SUMBAWAPOST.com| Mataram- Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat, kinerja subsektor peternakan di Nusa Tenggara Barat
(NTB) justru menunjukkan tren positif. Data terbaru mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor peternakan tetap berada di level aman, bahkan menguat pada Maret 2026.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Lalu Amjad, menghadiri rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang digelar di Aula Tambora Kantor Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat, Rabu (1/4/2026).
Dalam forum tersebut, sejumlah indikator strategis daerah dipaparkan, mulai dari inflasi, NTP, pariwisata, ekspor-impor, hingga transportasi.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat, Wahyudin, menjelaskan bahwa NTP merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani, termasuk peternak.
“NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani,” ujar Wahyudin dalam keterangan yang diterima media ini. Kamis (2/4/2026).
Ia menyebutkan, NTP subsektor peternakan pada Maret 2026 tercatat sebesar 113,54, atau meningkat 0,46 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
“NTP subsektor peternakan pada Maret 2026 sebesar 113,54. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 0,46 dari bulan sebelumnya,” kata Wahyudin.
Menurut dia, capaian tersebut mengindikasikan bahwa peternak di NTB masih berada dalam posisi surplus.
“Hal ini memiliki arti bahwa peternak di Provinsi NTB mengalami surplus atau keuntungan. NTP di atas 100 mencerminkan peningkatan daya beli dan kesejahteraan peternak yang lebih baik,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi sektor peternakan di NTB di tengah fluktuasi harga dan tekanan biaya yang terjadi di berbagai sektor ekonomi. Meski demikian, keberlanjutan tren ini tetap bergantung pada stabilitas harga, efisiensi produksi, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada peternak.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










