Budidaya Puyuh Petelur Jadi Senjata Lawan Kemiskinan, Skema Bagi Hasil Angkat Pendapatan Peternak NTB

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 16 Januari 2026 - 16:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, saat melakukan monitoring dan evaluasi program budidaya puyuh petelur berbasis kemitraan di Kelompok Tani Ternak Maju Jaya, Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, saat melakukan monitoring dan evaluasi program budidaya puyuh petelur berbasis kemitraan di Kelompok Tani Ternak Maju Jaya, Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur.

SUMBAWAPOST.com| Lombok Timur- Program budidaya puyuh petelur berbasis kemitraan yang dijalankan di Nusa Tenggara Barat terus menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat peternak. Melalui skema bagi hasil yang terencana, program ini dinilai efektif sebagai upaya nyata mengentaskan kemiskinan di sektor peternakan rakyat.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, S.P, M.Ec.Dev, didampingi Fungsional Pengawas Bibit Ternak, melaksanakan monitoring dan evaluasi program kegiatan peternakan tahun 2025 di Kelompok Tani Ternak Maju Jaya, Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, Rabu (14/1/2026).

Kelompok ternak tersebut saat ini mengelola 3.990 ekor puyuh petelur dengan produksi harian mencapai 35 tray telur. Pada saat pencatatan, harga telur berada pada kisaran Rp31.000 per tray, sehingga pendapatan kotor harian mencapai Rp1.085.000. Setelah dikurangi biaya produksi sebesar Rp800.000 per hari, kelompok memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp285.000 per hari, atau setara Rp8.550.000 per bulan.

Baca Juga :  Direktur NDI Abdul Majid Desak Kejati NTB Usut Tuntas Kasus Korupsi NCC

Pendapatan bersih tersebut selanjutnya dibagikan kepada anggota kelompok melalui skema kemitraan dan bagi hasil yang telah disepakati bersama.

Dalam pola kemitraan ini, setiap dua bulan satu anggota kelompok menerima 1.000 ekor puyuh siap produksi, sehingga dalam jangka waktu 20 bulan seluruh anggota kelompok akan memiliki masing-masing 1.000 ekor puyuh petelur secara mandiri.

Puncak produksi puyuh terjadi pada usia 8 bulan, dengan potensi produksi mencapai 40 tray per hari. Pada kondisi ini, pendapatan kotor harian dapat mencapai Rp1.240.000, dengan keuntungan bersih sebesar Rp440.000 per hari. Dengan skema tersebut, setiap anggota kelompok peternak puyuh berpotensi memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp110.000 per hari.

Baca Juga :  Rakyat Digusur, DPRD NTB Angkat Suara! Akhdiansyah Siap Pasang Badan Lawan Ketidakadilan PSN

“Skema kemitraan dan bagi hasil ini kami rancang agar peternak memiliki usaha yang berkelanjutan. Tidak hanya memperoleh pendapatan harian, tetapi juga kepemilikan ternak secara bertahap, sehingga mereka bisa mandiri dan keluar dari jerat kemiskinan,” ujar Muhamad Riadi, dalam keterangan yang diterima media ini. Jum’at (16/1/2026).

Menurutnya, pola kemitraan seperti ini mampu meningkatkan pendapatan peternak secara berkesinambungan dan menjadi contoh bahwa pengelolaan peternakan unggas yang terencana, produktif, dan berbasis kebersamaan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat pedesaan.

Program budidaya puyuh petelur ini sekaligus membuktikan bahwa sektor peternakan rakyat memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi dan instrumen pengentasan kemiskinan di Nusa Tenggara Barat.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

SiLPA NTB Anjlok 95 Persen, Belanja Modal 2027 Justru Naik Rp83 Miliar
APBD NTB 2027 Berubah Drastis, Defisit Rp111 Miliar Kini Jadi Surplus Rp162 Miliar
APBD NTB 2027 Tembus Rp6,22 Triliun, Surplus Rp162 Miliar, Ini Prioritas Iqbal
Kejati NTB Gandeng Densus 88, Radikalisme Anak Diburu dari Ruang Digital
Tim Mori Hanafi Tegaskan Perebutan Ketua KONI NTB 2026-2030 Harus Sportif, Tanpa Intervensi
16 Anak NTB Terpapar Radikalisme, Game Online dan Medsos Jadi Ancaman Baru
Gubernur Iqbal Resmi Daftar Calon Ketua KONI NTB, Didampingi Cabor dan KONI Daerah
6 Tersangka Korupsi Masker di NTB Jadi Tahanan Kota, Ada Gelang Elektronik dan Uang Rp38 Juta
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:38 WIB

SiLPA NTB Anjlok 95 Persen, Belanja Modal 2027 Justru Naik Rp83 Miliar

Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:21 WIB

APBD NTB 2027 Berubah Drastis, Defisit Rp111 Miliar Kini Jadi Surplus Rp162 Miliar

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:44 WIB

APBD NTB 2027 Tembus Rp6,22 Triliun, Surplus Rp162 Miliar, Ini Prioritas Iqbal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Kejati NTB Gandeng Densus 88, Radikalisme Anak Diburu dari Ruang Digital

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:09 WIB

Tim Mori Hanafi Tegaskan Perebutan Ketua KONI NTB 2026-2030 Harus Sportif, Tanpa Intervensi

Berita Terbaru

Kejati NTB Bersama Densus 88 dan Sejumlah Pihak Terkait Membahas Upaya Pencegahan Radikalisme Anak di Ruang Digital.

Hukum & Kriminal

Kejati NTB Gandeng Densus 88, Radikalisme Anak Diburu dari Ruang Digital

Jumat, 14 Agu 2026 - 17:10 WIB