Rumput Laut Bikin NTB Mendunia, Teluk Ekas Resmi Jadi Pusat Riset Tropis Dunia

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, bersama petani rumput laut di kawasan Pantai Ekas, Teluk Ekas, Lombok Timur

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, bersama petani rumput laut di kawasan Pantai Ekas, Teluk Ekas, Lombok Timur

Mataram | SUMBAWAPOST.com-Langkah besar diambil Pemerintah Pusat dengan menetapkan Teluk Ekas sebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Riset Rumput Laut Tropis Dunia. Kebijakan strategis ini menjadi bagian dari upaya nasional memperkuat ekonomi pesisir dan mempercepat hilirisasi sektor kelautan berbasis riset dan inovasi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan pentingnya penguatan riset rumput laut sebagai bagian dari transformasi ekonomi pesisir dan strategi nasional menjadikan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global,” ujar Wamen Stella saat peletakan batu pertama ITSRC di NTB.

Menurutnya, pembangunan ITSRC di Teluk Ekas merupakan fondasi membangun ekosistem riset kelas dunia sekaligus mendorong transformasi ekonomi pesisir berbasis ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global. Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar dolar Amerika Serikat per tahun dan diproyeksikan terus meningkat.
Namun, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. Karena itu, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pusat inovasi dan nilai tambah industri.

Baca Juga :  Jembatan Doro O’o Ambruk, Gubernur NTB ‘Balas’ dengan Jembatan Baru Rp6,1 Miliar

Kerja sama strategis pun dijalin dengan berbagai pihak, termasuk University of California, Berkeley serta Beijing Genomics Institute (BGI) dari Tiongkok.

“Kami bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari Tiongkok. Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk peralatan dan peneliti. Kemendiktisaintek juga telah mengalokasikan Rp1,5 miliar untuk tahap awal,” kata Wamen Stella.

Inisiatif ini telah melalui proses konsolidasi sejak Mei 2025 dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor usaha seperti APINDO, guna memastikan hilirisasi berjalan seiring dengan penguatan riset.

Desa Ekas Buana di kawasan Teluk Ekas dipilih karena telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, baik sebagai wilayah budidaya maupun tangkap. Secara ekologis, kawasan ini memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan arus dan sirkulasi air yang baik, menjadikannya ideal sebagai living laboratory untuk riset produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa tropis.

Rektor Universitas Mataram, Bambang Hari Kusumo, menjelaskan ITSRC akan dikembangkan sebagai kawasan riset terpadu dengan fasilitas modern.

“Fasilitas yang akan dibangun meliputi gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya. Seluruhnya dirancang untuk bersinergi dengan pengembangan Kampung Merah Putih, koperasi, serta program pemberdayaan masyarakat lainnya,” jelasnya.

Selain Kappaphycus sebagai bahan baku karagenan, kawasan Teluk Ekas juga potensial untuk pengembangan Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.
Peneliti Biologi Unram, Eka Sunarwidhi Prasedya, menekankan pentingnya riset berbasis data dalam pengembangan varietas unggul.

Baca Juga :  Festival SiTepat, Wagub NTB Gandeng Perempuan Menangkan Perang Dompet dan Dagang

“Riset berbasis data penting untuk dikembangkan, guna menghasilkan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim serta memiliki nilai tambah industri,” katanya.

Pemerintah Provinsi NTB menyambut positif kehadiran ITSRC. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, menyatakan pusat riset ini diharapkan menjadi solusi atas persoalan klasik budidaya rumput laut, khususnya kelangkaan bibit unggul.

“Pemprov NTB sangat mengapresiasi kehadiran laboratorium rumput laut ini. Selama ini salah satu kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas. Dengan adanya ITSRC, kami berharap masalah tersebut bisa teratasi. Ke depan, pusat riset ini juga diharapkan menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan pengembangan rumput laut di NTB,” ujarnya.

Selain pusat riset rumput laut, Universitas Mataram juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan guna memperkuat layanan kesehatan wilayah kepulauan dan mendukung pendidikan dokter spesialis.

Melalui kehadiran ITSRC, pemerintah menegaskan komitmen mentransformasi keunggulan alam Indonesia menjadi keunggulan ilmu pengetahuan dan industri bernilai tambah.

Dengan sinergi perguruan tinggi, pemerintah daerah, mitra internasional, dan pelaku usaha, Teluk Ekas diharapkan menjadi pusat inovasi rumput laut tropis dunia sekaligus motor penggerak ekonomi pesisir yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.

 

 

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Investasi NTB Tembus Rp33,73 Triliun di Semester I 2026, UMKM Jadi Motor Utama Pertumbuhan
DPMPTSP NTB Ungkap Dugaan Investasi Fiktif dan Penguasaan Lahan di Gili Air, Desak APH Bertindak
DPRD NTB PDIP Tantang Demokrat, Audit Dana BTT Rp484 Miliar Tak Perlu Ditolak Jika Tak Ada Masalah
Empat Rapergub NTB Dibedah Kementerian Hukum, Apa Saja? Ini Daftarnya
KSB Siapkan Pilkades Digital, Bupati Amar Uji E-Voting BRIN
NTB Selangkah Lagi Tinggalkan Sistem Lama, Karier ASN Berbasis Talenta
Badko HMI Bali Nusra Desak Kejati NTB Tak Lempar Kasus Amahami, Minta Segera Tetapkan Tersangka
Usai Divonis Bebas, Anggota DPRD NTB Hamdan Kasim Sebut Semua Sesuai Fakta Persidangan, Acip: Kasus Tak Jelas
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 10:53 WIB

Investasi NTB Tembus Rp33,73 Triliun di Semester I 2026, UMKM Jadi Motor Utama Pertumbuhan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 08:12 WIB

DPMPTSP NTB Ungkap Dugaan Investasi Fiktif dan Penguasaan Lahan di Gili Air, Desak APH Bertindak

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:19 WIB

DPRD NTB PDIP Tantang Demokrat, Audit Dana BTT Rp484 Miliar Tak Perlu Ditolak Jika Tak Ada Masalah

Kamis, 6 Agustus 2026 - 21:18 WIB

Empat Rapergub NTB Dibedah Kementerian Hukum, Apa Saja? Ini Daftarnya

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:01 WIB

KSB Siapkan Pilkades Digital, Bupati Amar Uji E-Voting BRIN

Berita Terbaru