SUMBAWAPOST.com| Lombok Timur- Program budidaya puyuh petelur berbasis kemitraan yang dijalankan di Nusa Tenggara Barat terus menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat peternak. Melalui skema bagi hasil yang terencana, program ini dinilai efektif sebagai upaya nyata mengentaskan kemiskinan di sektor peternakan rakyat.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, S.P, M.Ec.Dev, didampingi Fungsional Pengawas Bibit Ternak, melaksanakan monitoring dan evaluasi program kegiatan peternakan tahun 2025 di Kelompok Tani Ternak Maju Jaya, Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, Rabu (14/1/2026).
Kelompok ternak tersebut saat ini mengelola 3.990 ekor puyuh petelur dengan produksi harian mencapai 35 tray telur. Pada saat pencatatan, harga telur berada pada kisaran Rp31.000 per tray, sehingga pendapatan kotor harian mencapai Rp1.085.000. Setelah dikurangi biaya produksi sebesar Rp800.000 per hari, kelompok memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp285.000 per hari, atau setara Rp8.550.000 per bulan.
Pendapatan bersih tersebut selanjutnya dibagikan kepada anggota kelompok melalui skema kemitraan dan bagi hasil yang telah disepakati bersama.
Dalam pola kemitraan ini, setiap dua bulan satu anggota kelompok menerima 1.000 ekor puyuh siap produksi, sehingga dalam jangka waktu 20 bulan seluruh anggota kelompok akan memiliki masing-masing 1.000 ekor puyuh petelur secara mandiri.
Puncak produksi puyuh terjadi pada usia 8 bulan, dengan potensi produksi mencapai 40 tray per hari. Pada kondisi ini, pendapatan kotor harian dapat mencapai Rp1.240.000, dengan keuntungan bersih sebesar Rp440.000 per hari. Dengan skema tersebut, setiap anggota kelompok peternak puyuh berpotensi memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp110.000 per hari.
“Skema kemitraan dan bagi hasil ini kami rancang agar peternak memiliki usaha yang berkelanjutan. Tidak hanya memperoleh pendapatan harian, tetapi juga kepemilikan ternak secara bertahap, sehingga mereka bisa mandiri dan keluar dari jerat kemiskinan,” ujar Muhamad Riadi, dalam keterangan yang diterima media ini. Jum’at (16/1/2026).
Menurutnya, pola kemitraan seperti ini mampu meningkatkan pendapatan peternak secara berkesinambungan dan menjadi contoh bahwa pengelolaan peternakan unggas yang terencana, produktif, dan berbasis kebersamaan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat pedesaan.
Program budidaya puyuh petelur ini sekaligus membuktikan bahwa sektor peternakan rakyat memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi dan instrumen pengentasan kemiskinan di Nusa Tenggara Barat.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










