SUMBAWAPOST.com, Mataram – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Bali Nusa Tenggara tengah bersiap menggelar sebuah forum intelektual yang dipastikan bakal membakar ruang publik NTB. Pada 1 Mei 2025 mendatang, mereka akan mengadakan Dialog Publik bertajuk “Potret NTB Buram”, yang diproyeksikan sebagai panggung kritik terhadap berbagai problem besar di Bumi Gora.
Sejumlah isu panas bakal disorot tajam: kondisi Bank NTB Syariah yang menuai pertanyaan, polemik tambang dan Tambak yang tak kunjung selesai, kontroversi reklamasi Pantai Amahami di Kota Bima, Soal Narkoba, pengeluaran SP3 Kasus Korupsi, kasus Persoalan Dana DAK, Soal Harga Jagung, dan sejumlah persoalan sosial lainya yang dinilai mencederai keadilan.
Ketua Umum Badko HMI Bali Nusra, Caca Handika, menyatakan bahwa forum ini bukan sekadar dialog biasa. Ini adalah bentuk keprihatinan mendalam terhadap berbagai persoalan yang selama ini dianggap “dibiarkan” oleh Pemerintah Daerah.
“Di tengah situasi keumatan dan kebangsaan hari ini, khususnya di NTB, kita melihat terlalu banyak masalah yang belum dituntaskan. Potret buram NTB ini tak bisa terus didiamkan,” tegas Caca. Kamis 24 April 2025.
Ia bahkan menyentil langsung duet kepemimpinan Iqbal-Dinda yang saat ini mengomandoi NTB. Menurutnya, jika tidak ada tindakan konkret, maka tagline kebanggaan “NTB Makmur Mendunia” hanyalah pemanis bibir belaka.
“Kami menuntut sikap tegas dari Gubernur dan seluruh jajaran. Jangan sampai NTB dikenang sebagai daerah dengan segudang masalah, tapi minim penyelesaian. Itu akan menjadi preseden buruk,” lanjutnya.
Kegiatan yang rencananya akan digelar dengan skala besar ini, akan menghadirkan para tokoh penting: Gubernur NTB, Kepala Kejaksaan, Kapolda NTB, DPRD, Pemuda Tani NTB hingga akademisi ternama. Harapannya, kehadiran mereka bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga menjadi ajang untuk membongkar, mengurai, dan menjawab isu-isu krusial yang selama ini menggantung di kepala publik NTB.
Dialog ini dipastikan akan menjadi panggung pertempuran argumentasi antara suara rakyat dan elite kekuasaan. Dan bisa jadi, akan menjadi pemantik perubahan arah kebijakan di NTB.
Siap-siap, 1 Mei bukan cuma Hari Buruh, tapi juga akan jadi Hari Kebangkitan Suara Kritis di NTB.









