Muazzim Bongkar Dapur Gelap PMI NTB: Paspor Sebulan, Nama Baru Semalam, Jalur Laut Secepat Ojek Online-LTSA Tetap Tidur

Avatar

- Jurnalis

Kamis, 20 November 2025 - 16:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana pertemuan di Hotel Lombok Astoria mendadak berubah dinamis ketika Anggota Komisi IX DPR RI, H Muazzim Akbar, mulai membongkar apa yang ia sebut sebagai ‘Dapur Gelap’ persoalan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB. Dengan gaya bicara lugas dan pengalaman panjang belasan tahun di sektor penempatan PMI, H Muazzim memaparkan realitas yang mencengangkan dihadapan Wakil Gubernur NTB Hj Indah Dhamayanti Putri, mulai dari proses Paspor yang memakan waktu sebulan, praktik penggunaan identitas baru dalam semalam, hingga jalur laut ilegal yang disebutnya lebih cepat dari pelayanan resmi, sementara LTSA justru dibiarkan mati suri.

SUMBAWAPOST.com | Mataram-Suasana ruang pertemuan di Hotel Lombok Astoria, Kamis 20 November 2025, mendadak menghangat. Bukan karena pendingin ruangan yang bermasalah, tetapi karena gaya bicara lugas dan apa adanya dari Anggota Komisi IX DPR RI Dapil NTB II Pulau Lombok, H Muazzim Akbar S.IP, bersama sejumlah rombongan anggota DPR RI Komisi IX yang dengan tegas membedah problem klasik namun selalu aktual tentang pekerja migran Indonesia (PMI) asal NTB.

Di hadapan Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, jajaran Komisi IX DPR RI, pejabat Kemnaker, BP2MI, BPJS, Kementerian Tenaga Kerja, hingga perwakilan daerah, H Muazzim Akbar menghadirkan perspektif yang jarang terdengar. Pandangan seorang legislator yang sudah bertahun-tahun berjibaku langsung dalam urusan penempatan dan perlindungan PMI. Forum yang awalnya formal berubah menjadi lebih hidup bahkan kritis ketika H Muazzim Akbar, mulai mengurai realitas lapangan tanpa tedeng aling-aling.

Sejak awal, ia mengawali dengan penghormatan kepada Wakil Gubernur dan pejabat yang hadir. Namun tak lama kemudian, arah pembahasan melaju pada isu inti seperti tingginya jumlah PMI asal NTB, termasuk mereka yang berangkat secara nonprosedural.

Baca Juga :  637 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di NTB Jadi Sorotan, Pemprov Siapkan Aplikasi Aduan Cepat

Tahun ini, ungkapnya, sekitar 30 ribu warga NTB berangkat bekerja ke luar negeri. Totalnya mencapai 60 ribu PMI yang tersebar di berbagai negara.

“NTB ini tidak punya industri besar seperti Jawa. Pilihan masyarakat untuk keluar dari pengangguran ya bekerja ke luar negeri,” ujarnya.

H Muazzim Akbar juga mengapresiasi pemerintah pusat dan mitra kerja Komisi IX yang tahun ini membantu hampir 60 ribu keluarga di NTB melalui beragam program ketenagakerjaan.

Namun, akar persoalan PMI ilegal menurutnya sangat jelas. Ada dua faktor besar seperti, Untuk berangkat resmi, kata Muazzim, calon PMI minimal harus menunggu tiga bulan. Mulai dari pembuatan paspor sebulan, verifikasi data, visa kerja, hingga penempatan.

“Di lapangan, masyarakat butuh cepat. Ada yang datang ke rumah, merayu, dan bilang ‘berangkat hari ini bisa’. Ya mereka akhirnya tergoda,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tren PMI yang kabur dari majikan di Malaysia, lalu bekerja ilegal di perkebunan.

Akibatnya, mereka diblacklist oleh sistem imigrasi. Saat ingin kembali, mereka tak bisa memakai identitas asli.

“Jadilah mereka berangkat lewat jalur gelap. Pakai kapal laut, pakai nama baru. Ini fakta yang terjadi,” tegasnya.

Muazzim kemudian menyoroti mandeknya Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) yang dulu mempercepat proses PMI karena berbagai instansi disatukan dalam satu gedung.

“Kalau LTSA ini aktif, proses bisa jauh lebih cepat. Tidak perlu lagi masyarakat menunggu panjang,” katanya.

Ia juga mengkritisi moratorium penempatan PMI ke Timur Tengah yang menurutnya justru ikut menggiring masyarakat memilih jalur ilegal.

