SUMBAWAPOST.com |™ Lombok Utara- Krisis Suplai Air Bersih di Kawasan Gili Trawangan, Gili Meno, dan sekitarnya mulai berdampak terhadap Aktivitas Masyarakat maupun Pariwisata. Gangguan Air disebut turut memengaruhi Kenyamanan Wisatawan dan Operasional sejumlah Usaha Pariwisata.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara terus melakukan dropping Air untuk memenuhi kebutuhan dasar Masyarakat dan Wisatawan di Kawasan terdampak.
Gili Trawangan sendiri merupakan salah satu Kawasan Wisata Utama di Lombok Utara. Karena itu, ketersediaan Air Bersih menjadi kebutuhan penting, bukan hanya bagi Warga, tetapi juga bagi Hotel, Pelaku Usaha Pariwisata, dan Wisatawan.
Kondisi Krisis Air tersebut turut mendapat sorotan dari Warga. Salah seorang Warga Kawasan Gili Trawangan, Demung Melela Tombok, melalui akun media sosialnya menyampaikan kondisi yang menurutnya terjadi di tengah gangguan Suplai Air Bersih.
Dalam unggahannya, Demung menyebut Ratusan tamu Hotel di Gili Trawangan memilih Check Out lebih awal akibat Krisis Air.
Tak hanya itu, ia juga mengungkap adanya Hotel yang disebut menggunakan Air Kolam untuk kebutuhan Sanitasi.
“Ratusan tamu Hotel di Gili Trawangan Check Out awal gara gara Krisis Air, lebih parahnya ada Hotel yang menyedot Air Kolam untuk di gunakan Sanitasi (mandi,beol, kencing)
Buat malu saja lombok utara,”Tulisnya. Unggahan tersebut menggambarkan keresahan Warga terhadap kondisi Pelayanan Air bersih di Kawasan Wisata Gili Trawangan.
Namun, informasi mengenai ratusan tamu hotel yang check out lebih awal maupun penggunaan air kolam untuk kebutuhan sanitasi tersebut merupakan pernyataan warga melalui media sosial dan masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak Hotel maupun otoritas terkait.
Sambil menunggu jaringan air bersih kembali berfungsi, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara terus melakukan dropping air untuk memenuhi kebutuhan dasar Masyarakat dan Wisatawan.
Langkah tersebut menjadi upaya darurat Pemerintah untuk menjaga kebutuhan Air tetap terpenuhi di tengah gangguan suplai.
Krisis Air ini menjadi semakin penting karena Aktivitas Pariwisata di Kawasan Gili tetap berlangsung.
Gangguan suplai Air berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kenyamanan Wisatawan sekaligus Operasional Pelaku Usaha Pariwisata.
Pemerintah Provinsi NTB juga bergerak mencari solusi atas Persoalan tersebut. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal atau akrab disapa Miq Iqbal telah berkoordinasi dengan Menteri Lingkungan Hidup untuk mencari jalan keluar atas kondisi kedaruratan yang terjadi.
“Dua hari lalu saya sudah berbicara langsung dengan Pak Menteri Lingkungan Hidup untuk menjelaskan situasi kedaruratan ini. Suplai air harus tetap berjalan karena menyangkut kehidupan Masyarakat, Pelayanan Publik, dan Keberlangsungan Sektor Pariwisata,” ujar Miq Iqbal.
Pemprov NTB menargetkan jaringan air bersih yang sudah tersedia dapat kembali beroperasi dalam satu hingga dua hari ke depan sebagai solusi jangka pendek.
Miq Iqbal juga mengatakan Pemerintah telah meminta Ruang Diskresi agar suplai air melalui jaringan yang ada dapat kembali berjalan untuk sementara waktu.
“Kami akan segera mencarikan jalan keluarnya. Kami akan berkomunikasi dengan pihak swasta dan menyelesaikan berbagai persoalan regulasi yang terkait untuk memastikan Air bisa segera mengalir kembali,” katanya.
Persoalan Air Bersih di Kawasan Gili kini tidak hanya menyangkut kenyamanan Wisatawan dan keberlangsungan Usaha Pariwisata, tetapi juga kebutuhan dasar Masyarakat.
Pemerintah menyiapkan solusi jangka pendek dengan mengupayakan jaringan Air yang tersedia kembali beroperasi, sembari berbagai persoalan Regulasi dan Hukum diselesaikan.
Di sisi lain, penyelesaian permanen tetap diperlukan agar kebutuhan air bersih Kawasan Gili dapat terjamin dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepastian Hukum dan Kelestarian Lingkungan.
Jika gangguan suplai berlangsung berkepanjangan, dampaknya dikhawatirkan semakin meluas terhadap Masyarakat, Wisatawan, dan Pelaku Usaha yang menggantungkan Aktivitas Ekonomi nya dari Pariwisata Gili Trawangan.
Krisis air di Gili pada akhirnya bukan hanya persoalan mengalir atau tidaknya air, tetapi menyangkut kebutuhan dasar Masyarakat sekaligus wajah Pelayanan Pariwisata Lombok Utara.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










