Surga Wisata Kok Haus? Air Laut Melimpah, Air Bersih Langka, Gili Meno Menjerit Pak Gubernur

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 29 Oktober 2025 - 08:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah gemerlap pariwisata yang menjual birunya laut dan indahnya pasir putih, Gili Meno justru menjerit kehausan. Ironis, di pulau yang dikelilingi air laut melimpah, warga harus berebut setetes air bersih untuk hidup. Sudah hampir dua tahun krisis ini melanda, namun solusi dari pemerintah tak kunjung tiba. Surga wisata kok haus, Pak Gubernur?, begitu kira-kira suara lirih warga yang kini hanya bisa berharap pada janji dan pipa yang belum tersambung.

SUMBAWAPOST.com, Mataram- Di tengah gemerlap pariwisata tiga Gili, jeritan warga Gili Meno menggema lantang. Warga hidup di tengah laut, tapi kehausan. Aksi Aliansi Gerakan Rakyat Peduli (Garap) NTB pada Selasa (28/10/2025) menyoroti salah satunya yakni darurat air bersih dan kekeringan struktural yang menjerat warga pulau mungil itu selama hampir dua tahun.

Air bersih sejatinya hak asasi manusia. Pasal 9 ayat (1) UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, serta Resolusi Majelis Umum PBB 64/292 Tahun 2010, menegaskan bahwa akses terhadap air bersih adalah hak fundamental setiap orang. Namun di Gili Meno, hak itu berubah menjadi kemewahan.

Baca Juga :  Di Konferensi Internasional, Pj Gubernur NTB Promosi Keindahan Lombok-Sumbawa

Sejak pertengahan 2024, pasokan air dari PT GNE dan PT BAL terhenti total. Warga terpaksa membeli air galon dengan harga mahal, sementara hewan ternak mati kehausan. Di tengah penderitaan itu, proyek PT Tiara Cipta Nirwana (PT TCN) justru beroperasi melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk menyuling air laut menggunakan teknologi SWRO (seawater reverse osmosis). Ironisnya, aktivitas perusahaan itu disebut merusak sekitar 16 are terumbu karang di Gili Trawangan.

Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, mengaku sudah berkali-kali menyurati pemerintah agar segera bertindak. Namun, hingga kini, krisis tak juga berakhir.

“Sudah hampir dua tahun masyarakat mengalami krisis air bersih, padahal sudah bersurat berulang kali agar pemerintah mengambil tindakan untuk menyelesaikan krisis air bersih,” ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan 267 kepala keluarga, pemerintah sempat mengirimkan air dari daratan Lombok menggunakan kapal, tetapi jumlahnya masih jauh dari cukup.

Masrun menegaskan, warganya menolak segala bentuk proyek pemenuhan air bersih yang justru merusak lingkungan laut.

Baca Juga :  Puncak Nanga Tumpu, Destinasi Wisata Keren di Dompu

“Kami ini hidup dari laut. Kalau laut kami rusak akibat aktivitas perusahaan itu, apa yang akan kami jual kepada wisatawan? Kami tidak ingin kasus di Gili Trawangan terjadi di Gili Meno,” tegasnya.

Ia juga menyebut, pengeboran bawah laut yang dilakukan perusahaan telah merusak karang biru aset hayati yang menjadi nilai jual wisata Gili Meno. Karena itu, warga mengusulkan solusi sederhana yakni menyambungkan kembali pipa bawah laut dari Gili Air ke Gili Meno tanpa melibatkan pihak swasta.

Menanggapi hal itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyatakan akan segera mengambil langkah konkret. Salah satu yang akan dilakukan adalah dengan segera mengaktifkan satgas yang akan bekerja secara komprehensif mulai dari status tanah, pemanfaatan dan persoalan air bersih.  “Kita akan carikan solusi permanen masalah air ini,” kata Iqbal.

Dengan campur tangan pemerintah pusat dan komitmen daerah, warga Gili Meno berharap krisis yang menyesakkan itu segera berakhir agar air kembali mengalir, bukan hanya janji yang menguap di tengah terik pantai.

Berita Terkait

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan
HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak
Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat
Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik
Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan
Maluku Utara ‘Berguru’ ke NTB, Belajar Jurus Kelola Laut
Mori Hanafi Tagih Janji Pemerintah, Desak Kepastian Dana Gedung DPRD NTB 2027
ASN Dinas Pertanian NTB Disorot, Ada yang Tak Masuk Kerja hingga 93 Hari
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan

Jumat, 4 September 2026 - 15:05 WIB

HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak

Jumat, 4 September 2026 - 11:26 WIB

Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat

Jumat, 4 September 2026 - 10:00 WIB

Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik

Jumat, 4 September 2026 - 01:10 WIB

Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan

Berita Terbaru