SUMBAWAPOST.com|Mataram- Isu kualitas pendidikan kembali menjadi sorotan publik menyusul dirilisnya hasil evaluasi nasional yang menunjukkan masih lebarnya kesenjangan capaian akademik antar daerah, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB). Temuan tersebut menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak bisa lagi ditunda dan membutuhkan langkah serius, terencana, serta berbasis evaluasi menyeluruh dari seluruh pemangku kepentingan.
Menanggapi hal itu, Senator DPD RI asal NTB, Mirah Midadan Fahmid, memberikan perhatian serius terhadap hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Dalam data tersebut, rata-rata nilai siswa SMA/SMK sederajat di NTB hanya mencapai 36,80, tertinggal cukup jauh dari rata-rata nasional sebesar 46,70. Bagi Senator Mirah, capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kualitas pendidikan di NTB memerlukan pembenahan yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.
“TKA bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kualitas proses pembelajaran, kesiapan tenaga pendidik, serta ekosistem pendidikan secara keseluruhan,” ujar Mirah dalam keterangan yang diterima media ini. Selasa (30/12/2025).
Ia menegaskan bahwa hasil ini harus dipahami sebagai peringatan dini bagi pemerintah daerah, khususnya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Menurutnya, respons yang dibutuhkan bukan sikap defensif, melainkan menjadikan data tersebut sebagai bahan evaluasi menyeluruh untuk perbaikan sistem pendidikan.
“Tentu ini menjadi alarm bagi kita semua. Hasil TKA harus menjadi pelecut semangat untuk bekerja lebih serius dalam meningkatkan kualitas pendidikan di NTB, bukan sekadar rutinitas administratif,” tegas Senator Mirah.
Senator Mirah menekankan bahwa perbaikan kualitas pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, tenaga pendidik, orang tua, hingga dunia usaha, agar upaya peningkatan mutu pendidikan berjalan efektif dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa TKA dirancang sebagai instrumen evaluasi nasional untuk mengukur penguasaan kompetensi akademik siswa. Pada jenjang SMA/MA/SMK, TKA menguji mata pelajaran inti seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, serta mata pelajaran pilihan sesuai minat dan jurusan siswa.
“Rendahnya capaian NTB menunjukkan adanya tantangan serius baik pada penguasaan literasi, numerasi, maupun kemampuan berpikir kritis siswa, ini harus jadi atensi kita bersama,” kata senator asal NTB tersebut.
Lebih lanjut, Mirah menyoroti peningkatan kualitas guru sebagai kunci utama perbaikan pendidikan. Ia mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pelatihan guru secara berkelanjutan, memastikan distribusi tenaga pendidik yang lebih merata, serta mendorong metode pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan siswa, bukan semata mengejar ketuntasan kurikulum.
“Saya menilai masih adanya kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan di NTB yang perlu ditangani dengan kebijakan afirmatif,” ujarnya.
Selain sumber daya manusia, Senator Mirah juga menekankan pentingnya dukungan infrastruktur dan lingkungan belajar yang memadai. Menurutnya, banyak sekolah di NTB, khususnya di daerah terpencil, masih menghadapi keterbatasan sarana belajar, akses teknologi, serta bahan ajar yang relevan. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam mendorong transformasi pendidikan.
“Saya mendorong agar pemerintah daerah memanfaatkan data TKA secara lebih mendalam untuk menyusun kebijakan. Analisis per mata pelajaran, per wilayah, dan per jenjang harus dilakukan agar intervensi yang dirancang tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi agenda prioritas daerah, mengingat dampaknya yang sangat besar terhadap daya saing sumber daya manusia NTB di masa depan.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Jika kita ingin NTB maju dan mampu bersaing secara nasional maupun global, maka peningkatan kualitas pendidikan tidak boleh ditunda,” tutup Senator Mirah.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










