Harga Tiket Lebih Panas dari Cuaca, Pemerintah NTB Dingin Kayak Es Batu
SUMBAWAPOST.com, Mataram – Kenaikan harga tiket mudik yang menggila hingga dua kali lipat kembali membuat masyarakat menjerit. Sementara rakyat kesulitan untuk pulang kampung, Gubernur NTB, Miq Iqbal, justru asyik membangun citra di media sosial.
Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) NTB dengan tegas mengecam lonjakan harga tiket yang dinilai sebagai bentuk pembiaran pemerintah terhadap permainan harga oleh pengusaha transportasi.
Rakyat Tercekik, Pemerintah Cuek?
Ketua Umum DPD IMM NTB, Mahmud, menyayangkan naiknya harga tiket mudik dari Mataram ke Sumbawa, Dompu, dan Bima yang melonjak hingga dua kali lipat.
“Kader-kader kami yang mudik mengeluhkan lonjakan harga yang tidak masuk akal. Pemerintah provinsi ke mana selama ini? Katanya harga tiket dikontrol, tapi di lapangan justru rakyat yang jadi korban,” tegasnya.
Mahmud menduga ada praktik transaksi gelap antara Dinas Perhubungan (Dishub) NTB dan agen pemilik bus.
“Harga standar tiket bus hanya Rp180 ribu, tapi saat Ramadan naik jadi Rp440 ribu. Tidak mungkin pengusaha berani menaikkan harga tanpa restu dari Dishub. Ada permainan harga yang menghisap rakyat di sini,” paparnya dengan nada geram.
IMM NTB Sindir Gubernur: “Stop Pencitraan, Kerja Nyata Dong!”
Mahmud menilai kebijakan pemerintah provinsi tidak sebanding dengan daya beli masyarakat NTB.
“Pendapatan masyarakat tidak sebanding dengan kenaikan harga tiket ini. Kebijakan ini sama sekali tidak Apple to Apple. Pemerintah seolah menutup mata terhadap penderitaan rakyat. Kebijakan Pemprov NTB gagal kendalikan harga tiket,” sindirnya.
Ia juga menyoroti gaya kepemimpinan Miq Iqbal yang lebih sibuk membangun citra di media sosial ketimbang memastikan anak buahnya bekerja sesuai SOP.
“Pak Gubernur, cukup pencitraannya.Pak Gubernur cukup sudah selfienya. Jangan cuma sibuk tampil di media sosial. Lihat anak buahmu, kerja mereka benar atau tidak? Kalau tidak, evaluasi. Kalau tidak becus, pecat,” tegasnya.
Gagal Mudik, Mahasiswa Kecewa Berat
Akibat harga tiket yang melambung, banyak pelajar dan mahasiswa akhirnya gagal pulang kampung. Hal ini semakin menambah kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan Miq Iqbal yang dinilai lemah dalam mengambil kebijakan tegas untuk melindungi rakyat.
Fahrul, seorang mahasiswa Universitas Undikma Mataram, dengan nada kecewa mengungkapkan betapa menyakitkannya harus membatalkan kepulangannya ke kampung halaman.
“Harga tiket naik gila-gilaan. Dari Rp200 ribu jadi Rp400 ribu lebih! Saya sudah menabung, tapi tetap tidak cukup. Akhirnya saya tidak bisa pulang, sementara orang tua sangat berharap saya bisa berkumpul dengan keluarga saat Lebaran. Apa yang bisa saya lakukan sekarang?,” keluhnya.
Sampai Kapan Rakyat Harus Jadi Korban?
Fenomena ini terus berulang setiap tahun tanpa solusi nyata dari pemerintah. Jika tak ada tindakan tegas, rakyat hanya akan terus jadi korban permainan harga yang licik ini.
Terpisah, sbelumnya, Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan (Dishub) NTB, Chairy Chalidyanto, mengklaim bahwa harga tiket bus tahun ini “masih sama dengan tahun sebelumnya.” Namun, fakta di lapangan berkata lain.
Harga tiket non-eksekutif:
Mataram – Kabupaten Sumbawa Barat (KSB): Rp132.000
Mataram – Sumbawa: Rp200.000
Mataram – Dompu/Bima: Rp320.000
Harga tiket eksekutif:
Mataram – Bima (Super Eksklusif): Rp450.000
Mataram – Bima (Sleeper Bus): Rp525.000
“Jadi sebenarnya kenaikan ini sama seperti tahun lalu,” ujar Chairy.
Namun, masyarakat tak bisa menutupi kemarahan mereka.
“Katanya sudah ada aturan harga, tapi kok tetap naik gila-gilaan?!” protes seorang pemudik yang merasa kecewa.
Pemerintah Lemah, Mafia Tiket Merajalela?
Dishub NTB mengklaim bahwa harga tiket sudah diatur dalam Pergub NTB Nomor 550/635 Tahun 2022.
“Kami batasi harga sleeper maksimal Rp525 ribu,” ujar Chairy. Tapi siapa yang memastikan aturan ini benar-benar dijalankan?









