NTB Genjot Penyelamatan Hutan, Proyek FOLU GCF Resmi Dimulai, Ini Mitranya

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jajaran Pemerintah dan Pemangku Kepentingan Menghadiri Kick-Off Meeting Implementasi Proyek FOLU RBP GCF di Mataram, NTB, Senin (26/10/2026). Kegiatan Ini Menjadi Bagian Dari Upaya Mendorong Penurunan Emisi, Memperkuat Tata Kelola Hutan, dan Membuka Peluang Pendanaan Karbon.

Jajaran Pemerintah dan Pemangku Kepentingan Menghadiri Kick-Off Meeting Implementasi Proyek FOLU RBP GCF di Mataram, NTB, Senin (26/10/2026). Kegiatan Ini Menjadi Bagian Dari Upaya Mendorong Penurunan Emisi, Memperkuat Tata Kelola Hutan, dan Membuka Peluang Pendanaan Karbon.

SUMBAWAPOST.com |™  Mataram-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengimplementasikan proyek Forestry and Other Land Use (FOLU) Result-Based Payment Green Climate Fund (RBP GCF) Output 2 Kategori Pemanfaatan II. Program ini diarahkan untuk mendorong penurunan Emisi, memperkuat Tata Kelola Hutan, serta menjaga keberlanjutan Lingkungan dan Ekonomi Masyarakat.

Kick-off meeting implementasi proyek tersebut digelar di Hotel Santika Mataram, Senin (26/10/2026). Dalam pelaksanaannya, Pemprov NTB menggandeng Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia (Relung Indonesia) sebagai mitra strategis program. Berdasarkan informasi yang di peroleh Yayasan tersebut terletak di Omah Relung, Kalipentung RT03/RW17, Kalitirto, Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB, Didik Mahmud Gunawan Hadi, menyatakan implementasi proyek FOLU RBP GCF menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola sektor kehutanan dan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan di NTB.

Baca Juga :  Pemprov NTB Apresiasi Temu Ilmiah dan Rakornas Apoteker Indonesia di Lombok

“Implementasi proyek FOLU RBP GCF ini menjadi momentum krusial untuk mendorong penurunan emisi sekaligus memperkuat resiliensi Ekosistem dan Ekonomi Masyarakat di NTB,” ujarnya.

Upaya memperkuat tata kelola hutan juga berkaitan dengan penyelesaian Konflik tenurial atau persoalan penguasaan dan pemanfaatan lahan. Persoalan ini dinilai tidak hanya menyangkut batas wilayahnya dan Legalitas, tetapi juga memiliki dampak terhadap iklim investasi serta Perekonomian Daerah.

Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat (PKTHA), Julmansyah, menegaskan bahwa konflik tenurial perlu mendapat perhatian karena dampaknya dapat meluas melampaui persoalan administrasi dan status lahan.

“Konflik tenurial itu bukan hanya persoalan batas ataupun legalitas, tetapi dampaknya bisa meluas terhadap Kepastian Iklim Investasi maupun Ekonomi di suatu Daerah,” kata Julmansyah. Rabu (28/10/2026)

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya penyelesaian konflik tenurial sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola kehutanan. Kepastian dalam pengelolaan lahan diharapkan dapat mendukung kepentingan masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Baca Juga :  Ekspor Tuna NTB ke Amerika Tembus 680 Ton, DKP Soroti Kendala Regulasi dan Zona Tangkap

Dengan demikian, upaya penyelamatan hutan tidak hanya berfokus pada perlindungan ekosistem dan penurunan emisi, tetapi juga perlu memperhatikan kepastian pengelolaan kawasan serta penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan masyarakat.

Sementara itu, Direktur Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Dr. Joko Tri Haryanto, menegaskan bahwa kick-off meeting proyek FOLU RBP GCF bukanlah akhir dari upaya pengembangan pendanaan lingkungan di NTB.

Menurutnya, kegiatan tersebut justru menjadi modal awal bagi pemerintah daerah untuk memperkuat peluang memperoleh sumber pendanaan karbon lainnya pada masa mendatang.

“Kick-off hari ini bukanlah sebuah akhir, melainkan modal kekuatan agar Pemerintah Provinsi NTB dapat menjaring dana-dana karbon lainnya di kemudian hari,” kata Joko.

 

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Tragedi Udayana: Pelajar 14 Tahun Tewas Dibacok, 13 Terduga Pelaku Diamankan, 10 Masih Anak-anak
Yanuar Fikri Tiba di NTB, Disnakertrans Jemput Langsung di Bandara, Tak Sekadar Urus Pemulangan
Kongres Internasional Bahasa Sasak Dorong Reformasi, dari Bahasa Sehari-hari Menuju Bahasa Ilmu
Wagub NTB Buka Kongres Internasional I Bahasa Sasak di Momentum Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda ke-98, Sekda NTB Soroti Kekerasan Remaja
Pascaoperasi Narkoba di Karang Bagu, Polda NTB Turun Beri Pembinaan kepada Warga
Keluarga Mengadu ke PWI NTB, Yanuar Fikri PMI Diduga Korban TPPO Segera Pulang ke NTB
35 Ribu Warga NTB Tinggalkan Kampung Halaman untuk Jadi PMI pada 2025, Ini Daerah Asalnya
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:36 WIB

NTB Genjot Penyelamatan Hutan, Proyek FOLU GCF Resmi Dimulai, Ini Mitranya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Tragedi Udayana: Pelajar 14 Tahun Tewas Dibacok, 13 Terduga Pelaku Diamankan, 10 Masih Anak-anak

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Yanuar Fikri Tiba di NTB, Disnakertrans Jemput Langsung di Bandara, Tak Sekadar Urus Pemulangan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Kongres Internasional Bahasa Sasak Dorong Reformasi, dari Bahasa Sehari-hari Menuju Bahasa Ilmu

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Wagub NTB Buka Kongres Internasional I Bahasa Sasak di Momentum Sumpah Pemuda

Berita Terbaru