Menguji ‘NTB Makmur Mendunia’ di Atas Jalan Berlubang

Avatar

- Jurnalis

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis bersama kondisi jalan rusak di ruas perbatasan Benete–Mantun, Kabupaten Sumbawa Barat, yang membahayakan pengguna jalan.

Penulis bersama kondisi jalan rusak di ruas perbatasan Benete–Mantun, Kabupaten Sumbawa Barat, yang membahayakan pengguna jalan.

Oleh: Aditia, Aktivis Mahasiswa NTB

Satu tahun kepemimpinan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, semestinya menjadi fase awal untuk memperlihatkan arah pembangunan yang lebih terukur. Namun, realitas yang tampak di lapangan menunjukkan adanya jarak antara narasi kebijakan dan implementasi.

Di satu sisi, jargon ‘NTB Makmur Mendunia’ terus dikonstruksi sebagai visi besar pembangunan daerah. Di sisi lain, masyarakat masih dihadapkan pada persoalan klasik yakni infrastruktur jalan yang rusak, keterbatasan akses, serta ketimpangan pembangunan antarwilayah.

Di Pulau Sumbawa, tingkat kerusakan jalan masih relatif tinggi. Sementara di Pulau Lombok, capaian jalan mantap belum sepenuhnya merata. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas sehari-hari yang dialami masyarakat.

Persoalan ini pada dasarnya bukan terletak pada kurangnya wacana, melainkan lemahnya eksekusi kebijakan.
Jika ditarik dalam kerangka empiris, problem infrastruktur jalan di NTB merupakan persoalan struktural yang berulang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ketimpangan kualitas infrastruktur masih menjadi isu nasional, terutama antara wilayah pusat pertumbuhan ekonomi dan kawasan pinggiran. Pola ini juga tercermin di NTB, di mana Pulau Lombok relatif lebih berkembang dibandingkan Pulau Sumbawa dalam hal kualitas infrastruktur dasar.

Lebih spesifik, persoalan terbesar justru berada pada jalan provinsi dan kabupaten/kota, khususnya di Pulau Sumbawa, termasuk di Kabupaten Bima. Padahal, ruas jalan ini merupakan akses utama mobilitas masyarakat. Banyak jalan yang masih berada dalam kondisi rusak ringan hingga rusak berat, sementara kapasitas fiskal daerah untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh masih terbatas.

Baca Juga :  ‘IPR Jadi Bara Panas di NTB,’ Demo Pro-Legal vs Laskar NTB Nyaris Bikin Kantor Gubernur Jadi Arena Gladiator

Dampaknya tidak sederhana. Kerusakan jalan meningkatkan biaya logistik, menghambat distribusi barang, serta menurunkan akses masyarakat terhadap layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian, persoalan jalan rusak tidak lagi sekadar teknis, melainkan berkaitan langsung dengan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat.

Dalam konteks kebijakan, pembentukan Tim Reaksi Cepat (TRC) kerap diposisikan sebagai solusi responsif. Secara konseptual, langkah ini terlihat progresif. Namun dalam perspektif kebijakan publik, efektivitas program tidak diukur dari kecepatan respons semata, melainkan dari keberlanjutan hasil.

Tanpa indikator kinerja yang jelas seperti target panjang jalan yang diperbaiki, standar kualitas, serta waktu penanganan program semacam ini berpotensi menjadi solusi jangka pendek yang tidak menyentuh akar persoalan.

Di sisi lain, pemerintah juga menekankan pentingnya efisiensi anggaran. Namun, efisiensi tanpa kejelasan prioritas berisiko menjadi penghematan yang kehilangan arah.

Dalam kondisi fiskal terbatas, pemerintah daerah dituntut untuk menetapkan skala prioritas secara tegas. Infrastruktur dasar seperti jalan seharusnya menjadi prioritas utama, mengingat efek penggandanya terhadap sektor lain seperti perdagangan, pariwisata, dan investasi. Ketika prioritas ini tidak terlihat secara eksplisit, maka kebijakan efisiensi justru berpotensi memperlambat penyelesaian masalah mendasar.

