SUMBAWAPOST.com, Mataram – Pemerintah Kota Mataram tengah bersiap menyambut kedatangan 25 duta besar asing dalam ajang Indonesia Gastrodiplomacy (bentuk diplomasi budaya yang menggunakan kuliner atau makanan tradisional sebagai sarana untuk memperkenalkan identitas, nilai, dan budaya suatu negara kepada dunia internasional) series 2025 yang akan digelar pada Jumat, 9 Mei mendatang.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Dr Cahya Samudra, S. STP., MH menegaskan bahwa momentum ini menjadi peluang emas untuk memperkenalkan pesona Kota Mataram, khususnya kawasan wisata Kota Tua Ampenan, ke mata dunia.
“Hampir di setiap sudut Kota Mataram harus kita harumkan, termasuk melalui Gerakan Wisata Bersih (GWB). Ini bagian dari upaya menciptakan kenyamanan bagi pengunjung sekaligus mendorong peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Cahya saat diwawancarai. Senin (5/5) saat menghadiri sebuah kegiatan kampanye kebersihan di Pantai Ampenan Kota Mataram bersama Kadispar NTB dan Poktekpar Lombok.
Para duta besar dijadwalkan tiba dan menginap di kawasan Senggigi, tepatnya di Merumatta Resort. Rangkaian acara akan dimulai pukul 09.00 WITA dan berlangsung hingga sekitar pukul 10.30 WITA, dengan titik fokus kunjungan wisata sejarah di Pantai Eks Pelabuhan Ampenan ikon peradaban modern pertama di Pulau Lombok.
Menurut Cahya, Pemkot Mataram telah melakukan berbagai persiapan. Dalam kunjungan selama kurang lebih 90 menit itu, para Dubes akan disambut secara istimewa dengan penggelaran karpet merah, penyematan sabuk khas, pemberian souvenir Kota Mataram, serta tarian barongsai sebagai simbol akulturasi budaya.
“Kenapa barongsai? Karena Ampenan adalah tempat bertemunya berbagai bangsa dan suku, yang membentuk warna-warni peradaban di wilayah timur Indonesia,” terang Cahya.
Setelah seremoni penyambutan, para tamu negara akan diajak walking tour (Tur Jalan Kaki) menyusuri sejarah Kota Tua Ampenan. Mereka akan mengunjungi berbagai titik penting dan bangunan bersejarah yang menyimpan narasi panjang tentang interaksi global yang pernah tumbuh subur di tanah Lombok.
“Kami berharap cerita sejarah ini bisa mereka bawa pulang sebagai bentuk promosi wisata Kota Mataram dan NTB ke negara masing-masing,” pungkas Cahya.










