Dugaan 13.000 Dolar Per Kepala untuk Loyalitas, Dua Senator NTB Terseret Skandal Ketua DPD RI

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 3 Oktober 2025 - 10:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Uang selalu punya bahasa yang lebih nyaring dari idealisme. Skandal dugaan suap senilai 13.000 dolar per kepala dalam pemilihan Ketua DPD RI kini menyeret dua senator asal NTB. Koalisi Pemuda dan Rakyat NTB menyebut praktik ini bukan sekadar transaksi politik, melainkan pengkhianatan terhadap demokrasi dan wajah daerah yang mereka wakili.

SUMBAWAPOST.com, Mataram-Desakan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut tuntas dugaan suap dalam pemilihan Ketua DPD RI periode 2024-2029 kembali menggema di Kota Mataram. Jumat (3/10/2025), Koalisi Pemuda dan Rakyat NTB turun ke jalan menggelar aksi teatrikal jilid IV di simpang Bank Indonesia, pusat kota Mataram.

Dalam aksinya, massa memasang spanduk raksasa sepanjang 200 meter yang terbentang mencolok di jalan utama. Mereka menuntut KPK segera menindaklanjuti laporan yang menyeret nama dua anggota DPD RI asal NTB, yakni inisial MRF dan MMF

Kasus ini bermula dari laporan mantan staf DPD RI, Fithrat Irfan, yang mengungkap adanya praktik suap kepada sedikitnya 95 anggota DPD terkait pemilihan Ketua DPD RI 2024-2029.

Baca Juga :  Pj Gubernur NTB Minta OPD Masifkan Kerjasama Fokus Soal Narkoba dan Kekeringan

Menurut kesaksiannya, setiap anggota menerima USD 13.000 atau sekitar Rp200 juta, dengan rincian USD 5.000 untuk pemilihan Ketua DPD dan USD 8.000 untuk pemilihan Wakil Ketua MPR RI dari unsur DPD. Uang itu, kata Irfan, dibagikan secara door to door langsung ke ruang kerja para senator di Senayan.

Data yang dilaporkannya menyebut Papua menjadi penerima terbanyak (18 senator), disusul Sulawesi (14), Kalimantan (12), Sumatera (7), Kepri-Riau (7), NTB dan NTT (5), Banten-Jabar (5), Jawa Tengah (5), Maluku (4), Bengkulu (2), Jatim (1), dan DKI Jakarta (1).

Koordinator Koalisi Pemuda dan Rakyat NTB, Saidin Alfajari, menegaskan aksi jilid IV ini merupakan perlawanan terbuka terhadap praktik korupsi yang mencoreng demokrasi dan merusak citra NTB.

“Aksi ini kami lakukan sebagai bentuk kecaman. Berdasarkan data yang kami terima, ada dugaan kuat dua anggota DPD RI asal NTB menerima suap. Kami mendesak KPK segera mengungkap secara terang kasus ini,” tegas Saidin.

Baca Juga :  Senator Mirah Ajak Wujudkan Kepemimpinan Berbasis Pancasila: Jangan Sekadar Dihafal, Tapi Diamalkan

Meski mendapat tekanan untuk menghentikan aksi, pihaknya memastikan tidak akan mundur.

“Banyak yang meminta kami berhenti, tapi kami akan terus bergerak. Ini adalah perlawanan terhadap praktik korupsi yang mencederai demokrasi,” ujarnya lantang.

Hingga berita ini diturunkan, KPK belum menyampaikan perkembangan resmi terkait laporan dugaan suap tersebut. Namun informasi yang beredar menyebutkan, laporan sudah dilengkapi bukti transfer dan testimoni dari internal DPD.

Koalisi Pemuda dan Rakyat NTB memastikan aksi jilid IV bukan yang terakhir. Mereka berjanji akan menggelar aksi lanjutan dengan skala lebih besar sampai KPK memberikan penjelasan terbuka kepada publik.

“Korupsi adalah pengkhianatan terhadap rakyat. Kami akan terus mengawal kasus ini sampai ada kepastian hukum,” tutup Saidin.

Berita Terkait

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan
HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak
Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat
Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik
Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan
Maluku Utara ‘Berguru’ ke NTB, Belajar Jurus Kelola Laut
Mori Hanafi Tagih Janji Pemerintah, Desak Kepastian Dana Gedung DPRD NTB 2027
ASN Dinas Pertanian NTB Disorot, Ada yang Tak Masuk Kerja hingga 93 Hari
Berita ini 95 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 17:54 WIB

Dompu Dapat Rapor Merah KPK, Tata Kelola Pemerintahan Era Bambang Firdaus Dipertanyakan

Jumat, 4 September 2026 - 15:05 WIB

HMI Dompu Resmi Laporkan Rekomendasi Fraksi DPRD, BK Diminta Bertindak

Jumat, 4 September 2026 - 11:26 WIB

Gubernur NTB Iqbal Ungkap Banyak Aset Provinsi Tak Tercatat dan Belum Bersurat

Jumat, 4 September 2026 - 10:00 WIB

Gubernur Iqbal Bongkar Sistem Pendapatan NTB: Buruknya Secara Sistemik

Jumat, 4 September 2026 - 01:10 WIB

Kader Jaelani-Marga Harun Mulai Disandingkan untuk 2029, Peta Politik Dompu Kembali Jadi Sorotan

Berita Terbaru