NTB Gas Ekonomi Biru Lewat NSDL, Tapi Masih Tersandera Data dan SDM

Avatar

- Jurnalis

Kamis, 2 April 2026 - 09:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim saat menghadiri Lokakarya Nasional Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) di Bogor.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim saat menghadiri Lokakarya Nasional Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) di Bogor.

SUMBAWAPOST.com| Bogor- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengakselerasi implementasi ekonomi biru melalui pengembangan Neraca Sumber Daya Laut (NSDL). Namun, di tengah ambisi tersebut, persoalan klasik berupa keterbatasan data dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan utama.

Upaya ini mengemuka dalam Lokakarya Nasional NSDL yang digelar di Bogor, Senin (30/3/2026), sebagai bagian dari rangkaian Road to Ocean Impact Summit (OIS) dan forum South-South Ocean Accounting Exchange (SSOAE).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, hadir sebagai panelis dalam forum tersebut. Kegiatan ini bertujuan memperkuat implementasi kebijakan ekonomi biru, mendorong pertukaran praktik terbaik antarnegara berkembang, serta membangun jejaring kerja sama lintas kawasan.

Agenda lokakarya mencakup pembahasan capaian dan tantangan implementasi NSDL di Indonesia, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah dalam mendukung RPJMN 2025-2029, integrasi NSDL dalam rencana aksi keanekaragaman hayati, hingga peran NSDL dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui pemetaan ekosistem karbon biru dan skema pendanaan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Muslim menegaskan bahwa NSDL memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan nasional sekaligus arah kebijakan daerah.

Baca Juga :  Pilgub NTB 2024: Relawan Zul-Uhel Tingkatkan Eskalasi Gerakan Jelang Pencoblosan

“NSDL merupakan instrumen penting untuk mendukung capaian RPJMN 2025-2029 sekaligus visi NTB sebagai provinsi kepulauan yang makmur,”ungkap Muslim dalam keterangan yang diterima media ini, Kamis (2/4/2026).

Implementasi NSDL di NTB, kata dia, telah dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi non-pemerintah. Sejumlah langkah konkret juga mulai ditempuh, mulai dari pengawasan terpadu terhadap sekitar 80 persen kawasan konservasi, monitoring ekosistem pesisir seperti lamun, mangrove, dan terumbu karang, hingga pendataan ekosistem karbon biru.

Selain itu, pemerintah daerah tengah merancang pembentukan kawasan konservasi baru berbasis spesies serta memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan bimbingan teknis.

“Implementasi NSDL di Provinsi NTB dilakukan bersama NGO melalui pengawasan terpadu terhadap ±80% kawasan konservasi, monitoring ekosistem pesisir, serta penguatan kapasitas kelompok masyarakat,”terangnya.

Namun demikian, sambung ia percepatan implementasi NSDL belum sepenuhnya berjalan mulus. Muslim mengakui masih adanya sejumlah kendala mendasar, mulai dari belum tersedianya instrumen teknis yang memadai, koordinasi data yang masih parsial, hingga keterbatasan kapasitas SDM dalam metodologi penghitungan.

Baca Juga :  Bencana Tak Bisa Dihentikan, Tapi Bisa ‘Ditekuk’, Gubernur NTB Ajak Warga Siaga Total di HKB 2026

Di sisi lain, valuasi ekosistem juga belum sepenuhnya dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan. Kondisi ini membuat fungsi NSDL sebagai alat ukur sekaligus landasan pembangunan sektor kelautan dan perikanan belum optimal.

“Kondisi ini membuat penerapan NSDL belum optimal sebagai alat ukur maupun sebagai landasan kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan di daerah,”imbuhnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB mendorong sejumlah langkah strategis. Di antaranya pembentukan forum koordinasi reguler antara pemerintah pusat dan daerah, penyusunan roadmap NSDL yang terintegrasi dengan RPJMD dan RTRW, serta pengembangan platform data terpadu yang mampu menyelaraskan indikator nasional dan daerah.

“Dengan tahapan tersebut, NSDL diharapkan dapat berfungsi secara efektif sebagai fondasi ketahanan pangan biru dan penggerak utama ekonomi laut berkelanjutan,”Kata Muslim.

Melalui penguatan NSDL, NTB berharap arah pembangunan kelautan tidak lagi sekadar berbasis potensi, tetapi bertumpu pada data yang terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan, sejalan dengan ambisi menjadikan ekonomi biru sebagai penggerak utama pertumbuhan daerah.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Longsor Tambang Rakyat Lawang Tua Lantung Sumbawa, Tiga Pekerja Tewas Tertimbun
Gili Krisis Air, Gubernur NTB Miq Iqbal Minta Maaf kepada Warga dan Wisatawan
Krisis Air Gili Trawangan, Ratusan Tamu Hotel Disebut Check Out Lebih Awal
Gili Krisis Air, Gubernur NTB Miq Iqbal Kejar Diskresi Agar Air Kembali Mengalir
Nyaris Masuk Bui, Sepasang Kekasih Asal Bima di Mataram Pilih Berdamai
Gubernur Iqbal Ungkap Kondisi BUMD NTB: Tidak Sehat dan Sangat Tidak Sehat
APBD NTB Disorot, Belanja Operasional Tembus 77,81 Persen, Pegawai di Atas 31 Persen
Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 16:55 WIB

Longsor Tambang Rakyat Lawang Tua Lantung Sumbawa, Tiga Pekerja Tewas Tertimbun

Minggu, 6 September 2026 - 16:24 WIB

Gili Krisis Air, Gubernur NTB Miq Iqbal Minta Maaf kepada Warga dan Wisatawan

Minggu, 6 September 2026 - 15:13 WIB

Krisis Air Gili Trawangan, Ratusan Tamu Hotel Disebut Check Out Lebih Awal

Minggu, 6 September 2026 - 14:37 WIB

Gili Krisis Air, Gubernur NTB Miq Iqbal Kejar Diskresi Agar Air Kembali Mengalir

Minggu, 6 September 2026 - 10:39 WIB

Nyaris Masuk Bui, Sepasang Kekasih Asal Bima di Mataram Pilih Berdamai

Berita Terbaru

Sepasang kekasih Asal Bima di Mataram Yang Terlibat Persoalan Hukum Akhirnya Memilih Menyelesaikan Masalah Secara Damai.

Hukum & Kriminal

Nyaris Masuk Bui, Sepasang Kekasih Asal Bima di Mataram Pilih Berdamai

Minggu, 6 Sep 2026 - 10:39 WIB