SUMBAWAPOST.com | Mataram- Ketua Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bali-Nusa Tenggara (Bali-Nusra), Caca Handika, menyoroti fenomena maraknya pujian yang diberikan kepada tokoh publik, termasuk Wakil Ketua DPR RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Sari Yuliati.
Menurutnya, apresiasi terhadap seorang pejabat publik merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa pujian seharusnya tidak berhenti pada popularitas atau pencitraan, melainkan harus diukur dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
“Pujian tentu sah-sah saja diberikan. Namun yang lebih penting adalah sejauh mana dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Ukuran keberhasilan seorang wakil rakyat bukan hanya popularitas atau posisi yang dimiliki, tetapi manfaat yang benar-benar sampai kepada rakyat,” ujar Caca Handika kepada wartawan, Sabtu (23/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Caca menyusul berbagai apresiasi yang belakangan diberikan kepada Sari Yuliati di ruang publik. Menurutnya, setiap penghargaan maupun pengakuan terhadap seorang politisi perlu dibarengi dengan evaluasi yang objektif terhadap kontribusi dan manfaat yang telah diberikan kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa masyarakat NTB berhak mengetahui dan menilai sejauh mana program, kebijakan, maupun perjuangan para wakil rakyat benar-benar memberikan dampak bagi pembangunan daerah.
“Kita harus membangun tradisi demokrasi yang sehat. Pujian jangan hanya berhenti pada pencitraan atau popularitas, tetapi harus dilihat dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat, pembangunan daerah, pendidikan, ekonomi, dan berbagai kebutuhan publik lainnya,” katanya.
Caca menilai NTB masih menghadapi berbagai tantangan mendasar, mulai dari kemiskinan, pengangguran, kualitas pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena itu, menurutnya, kehadiran wakil rakyat harus mampu menjawab persoalan tersebut melalui kerja yang terukur dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Rakyat membutuhkan kerja nyata. Mereka ingin melihat hasil, bukan hanya mendengar narasi keberhasilan. Karena pada akhirnya masyarakat sendiri yang akan menilai siapa yang benar-benar bekerja untuk kepentingan daerah,” tegasnya.
Meski demikian, Caca menegaskan bahwa pandangannya tidak dimaksudkan sebagai serangan personal terhadap individu tertentu. Ia menyebut kritik merupakan bagian dari kontrol sosial yang penting dalam menjaga kualitas demokrasi.
“Kritik bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Kritik adalah bentuk kepedulian agar setiap pejabat publik terus meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Caca, budaya demokrasi yang sehat harus memberikan ruang bagi apresiasi sekaligus evaluasi. Ia mengingatkan bahwa jabatan publik pada dasarnya merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui kinerja dan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Ia berharap seluruh wakil rakyat asal NTB, tanpa terkecuali, dapat terus memperkuat perannya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
“NTB membutuhkan lebih banyak kerja nyata, kolaborasi, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling banyak dipuji, tetapi siapa yang paling banyak memberi manfaat bagi rakyat,” pungkas Caca Handika.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










