SUMBAWAPOST.com, Lombok Barat – Ketua PMI Lombok Barat, Haris Karnain, menambahkan bahwa kunjungan para delegasi asing tersebut merupakan bentuk pengakuan dunia internasional terhadap keberhasilan NTB dalam mengembangkan sistem mitigasi bencana berbasis komunitas.
“Wilayah Sekotong ini bisa kita bilang langganan bencana banjir, baik dari hulu maupun rob karena berada di pesisir,” ujarnya. Kamis (16/10/2025) saat menyambut sebanyak 37 delegasi dari 18 negara yang tergabung dalam International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) meninjau langsung alat Early Warning System (EWS) di Musholla Dusun Empol Utara, Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.
Haris menegaskan bahwa NTB kini menjadi provinsi pertama di Indonesia yang berhasil membentuk Kelompok Kerja Aksi Antisipasi Bencana berbasis masyarakat.
“Kita jadi percontohan nasional. Barang semacam ini baru ada di NTB, makanya negara-negara donor ingin melihat langsung implementasinya dari masyarakat,” katanya.
Dalam tiga bulan terakhir, PMI juga telah memasang alat detektor banjir di sejumlah aliran sungai rawan. Dengan sistem tersebut, masyarakat bisa segera melakukan evakuasi mandiri sebelum bencana menimbulkan korban jiwa maupun kerugian.
“Sebenarnya programnya sudah berjalan tiga bulan ini. Kita pasang alat detektor, jadi ketika ada volume air meningkat dari hulu maupun rob, masyarakat akan mendapat peringatan dini untuk segera evakuasi,” tandas Haris.










