DPRD NTB Diduga ‘Dibungkam’ Eksekutif, Fungsi Kontrol Dipertanyakan

Avatar

- Jurnalis

Senin, 15 Desember 2025 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Anggota DPRD NTB periode 2019-2024, TGH Najamuddin Mustafa

Mantan Anggota DPRD NTB periode 2019-2024, TGH Najamuddin Mustafa

SUMBAWAPOST.com | Mataram-Mantan Anggota DPRD NTB periode 2019-2024, TGH Najamuddin Mustafa, melontarkan kritik keras terhadap kinerja DPRD NTB periode saat ini. Ia menilai lembaga legislatif gagal menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan eksekutif dan menduga adanya pembungkaman sistematis yang membuat berbagai kegaduhan anggaran luput dari pengawasan.

Menurut Najamuddin, persoalan ini berawal dari pembengkakan anggaran besar-besaran yang dilakukan pihak eksekutif, namun tidak mendapat respons kritis dari DPRD. Padahal, secara konstitusional DPRD memiliki hak bertanya, hak interpelasi, dan fungsi pengawasan yang kuat.

“Ini bukan soal mencurigai, tapi menduga. Terjadi pembengkakan anggaran besar-besaran oleh eksekutif, tapi DPRD tidak melakukan kritik sama sekali. Padahal ini menyangkut Peraturan Gubernur Nomor 02 dan 06 yang menimbulkan hiruk-pikuk di publik,” ujar Najamuddin kepada media ini, Senin (25/12/2025).

Ia menegaskan, kegaduhan tersebut seharusnya menjadi pintu masuk bagi DPRD untuk memanggil Pemerintah Provinsi NTB dan meminta penjelasan secara terbuka. Namun, sikap kelembagaan DPRD justru dinilainya pasif.

“Tidak ada satu pun sikap kelembagaan DPRD. Fungsi kontrol tidak dijalankan. Bahkan ruang untuk menggunakan hak interpelasi pun tidak dimanfaatkan,” tegasnya.

Baca Juga :  Urus Pemuda Saja Gagal, Kok Mau Urus Asprov PSSI? Badko HMI Bali Nusra Kritik Ketua KNPI NTB

Kejanggalan semakin menguat, lanjut Najamuddin, ketika mencuat pengembalian uang lebih dari Rp2 miliar oleh sejumlah anggota DPRD yang disebut-sebut sebagai dana siluman.

Tidak hanya itu, setelah ditelusuri, dana tersebut diduga bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) yang telah dieksekusi lebih dahulu oleh Pemerintah Provinsi NTB.

“BTT itu sudah dieksekusi jauh sebelum kegaduhan di DPRD muncul. Bahkan nilainya jauh lebih besar, mencapai ratusan miliar. DPRD baru ribut setelah dana itu habis dibagi,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, pada awalnya hanya segelintir anggota DPRD yang mengetahui adanya pergeseran anggaran tersebut. Namun, setelah informasi itu menyebar di internal lembaga, barulah muncul kegaduhan yang berujung pada inisiatif pergeseran anggaran DPRD, yang menurutnya patut diduga sebagai bentuk imbalan.

“Ini yang saya lihat sebagai bentuk pembungkaman. Eksekutif memegang anggaran, lalu membuka ruang-ruang tertentu, sehingga DPRD kehilangan keberanian untuk mengontrol,” kata Najamuddin.

Hingga kini, menurutnya, tidak terlihat langkah serius DPRD, baik secara personal maupun kelembagaan, untuk mempertanyakan kegaduhan anggaran tersebut, termasuk dugaan dana siluman, penggunaan BTT, maupun sejumlah program yang dinilai janggal.

Najamuddin pun mendesak DPRD NTB agar segera membersihkan diri dengan berani menggunakan hak konstitusionalnya secara terbuka.

Baca Juga :  Meski Masih Ditahan, Kasus 6 Aktivis DOB PPS Cipayung Plus Bima Berakhir Damai, DPRD NTB Angkat Bicara

“Kalau DPRD merasa hebat dan ingin bersih, panggil Gubernur lewat hak interpelasi dalam rapat paripurna. Tanyakan secara terbuka bagaimana BTT dieksekusi, bagaimana dana-dana ini bisa muncul, dan mengapa terjadi pengembalian uang,” tegasnya.

Ia juga memperingatkan potensi munculnya program-program fiktif bernilai miliaran rupiah jika fungsi kontrol DPRD terus dibiarkan lumpuh.

“Hari ini yang dipertontonkan ke publik adalah pengembalian uang oleh sekitar 15 anggota DPRD. Tapi ini belum selesai. Dugaan kami, dari skema BTT ini akan muncul program-program fiktif bernilai miliaran rupiah,” pungkas Najamuddin.

Pada kesempatan tersebut, Najamuddin Mustafa juga mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera menyusuri berbagai kejanggalan tersebut. Ia meminta APH menindaklanjuti secara serius dugaan-dugaan yang ada agar fakta sebenarnya dapat terungkap.

“APH harus serius dan saya ingatkan agar tidak bermain-main dalam perkara tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, terkait pernyataan tersebut, pimpinan DPRD NTB, yakni Wirajaya, H. Muzihir, dan Yik Agil, telah dihubungi media ini. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi yang disampaikan.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Ketua IKA Unram Isvie Rupaeda Tegaskan Kampus Harus Aman dari Kekerasan Seksual
Ketua IKA Unram Isvie Ungkap Resep Sukses ke Maba, dari Dosen hingga Jadi Ketua DPRD NTB
Bukan Sekadar Cari Gelar, Ini Pesan Dekan FHISIP Unram untuk Mahasiswa Baru di PKKMB
Dugaan Mafia IPR di Lantung Mencuat, PDIP Sumbawa Desak Aparat Usut Tuntas
Puluhan Tahun Perangi Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?
300 Warga Bima NTB Mengungsi Usai Gempa M7,7, Warga dari Desa Mana Saja? Ini Rinciannya
Ratusan Maba FHISIP Unram 2026 Mulai Langkah Baru, PKKMB Jadi Gerbang Kehidupan Kampus
Menenun “GAPUK Sejahtera”: Dosen UIN Mataram Pengabdian Integratif di Desa Lingkar Kampus
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 11:49 WIB

Ketua IKA Unram Isvie Rupaeda Tegaskan Kampus Harus Aman dari Kekerasan Seksual

Minggu, 16 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Ketua IKA Unram Isvie Ungkap Resep Sukses ke Maba, dari Dosen hingga Jadi Ketua DPRD NTB

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:40 WIB

Bukan Sekadar Cari Gelar, Ini Pesan Dekan FHISIP Unram untuk Mahasiswa Baru di PKKMB

Minggu, 16 Agustus 2026 - 07:08 WIB

Dugaan Mafia IPR di Lantung Mencuat, PDIP Sumbawa Desak Aparat Usut Tuntas

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:05 WIB

Puluhan Tahun Perangi Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?

Berita Terbaru

Dr. Ufran, Ketua Bagian Hukum Pidana FHISIP Universitas Mataram (Unram), Penulis artikel Puluhan Tahun Perang Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?

Hukum & Kriminal

Puluhan Tahun Perangi Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?

Sabtu, 15 Agu 2026 - 22:05 WIB