Bumi Gora di Garis Depan: NTB dan Australia Bangun Sistem Prediksi Dampak Iklim Pertama di Indonesia

Avatar

- Jurnalis

Selasa, 21 Oktober 2025 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mencatat sejarah. Bersama Pemerintah Australia dan UNDP Indonesia, NTB resmi meluncurkan sistem prediksi dampak perubahan iklim pertama di Indonesia, menandai langkah besar menuju kebijakan pembangunan berbasis data dan ketahanan lingkungan. Melalui kolaborasi ini, ‘Bumi Gora’ diposisikan di garis depan upaya global menghadapi ancaman kenaikan muka air laut dan krisis iklim.

SUMBAWAPOST.com, Mataram- Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menjadi sorotan nasional dan internasional. Pemerintah Provinsi NTB bersama Kementerian PPN/Bappenas RI, Pemerintah Australia melalui Program SKALA, serta UNDP Indonesia resmi meluncurkan Studi Analisis Dampak Kenaikan Muka Air Laut di Provinsi NTB  sebuah langkah strategis untuk memperkuat kebijakan pembangunan daerah yang berbasis data dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Acara peluncuran yang berlangsung di Mataram ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, M.IP., Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas Maliki, serta perwakilan Pemerintah Australia Simon Flores. Momen ini menjadi penegasan atas kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, lembaga internasional, dan masyarakat sipil dalam menghadapi ancaman nyata kenaikan permukaan air laut.

Dalam sambutannya, Wagub Indah Dhamayanti Putri menegaskan bahwa hasil studi tersebut sangat penting sebagai dasar penyusunan kebijakan daerah khususnya dalam mengantisipasi dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir.

“Kita telah melihat sendiri dampaknya. Pada Juli kemarin, banjir besar di Mataram bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga pengaruh kenaikan muka air laut yang membuat aliran air terhambat,” ujarnya.

Baca Juga :  Inilah Sejumlah Langkah Nyata Bank NTB Syariah Bangun Kesejahteraan Masyarakat Bumi Gora

Wagub Dinda mengungkapkan bahwa dari hasil kajian, 46 desa dari total 106 desa dengan kemiskinan ekstrem di NTB diprediksi akan terdampak dalam lima tahun ke depan. Karena itu, desa-desa tersebut akan dijadikan prioritas utama dalam program penanganan kemiskinan ekstrem provinsi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa isu perubahan iklim telah menjadi bagian penting dalam RPJMD NTB 2025-2029, yang merupakan tahap awal dari RPJPD NTB 2025-2045. Melalui visi ‘NTB Kepulauan yang Makmur dan Mendunia’, pemerintah daerah berkomitmen memperkuat ketahanan pangan, pariwisata berkelanjutan, serta menurunkan angka kemiskinan dengan pendekatan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor.

“Mari kita terus bersinergi membangun kebijakan pembangunan yang berbasis data, adil, transparan, dan akuntabel. NTB siap menjadi praktik baik nasional dalam penerapan analisis Sea Level Rise,” tandasnya.

Sementara itu, perwakilan Pemerintah Australia, Simon Flores, menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja sama yang telah terjalin antara Pemerintah Provinsi NTB dan berbagai mitra.

“Indonesia adalah mitra strategis Australia. Tidak ada hubungan yang lebih penting bagi Australia daripada kemitraan dengan Indonesia,” ujarnya.

Flores menambahkan, tantangan perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut merupakan isu global yang harus dihadapi bersama. Karena itu, kolaborasi ini menghadirkan solusi inovatif yang menggabungkan data spasial, pendekatan digital, dan analisis sosial ekonomi masyarakat pesisir.

Baca Juga :  Laskar Sasak Pasang Badan, Garda Terdepan Lawan Arogansi dan Kezaliman – Jangan Coba-Coba Menindas Rakyat

Hasil kerja sama ini melahirkan Decision Support System Dashboard platform berbasis data yang membantu pemerintah daerah mengidentifikasi dampak perubahan iklim dan menyusun kebijakan penanganan yang lebih tepat sasaran.

“Studi ini bukan hanya tentang data, tetapi tentang manusia, tentang masa depan masyarakat pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bappenas Maliki menegaskan bahwa fenomena kenaikan muka air laut bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sudah terjadi saat ini. Berdasarkan proyeksi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kenaikan permukaan air laut setinggi satu meter dapat berdampak pada lebih dari 1,7 juta keluarga di Indonesia.

“Kita hadapi bukan perubahan pada air lautnya, tetapi pada permukaannya. Fenomena ini pasti terjadi, dan yang harus kita siapkan adalah bagaimana mengantisipasi,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi dan data spasial untuk mendukung perencanaan pembangunan daerah.

“Analisis saja tidak cukup, hasil analisis harus diterjemahkan ke dalam perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kebijakan. Dengan begitu, kebijakan yang kita hasilkan adaptif dan berkelanjutan,” tutupnya.

Peluncuran studi ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat ketahanan daerah terhadap perubahan iklim. Kolaborasi Indonesia-Australia melalui SKALA dan UNDP Indonesia diharapkan tidak hanya menghasilkan data dan rekomendasi teknis, tetapi juga mendorong transformasi nyata dalam kebijakan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Berita Terkait

Gubernur NTB Jawab Kritik FITRA: Belanja Modal 3,4 Persen Akibat Pemotongan DAU, Target 20 Persen Dikejar di APBD-P
FITRA Bongkar APBD NTB 2026: Belanja Modal Hanya 3,4 Persen, Terendah Secara Nasional
Sekolah Swasta Tak Lagi Anak Tiri, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Siapkan 400 Sertifikasi SMK
Brang Ene Jadi Lokasi Program Wisata Kerakyatan dan Agribisnis Sapi, Pemkab Sumbawa Barat Siapkan 200 Ekor Sapi
Nekat Copet HP Demi Baju Lebaran Pacar, Remaja 16 Tahun Diamankan Warga di Lombok Timur
Pemudik Siap-Siap! Kapolda NTB Edy Murbowo Cek Langsung Kesiapan Pelabuhan Lembar Jelang Lebaran 2026
Permen Komdigi 9/2026 Batasi Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, DPRD NTB Nadirah Al-Habsyi Soroti Hak Anak dan Literasi Digital
Kapolda NTB Bukber Bareng BEM dan OKP, Ngobrol Santai Tapi Pesannya Tegas: Jaga NTB!
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 01:15 WIB

Gubernur NTB Jawab Kritik FITRA: Belanja Modal 3,4 Persen Akibat Pemotongan DAU, Target 20 Persen Dikejar di APBD-P

Senin, 9 Maret 2026 - 00:51 WIB

FITRA Bongkar APBD NTB 2026: Belanja Modal Hanya 3,4 Persen, Terendah Secara Nasional

Minggu, 8 Maret 2026 - 23:33 WIB

Sekolah Swasta Tak Lagi Anak Tiri, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Siapkan 400 Sertifikasi SMK

Minggu, 8 Maret 2026 - 13:48 WIB

Brang Ene Jadi Lokasi Program Wisata Kerakyatan dan Agribisnis Sapi, Pemkab Sumbawa Barat Siapkan 200 Ekor Sapi

Minggu, 8 Maret 2026 - 11:04 WIB

Nekat Copet HP Demi Baju Lebaran Pacar, Remaja 16 Tahun Diamankan Warga di Lombok Timur

Berita Terbaru