SUMBAWAPOST.com | Lombok Timur- Rencana kegiatan yang dikaitkan dengan peringatan satu tahun penyelamatan Juliana Marins di kawasan Gunung Rinjani memicu polemik di Lombok Timur. Sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan menyatakan penolakan terhadap rencana kedatangan Agam Rinjani yang disebut akan terlibat dalam kegiatan tersebut.
DPD Gerakan Advokasi Nusantara (GANAS) Lombok Timur bersama sejumlah tokoh pemuda Sembalun menilai proses penyelamatan Juliana merupakan hasil kerja kolektif tim evakuasi, sehingga tidak semestinya hanya menonjolkan satu sosok tertentu.
Tokoh Pemuda Sembalun, Royal Sembalun, menegaskan bahwa seluruh anggota tim memiliki kontribusi penting dalam proses penyelamatan tersebut dan layak mendapatkan penghargaan yang sama.
“Cukuplah mengeksploitasi penyelamatan itu, ingat kamu melakukannya bukan sendirian tapi bersama tim,” ujar Royal Sembalun, dalam unggahan akun media sosialnya, yang diterima media ini. Minggu (20/6/20206.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum agenda peringatan tersebut dilaksanakan.
Sementara itu, DPD GANAS Lombok Timur secara terbuka menyampaikan penolakan terhadap rencana kegiatan yang melibatkan Agam Rinjani bersama Panji Petualang dalam momentum peringatan satu tahun penyelamatan Juliana.
Mereka berpendapat bahwa keberhasilan proses evakuasi merupakan kerja bersama tim dan tidak seharusnya hanya mengangkat satu figur sebagai pihak yang paling berjasa.
“Panah Rinjani tidak pantas disematkan kepada orang yang hanya terkenal melalui aksi evakuasi, dan satu hal yang harus diingat bahwa yang melakukan penyelamatan bukan dia sendiri tapi tim,” demikian pernyataan yang disampaikan pihak GANAS. Jum’at (19/6/2026).
Pandangan serupa juga disampaikan pemuda Lombok Timur, Habi Bullah. Ia menyebut sejumlah elemen masyarakat di Lombok, termasuk organisasi kemasyarakatan, menyampaikan keberatan terhadap rencana kegiatan tersebut.
Menurut Habi Bullah, sebagian anggota tim penyelamat masih menyimpan kekecewaan terkait sejumlah komitmen yang disebut pernah disampaikan kepada tim pasca proses evakuasi Juliana.
Polemik tersebut semakin menjadi perhatian publik setelah konten kreator sekaligus pegiat konservasi Panji Petualang menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat Lombok, khususnya suku Sasak, relawan, porter, dan seluruh pihak di kawasan Gunung Rinjani yang merasa tersinggung akibat unggahannya dalam beberapa hari terakhir.
Permintaan maaf itu disampaikan melalui video klarifikasi di akun Instagram pribadinya menyusul polemik rencana kedatangannya bersama Agam Rinjani ke Sembalun untuk membuat liputan khusus satu tahun peristiwa penyelamatan pendaki asal Brasil, Juliana Marins.
Sebelumnya, rencana kedatangan tersebut juga mendapat sorotan dari Royal Sembalun melalui pernyataan terbuka di media sosial pribadinya. Ia menyinggung sejumlah komitmen yang menurutnya perlu diselesaikan terlebih dahulu.
“Tepati dulu janjimu untuk tim dan penghijauan Rinjani. Jangan lagi jadikan Rinjani untuk keuntungan pribadimu sendiri. Jangan pura-pura tidak ada masalah, ingat ada hak orang lain dan Rinjani yang masih kau pegang,” tulis Royal pada 18 Juni 2026.
Menanggapi polemik yang berkembang, Panji menjelaskan bahwa ide pembuatan konten tersebut muncul setelah dirinya bertemu secara tidak sengaja dengan Agam di Jakarta. Namun setelah mengetahui adanya penolakan dari sejumlah pihak di Lombok serta persoalan yang belum selesai antara Agam dengan sebagian relawan maupun masyarakat setempat, Panji memilih menghormati aspirasi yang berkembang.
Panji juga mengakui kekeliruannya terkait penggunaan istilah ‘Pawang Gunung Rinjani’ dalam unggahan sebelumnya. Ia menegaskan tidak mengetahui secara utuh persoalan yang sedang terjadi dan tidak memiliki niat untuk menyinggung pihak mana pun.
“Saya secara pribadi meminta maaf kepada keluarga saya di Lombok, khususnya suku Sasak dan teman-teman relawan di sana,” ujar Panji dalam video klarifikasinya.
Di akhir pernyataannya, Panji berharap hubungan baik dengan masyarakat Rinjani tetap terjaga dan berharap dapat kembali bersilaturahmi dalam suasana yang lebih baik di masa mendatang.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Agam Rinjani terkait polemik penolakan tersebut maupun rencana kedatangannya ke kawasan Sembalun.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