“Permintaan tinggi, tetapi jalurnya ditutup. Akhirnya mereka tetap berangkat lewat cara-cara yang tidak aman,” ujarnya.

Baca Juga :  Peduli Tanpa Henti, DPR RI Sari Yuliati Kembali Banjiri Bantuan Korban Banjir ke Warga Mataram

Setiap bulan, sebutnya, masih banyak warga NTB yang dipulangkan dari Arab Saudi, sebagian besar korban pengiriman nonprosedural oleh oknum.

Dalam forum itu, H Muazzim Akbar mengungkapkan rekam jejak panjangnya di dunia PMI.

Selama 13 tahun, jauh sebelum kewenangan perlindungan beralih ke BPJS Ketenagakerjaan, ia adalah pengelola asuransi perlindungan PMI secara nasional.

“Saya tahu persis persoalan PMI, dari saya jadi PJTKI, dari proses asuransinya, sampai pola penempatan. Bahkan anak saya pun bekerja di BP3MI,” tuturnya.

Ia menilai Presiden Prabowo menunjukkan komitmen besar terhadap sektor ini melalui pembentukan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, kementerian baru yang khusus menangani nasib PMI.

Namun, di sisi lain, ia menyebut ironi bahwa BP2MI justru memiliki anggaran paling kecil dibanding instansi pusat lainnya. “Nanti kita akan perjuangkan penambahannya. Harus besar, karena beban kerjanya besar,” tegasnya.

Mengakhiri pemaparannya, H Muazzim Akbar menekankan bahwa persoalan PMI tidak dapat dipikul sepihak.

“Butuh kerja bersama, termasuk aparat di bandara, imigrasi, dan semua lembaga terkait. Kalau mau cegah PMI ilegal, kita harus kompak dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Sejumlah undangan yang hadir yakni Wakil Gubernur NTB, Perwakilan Kapolda NTB, Perwakilan Walikota Mataram, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi NTB, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, Kapolresta Mataram, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Mataram, Kepala Imigrasi I TPI Mataram, Kepala BPJS Ketenagakerjaan NTB, Kepala BP3MI NTB, APJATI NTB, APJATI Kota Mataram, Serikat Buruh Migran Indonesia NTB (SBMI NTB), Serikat Buruh Migran Indonesia Kota Mataram

 

 

Berita Terkait

14 Tahun Terbengkalai, YAPPIKA dan YISA Ambalawi Hadirkan Perpustakaan Baru di SDN Sowa, Wabup Bima Beri Apresiasi
YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi Sulap Perpustakaan Rusak Jadi Ruang Belajar Anak Bima
YAPPIKA ActionAid Bersama YISA Bongkar Rendahnya Literasi Siswa Bima, Program Sekolah Aman Jadi Solusi Nyata
Perpustakaan SDN Sowa Direvitalisasi, Jadi Ruang Tumbuh Baru Literasi Anak Pesisir Bima
Di Tengah Mandalika yang Mendunia, Warga Krisis Air Bersih dan Rumah Layak Huni, Sari Yuliati Turun Langsung
NTB Kebagian 30 Cabor PON 2028, Persiapan Dikebut: Tak Mau Sekadar Tuan Rumah, Targetkan Warisan Jangka Panjang
NTBCare Tepis Isu Rp31 Miliar, Direktur Tegaskan Kami Bukan Pengelola Uang, Itu Hoaks Kelas Sampah
BPS NTB Ungkap Lonjakan Wisatawan hingga 1,39 Juta, Okupansi Hotel Justru Turun
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 22:45 WIB

14 Tahun Terbengkalai, YAPPIKA dan YISA Ambalawi Hadirkan Perpustakaan Baru di SDN Sowa, Wabup Bima Beri Apresiasi

Senin, 11 Mei 2026 - 19:20 WIB

YAPPIKA ActionAid dan YISA Ambalawi Sulap Perpustakaan Rusak Jadi Ruang Belajar Anak Bima

Minggu, 10 Mei 2026 - 22:34 WIB

YAPPIKA ActionAid Bersama YISA Bongkar Rendahnya Literasi Siswa Bima, Program Sekolah Aman Jadi Solusi Nyata

Minggu, 10 Mei 2026 - 21:24 WIB

Perpustakaan SDN Sowa Direvitalisasi, Jadi Ruang Tumbuh Baru Literasi Anak Pesisir Bima

Selasa, 5 Mei 2026 - 20:12 WIB

Di Tengah Mandalika yang Mendunia, Warga Krisis Air Bersih dan Rumah Layak Huni, Sari Yuliati Turun Langsung

Berita Terbaru