Desakan Seret Gubernur NTB ke Sidang Dana Siluman DPRD Dibantah Keras, Iwan Slenk: Tak Ada Dasar Hukum

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 22 April 2026 - 16:39 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Advokat senior NTB, Iwan Slenk dengan menggunakan Topi, menjelaskan pandangan hukum terkait ketidakrelevanan pemanggilan Gubernur NTB dalam persidangan kasus gratifikasi DPRD bersama Gubernur NTB dan Tim Pendukung Iqbal-Dinda

Advokat senior NTB, Iwan Slenk dengan menggunakan Topi, menjelaskan pandangan hukum terkait ketidakrelevanan pemanggilan Gubernur NTB dalam persidangan kasus gratifikasi DPRD bersama Gubernur NTB dan Tim Pendukung Iqbal-Dinda

SUMBAWAPOST.com| Mataram- Desakan sejumlah pihak untuk menghadirkan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, sebagai saksi dalam perkara dugaan gratifikasi Dana Siluman DPRD NTB yang tengah bergulir di Pengadilan Tipikor Mataram dinilai tidak memiliki relevansi yuridis.

Penegasan ini disampaikan Advokat Senior NTB, Muhammad Ihwan atau yang akrab disapa Iwan Slenk dalam keterangan yang diterima media ini. Rabu (22/4/2026).

Menurut Iwan Slenk, dalam hukum acara pidana tidak semua pihak yang disebut dalam persidangan harus dihadirkan sebagai saksi. Ia menegaskan bahwa penyebutan nama dalam fakta persidangan tidak otomatis menjadi dasar pemanggilan, terutama jika tidak berkaitan langsung dengan peristiwa pidana.

“Tidak semua orang yang disebut dalam persidangan harus dipanggil. Hanya mereka yang memiliki pengetahuan langsung, mengalami, melihat, atau mendengar sendiri peristiwa pidana yang relevan untuk dihadirkan,” tegas Iwan Slenk.

Ia menjelaskan, relevansi saksi dalam hukum pidana ditentukan oleh keterkaitan langsung dengan unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. Tanpa hubungan tersebut, kehadiran seseorang dalam persidangan tidak memiliki urgensi pembuktian.

Baca Juga :  MotoGP Mandalika Tak Boleh Cuma Ramai Saat Balapan, Wagub NTB Dorong Ekonomi Bergerak Sepanjang Tahun

“Apabila seseorang berada di luar Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa pidana, maka kehadirannya tidak memiliki urgensi pembuktian,” ujarnya.

Dalam konteks perkara yang sedang berjalan, Iwan Slenk menilai fakta persidangan justru menunjukkan bahwa posisi Gubernur NTB tidak berkaitan dengan dugaan gratifikasi. Ia menegaskan bahwa keterlibatan gubernur hanya dalam ranah kebijakan program daerah.

“Fakta persidangan hanya menunjukkan bahwa Gubernur memberikan program dalam bentuk direktif kebijakan kepada anggota DPRD, bukan pemberian uang. Itu dua hal yang sangat berbeda secara hukum,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa unsur gratifikasi sepenuhnya berada pada relasi antara pemberi dan penerima yang diduga dilakukan oleh oknum anggota DPRD.

“Peristiwa pemberian dan penerimaan uang adalah kehendak masing-masing pihak. Itu merupakan perbuatan individual yang tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan Gubernur,” tegas Iwan Slenk.

Baca Juga :  MTQ XXXI NTB 2026 Resmi Dibuka, Lombok Tengah Usulkan Dana Bersama Rp10 Miliar untuk Syiar Al-Qur'an

Iwan Slenk juga merujuk pada fakta persidangan yang telah mengungkap keterangan dari sejumlah saksi kunci, termasuk pejabat pemerintah daerah yang menjelaskan mekanisme program secara utuh.

“Mengenai proses adanya pemberian program direktif sebagaimana disebut oleh beberapa saksi, hal tersebut telah jelas dan terang disampaikan dalam kesaksian Ketua BPKAD NTB, Nursalim, serta Firman selaku Kabid pada Bappeda NTB. Oleh karena itu, mendesak dan meminta Gubernur Iqbal untuk hadir memberikan keterangan sudah tidak lagi relevan,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar proses hukum tetap berjalan objektif dan tidak melebar ke spekulasi yang berpotensi mengaburkan substansi perkara.

“Menarik pihak yang tidak relevan hanya akan mengaburkan fokus pembuktian dan berpotensi menyesatkan proses peradilan,” pungkas Iwan Slenk.

Dengan demikian, menurutnya, secara prinsip hukum acara pidana, kehadiran Gubernur NTB dalam persidangan tidak memiliki dasar urgensi apabila tidak terdapat relevansi langsung dengan unsur tindak pidana yang didakwakan.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

58 Jemaah Umrah Gagal Berangkat, Badko HMI Bali-Nusra Desak Kemenhaj NTB Cabut Izin Travel Bermasalah
Sirkuit Mandalika Lolos Standar Tertinggi FIM, Raih Grade A, MotoGP Indonesia 2026 Siap Digelar
Lima Pembalap Dunia Sambangi Sekolah di Mandalika
Aktivis Kritik Berujung Tersangka, Pemuda Sasak Sentil Gubernur NTB: Rakyat Harus Diam?
MotoGP Mandalika, 160 Tenaga Medis Siaga, 12 Ambulans dan Helikopter Disiapkan
Enam Produk Unggulan NTB Siap Nembus Pasar Ekspor Lewat TEI 2026
Mori Hanafi Kembali Maju, Daftar Sebagai Calon Ketua KONI NTB 2026-2030
Marc Marquez Sebut Mandalika Seperti Rumah Kedua, Ribuan Warga Sambut Parade MotoGP di Mataram
Berita ini 148 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 04:05 WIB

58 Jemaah Umrah Gagal Berangkat, Badko HMI Bali-Nusra Desak Kemenhaj NTB Cabut Izin Travel Bermasalah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:22 WIB

Sirkuit Mandalika Lolos Standar Tertinggi FIM, Raih Grade A, MotoGP Indonesia 2026 Siap Digelar

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Lima Pembalap Dunia Sambangi Sekolah di Mandalika

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Aktivis Kritik Berujung Tersangka, Pemuda Sasak Sentil Gubernur NTB: Rakyat Harus Diam?

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:27 WIB

MotoGP Mandalika, 160 Tenaga Medis Siaga, 12 Ambulans dan Helikopter Disiapkan

Berita Terbaru

Lima pembalap Moto2 dan Moto3 Berinteraksi dan Berbagi Inspirasi dengan Siswa SDN 2 Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB, Kamis (8/10/2026).

Olahraga

Lima Pembalap Dunia Sambangi Sekolah di Mandalika

Kamis, 8 Okt 2026 - 15:53 WIB