Dalam perspektif teori politik, Ernesto Laclau menjelaskan bahwa populisme sering bertumpu pada kekuatan narasi untuk membangun kedekatan simbolik dengan masyarakat. Narasi besar seperti ‘NTB Makmur Mendunia’ pada dasarnya bukan sesuatu yang keliru, bahkan dapat menjadi energi kolektif untuk mendorong optimisme publik.

Baca Juga :  DPRD Semprot PJ Sekda NTB: Kinerja Amburadul, Koordinasi Lemah, Publik Wajar Minta Diganti

Namun, persoalan muncul ketika narasi tersebut tidak diiringi dengan perubahan struktural yang nyata. Ketika simbol lebih dominan dibanding substansi, maka yang muncul adalah ilusi pembangunan sebuah kondisi ketika masyarakat terus mendengar kemajuan, tetapi tidak sepenuhnya merasakannya. Dalam konteks ini, arah kebijakan seharusnya mulai ditunjukkan secara konkret melalui capaian yang terukur dan terbuka untuk dievaluasi publik.

Transparansi data menjadi elemen kunci agar masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga bagian dari mekanisme pengawasan. Pada akhirnya, publik tidak kekurangan janji. Yang dibutuhkan adalah bukti.

Selama jalan rusak masih menjadi keluhan utama, ketimpangan wilayah masih terasa, dan prioritas pembangunan belum tergambar jelas, maka narasi besar berisiko menjadi sekadar penutup dari persoalan yang belum terselesaikan.

NTB tidak membutuhkan kepemimpinan yang berhenti pada konstruksi wacana. NTB membutuhkan keberanian dalam mengambil keputusan, menetapkan prioritas, dan memastikan implementasi kebijakan berjalan hingga tuntas. Sebab, legitimasi kepemimpinan pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa kuat narasi dibangun, melainkan oleh seberapa nyata perubahan yang dirasakan masyarakat. Dan hingga hari ini, yang ditunggu publik bukanlah janji berikutnya, melainkan bukti pertama.

Penulis : Aditia, Aktivis Mahasiswa NTB

Editor : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Kebakaran Sade Jadi Evaluasi, Pemkab Loteng Siapkan Penataan Kawasan Adat
Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Mitigasi Wisata NTB
Sade Terbakar, Wagub NTB Turun Tangan: Revitalisasi Dikebut Jelang MotoGP
Baru Tiba dari NTT, Gubernur NTB Langsung Turun di Tengah Kobaran Api Sade
Kampung Adat Tradisional Sade Lombok Tengah Terbakar
Tanah Wakaf Kuripan Kembali Memanas, Eksekusi 2026 Dipersoalkan, Justice Law Firm Angkat Bicara
Gubernur NTT Puji Gerak Cepat Gubernur NTB Iqbal Bantu Korban Gempa Flores
UMKM KSB Mau Naik Kelas, Komisi II DPRD Cari ‘Resep’ ke Diskop UKM NTB
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Kebakaran Sade Jadi Evaluasi, Pemkab Loteng Siapkan Penataan Kawasan Adat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:43 WIB

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Mitigasi Wisata NTB

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:34 WIB

Sade Terbakar, Wagub NTB Turun Tangan: Revitalisasi Dikebut Jelang MotoGP

Minggu, 23 Agustus 2026 - 05:24 WIB

Baru Tiba dari NTT, Gubernur NTB Langsung Turun di Tengah Kobaran Api Sade

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:12 WIB

Kampung Adat Tradisional Sade Lombok Tengah Terbakar

Berita Terbaru

Kondisi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Pascakebakaran Yang Menjadi Perhatian Serius Dalam Penguatan Mitigasi Bencana Pariwisata NTB.

Seni & Budaya

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Mitigasi Wisata NTB

Minggu, 23 Agu 2026 - 16:43 WIB

kebakaran Kampung Adat Sade Lombok Tengah

Seni & Budaya

Kampung Adat Tradisional Sade Lombok Tengah Terbakar

Sabtu, 22 Agu 2026 - 23:12 WIB