dan kolaborasi untuk urusan kemanusiaan, kesehatan, pendidikan, dan kebencanaan,”bebernya.
Ia menambahkan, mekanisme kerja NTBCare dibangun berbasis kemitraan dengan berbagai elemen, mulai dari lembaga resmi, komunitas, CSR, hingga relawan.
“Sistem kami bermitra. Mitra-mitra strategis dari lembaga resmi, komunitas, CSR, hingga relawan inilah yang jadi tulang punggung sekaligus support system NTBCare. Mereka yang mengeksekusi, kami yang mengorkestrasi,”ujarnya.
Dengan demikian, ia menilai tuduhan yang menyebut NTBCare mengelola dana Rp31 miliar adalah tidak benar dan menyesatkan.
“Jadi kalau ada yang membayangkan NTBCare duduk di atas tumpukan uang Rp31 miliar sambil kipas-kipas, kami pastikan itu adegan film fiksi. Genre hoaks,”tegansya.
Lebih jauh, ia menyebut informasi tersebut sebagai narasi yang tidak berdasar dan tidak layak diproduksi ulang.
“Maka, klaim bahwa ‘NTBCare kelola uang Rp31 M’ kami kategorikan sebagai berita sampah. Daur ulang pun tidak bisa, karena isinya sudah busuk sejak awal,”katanya.
Meski demikian, NTBCare tetap membuka ruang kolaborasi bagi publik dan berbagai pihak yang ingin terlibat dalam kerja-kerja sosial di NTB.
“Kami mengundang publik untuk cek data ke sumber resmi, dan sekalian audit bukan membuat narasi yg justru memperlihatkan kualitas pembuat narasi. Kalau mau bantu warga NTB, pintu kolaborasi kami terbuka. Kalau mau bikin drama, panggungnya bukan di sini,”imbuhnya.
NTBCare menegaskan kembali posisinya sebagai program sosial, bukan lembaga pengelola dana, serta mengajak masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang publik.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










