Ketua GAMIS Bima Imam Mujahid Warning, Jangan Sampai ‘Raja-Raja Kecil’ Kembali Berkuasa di Pemerintahan Ady-Irfan

Avatar

- Jurnalis

Kamis, 6 Maret 2025 - 23:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMBAWAPOST.com, BIMA– Ketua Gerakan Muslim Anti Maksiat (GAMIS) Bima, Imam Mujahid, mengingatkan Bupati dan Wakil Bupati Bima, Ady-Irfan, agar tidak mengulangi kesalahan rezim sebelumnya. Ia menyoroti praktik buruk di pemerintahan sebelumnya, di mana tim sukses berubah menjadi “raja-raja kecil” yang mendikte pejabat, bahkan meminta mahar dalam birokrasi.

“Saya sampaikan ini berdasarkan informasi dan pengalaman saya sebagai aktivis serta pernah dipercaya sebagai kepala sekolah di sebuah yayasan di Bima,” ujarnya, Jum’at 7 Maret 2025.

Pungli dan Mahar Jabatan Masih Jadi Masalah Serius

Imam Mujahid mengungkapkan bahwa praktik pungutan liar (pungli) dan mahar jabatan bukanlah hal baru. Bahkan, ia sendiri pernah mengalaminya ketika menjabat sebagai kepala sekolah di yayasan swasta.

Baca Juga :  Datangi Kantor BBWS dan BPPW, Bupati Dompu Bambang ‘Gebrak Meja’ Tuntut Kepastian Proyek Irigasi dan SPAM MILA

“Saya lihat sendiri, kalau mau mencairkan dana BOS, harus ada rekomendasi dari pejabat terkait. Besar kecilnya mahar tergantung pada nilai dana BOS. Pernah teman saya menghubungi dan mengatakan bahwa kalau mau dapat rekomendasi, harus setor sejumlah uang,” bebernya.

Tak hanya itu, ia menegaskan bahwa jabatan di pemerintahan kerap diperjualbelikan dan tidak berdasarkan potensi, integritas, atau kemampuan seseorang.

“Sudah jadi rahasia umum, untuk mendapatkan jabatan harus pakai mahar. Ini bukan isapan jempol, hampir seluruh masyarakat tahu bagaimana birokrasi berjalan di rezim sebelumnya,” tambahnya.

Baca Juga :  Libur Nataru di NTB Ramai, Penumpang dan Penerbangan Melonjak Hingga 35 Persen

Harapan untuk Pemerintahan Ady-Irfan

Sebagai bentuk kecintaan terhadap kepemimpinan Ady-Irfan, Imam Mujahid meminta agar praktik semacam ini tidak kembali terulang.

“Saya menyarankan kepada Bupati dan Wakil Bupati agar melakukan mitigasi dini agar tradisi buruk ini tidak lagi terjadi di era kepemimpinan mereka,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa jika praktik politik transaksional dibiarkan, hal ini dapat mencederai visi perubahan yang selama ini dikampanyekan dengan jargon “Tanpa Mahar.”

“Kami berharap kepemimpinan Ady-Irfan benar-benar bersih dan tidak mengkhianati harapan masyarakat Bima. Masyarakat menunggu bukti nyata,” tegasnya.

Berita Terkait

Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Konsep FELDA Malaysia untuk Pertanian NTB
Willgo Zainar Kembali Pimpin HKTI NTB, Siap Perkuat Transformasi Pertanian Modern
Ketua MPW Pemuda Pancasila NTB Eddy Sophian Hadiri Pelantikan Hanura Se-NTB, Serukan Kolaborasi
Tenun NTB Curi Panggung di IFW 2026, Karya QV by Viviana Tuai Sorotan
PKN NTB Beri Selamat Pengurus Baru Hanura, Ajak Perkuat Kolaborasi Demi Kemajuan Daerah
Umi Dinda Curi Perhatian di Indonesia Fashion Week 2026, Promosikan Tenun NTB ke Panggung Nasional
Gubernur Iqbal Bongkar Peran Prabowo dan OSO di Balik Keputusannya Maju Pilgub NTB
Dihadiri Iqbal-Dinda, Hanura Pastikan Dukung Iqbal Jika Kembali Bertarung di Pilkada NTB
Berita ini 178 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:50 WIB

Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Konsep FELDA Malaysia untuk Pertanian NTB

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:27 WIB

Willgo Zainar Kembali Pimpin HKTI NTB, Siap Perkuat Transformasi Pertanian Modern

Minggu, 2 Agustus 2026 - 01:29 WIB

Ketua MPW Pemuda Pancasila NTB Eddy Sophian Hadiri Pelantikan Hanura Se-NTB, Serukan Kolaborasi

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 22:01 WIB

Tenun NTB Curi Panggung di IFW 2026, Karya QV by Viviana Tuai Sorotan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 21:45 WIB

PKN NTB Beri Selamat Pengurus Baru Hanura, Ajak Perkuat Kolaborasi Demi Kemajuan Daerah

Berita Terbaru