NTB ‘Sesak Napas,’ Badko HMI Bali-Nusra Bongkar Ketimpangan di Balik Mimpi Makmur Mendunia

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terlihat suasana diskusi publik Badko HMI Bali-Nusra di Kota Mataram yang membahas ketimpangan pembangunan NTB, dihadiri Pemerintah, Akademisi, dan Aktivis.

Terlihat suasana diskusi publik Badko HMI Bali-Nusra di Kota Mataram yang membahas ketimpangan pembangunan NTB, dihadiri Pemerintah, Akademisi, dan Aktivis.

SUMBAWAPOST.com| Mataram- Di tengah narasi besar ‘Makmur Mendunia’, suara kritis justru mengemuka. Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Bali-Nusa Tenggara (Badko HMI Bali-Nusra) membedah ketimpangan pembangunan di Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui diskusi publik bertajuk ‘Menakar Ikhtiar Pemprov NTB dalam Melakukan Perimbangan Pembangunan’, Kamis (30/04/2026) malam.

Bertempat di Meeino Warking, Kota Mataram, forum ini menjadi ruang temu gagasan antara pemerintah, akademisi, dan aktivis.

Diskusi tidak hanya menyoroti capaian, tetapi juga menguji sejauh mana arah pembangunan benar-benar menyentuh akar persoalan masyarakat.

Ketua Umum Badko HMI Bali-Nusra, Caca Handika, menegaskan bahwa setiap kebijakan tidak boleh berhenti pada simbol fisik semata, melainkan harus dikawal agar berdampak nyata.

“Langkah-langkah Pemerintah dengan berbagai program perlu dikawal, yang baik kita awasi, dan yang kurang kita kritisi, demi mewujudkan NTB Makmur Mendunia,” tegas Caca dalam sambutannya.

Dari sisi pemerintah, Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si, menegaskan bahwa arah pembangunan sejatinya telah tersusun secara sistematis dalam dokumen perencanaan.

“Intervensi kebijakan terkait pembangunan di Pulau Sumbawa sebenarnya sudah tersusun rapi dalam dokumen RPJMD maupun RPJMN. Secara kuantitas dan alokasi anggaran, kita telah berupaya menjaga proporsi yang adil dan sistematis,” ujar Nelly.

Baca Juga :  Desa-Desa Ini Bikin Bangga! Bank NTB Syariah Kasih Penghargaan, Digitalisasi Keuangan Tak Lagi Sekadar Wacana

Ia juga memastikan bahwa komitmen tersebut telah terakomodasi dalam buku saku pembangunan daerah. Namun, pertanyaan besarnya, sejauh mana dokumen itu benar-benar terwujud di lapangan?

Persoalan mulai terasa ketika realitas fiskal dibuka. Akademisi Universitas Bima Internasional, Dr. Alfisahrin, M.Si, mengungkap tekanan serius terhadap keuangan daerah.

Pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp1,4 triliun membuat ruang gerak APBD yang tersisa sekitar Rp6,4 triliun semakin sempit.

“Problem besarnya adalah eksekusi di tengah ruang fiskal yang minim. Pemangkasan anggaran pusat ini menyulitkan pemerintah untuk bersikap rasional antara menangani infrastruktur yang kritis atau pelayanan publik dasar yang sama mendesaknya,” urai Dr. Alfi.

Kondisi inilah yang memunculkan istilah ‘NTB Sesak Napas,’ ruang fiskal terbatas, sementara kebutuhan pembangunan terus mendesak.

Di sisi lain, persoalan mendasar justru terletak pada kualitas sumber daya manusia. Direktur LPW NTB, Taufan, S.H., M.H., menilai ketimpangan pembangunan tidak bisa dilepaskan dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

Baca Juga :  Terima Audiensi Republik Rakyat Tiongkok, Pj Gubernur Hassanudin Promosikan Keindahan NTB

Data menunjukkan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) di NTB masih berada di angka 7,74 tahun, setara kelas 1-2 SMP.

“Kita bicara perimbangan pembangunan, tapi bagaimana masyarakat bisa seimbang jika pendidikannya rendah? RLS kita setara kelas 1 atau 2 SMP. Akibat literasi lemah, warga di hulu terpaksa melakukan alih fungsi lahan secara masif demi bertahan hidup karena tidak punya pilihan keahlian lain,” ungkap Taufan.

Menurutnya, pembangunan tidak boleh semata berorientasi fisik, tetapi harus dilihat sebagai bentuk keadilan pelayanan negara.

“Fokus pembangunan pendidikan dan SDM, serta kesediaan infrastruktur pendukung seperti jalan dan akses informasi hingga pelosok,” ujar Taufan lebih lanjut.

Sementara, PTKP Badko HMI Bali-Nusra David Putra Al-Fatih menegaskan, bahwa pola pembangunan konvensional yang cenderung Lombok-sentris tidak lagi relevan di tengah tekanan fiskal dan ketimpangan wilayah.

“Ke depan, tantangan terbesar pemerintah daerah bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi memastikan manfaatnya dirasakan merata hingga ke pelosok Pulau Sumbawa,”ungkapnya.

“Ujian sesungguhnya ada pada keberanian menggeser paradigma dari pembangunan yang terlihat megah, menuju pembangunan yang benar-benar menghadirkan kesejahteraan dan menyetuh sendi-sendi kehidupan masyarakat,”tutupnya.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan
HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak
Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat
Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik
Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan
Maluku Utara ‘Berguru’ ke NTB, Belajar Jurus Kelola Laut
Mori Hanafi Tagih Janji Pemerintah, Desak Kepastian Dana Gedung DPRD NTB 2027
ASN Dinas Pertanian NTB Disorot, Ada yang Tak Masuk Kerja hingga 93 Hari
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan

Jumat, 4 September 2026 - 15:05 WIB

HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak

Jumat, 4 September 2026 - 11:26 WIB

Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat

Jumat, 4 September 2026 - 10:00 WIB

Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik

Jumat, 4 September 2026 - 01:10 WIB

Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan

Berita Terbaru