Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Tembus Rp50 Ribu, DPRD NTB Abdul Ra’uf Minta Pengawasan Distribusi Diperketat

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD NTB Abdul Ra'uf menyoroti kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Kota Bima dan Kabupaten Bima yang menyebabkan harga melonjak jauh di atas HET dan menyulitkan masyarakat memperoleh gas subsidi.

Anggota DPRD NTB Abdul Ra'uf menyoroti kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Kota Bima dan Kabupaten Bima yang menyebabkan harga melonjak jauh di atas HET dan menyulitkan masyarakat memperoleh gas subsidi.

SUMBAWAPOST.com | Bima- Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali dikeluhkan masyarakat di Kota Bima dan Kabupaten Bima. Kondisi ini mendapat sorotan dari Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Abdul Ra’uf, yang meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.

Menurut Abdul Ra’uf, keluhan terkait sulitnya memperoleh gas elpiji subsidi terus disampaikan masyarakat, baik saat dirinya melaksanakan kegiatan reses maupun melalui pesan pribadi di media sosial.

“Keluhan kelangkaan gas elpiji disampaikan langsung oleh masyarakat saat kegiatan reses, dan bahkan masyarakat menyampaikan melalui pesan pribadi (inbox) messenger facebook,” ujar Anggota DPRD NTB, Abdul Ra’uf dalam keterangan yang diterima media, Rabu (10/6/2026).

Ia menilai persoalan kelangkaan elpiji subsidi bukan hal baru. Hampir setiap tahun masyarakat dihadapkan pada masalah yang sama, mulai dari sulitnya mendapatkan tabung gas hingga harga yang jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Persoalan tersebut, kata dia, menjadi salah satu aspirasi yang paling banyak disampaikan warga dalam beberapa pekan terakhir.

“Masyarakat mengeluhkan ketersediaan gas yang sering langka di tingkat pengecer, bahkan harga jualnya kerap melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Harga jual antar 30 – 50 ribu rupiah,” bebernya.

Baca Juga :  Mori Hanafi Tinggalkan Legasi Besar, NTB Berhasil Jadi Tuan Rumah PON 2028

Keluhan serupa juga ditemuinya di berbagai desa dan kelurahan yang dikunjungi selama masa reses. Warga mengaku kesulitan memperoleh gas elpiji 3 kilogram yang merupakan kebutuhan pokok rumah tangga.

“Keluhan yang sama juga banyak saya terima melalui inbox dan komunikasi langsung dari masyarakat. Karena itu, persoalan ini harus segera mendapatkan perhatian serius,” ujar Abdul Ra’uf.

Menindaklanjuti aspirasi tersebut, Abdul Ra’uf mengaku telah berkoordinasi langsung dengan Gubernur NTB agar persoalan kelangkaan elpiji segera menjadi perhatian pemerintah provinsi bersama pihak terkait.

Ia pun mengapresiasi langkah cepat Gubernur NTB yang telah melakukan komunikasi dengan Pertamina dan Patra Niaga sekitar dua pekan lalu guna memastikan kondisi pasokan elpiji subsidi di daerah.

“Alhamdulillah, Pak Gubernur merespons dengan sangat baik. Beliau bahkan telah berkoordinasi dengan Pertamina dan Patra Niaga untuk memastikan kondisi ketersediaan stok,” bebernya.

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, diperoleh informasi bahwa tidak ada pengurangan kuota elpiji subsidi untuk wilayah NTB. Karena itu, menurut Abdul Ra’uf, persoalan yang terjadi diduga berkaitan dengan tata kelola dan pengawasan distribusi di lapangan.

Baca Juga :  Konsorsium Aktivis NTB Serukan Aksi Akbar: Hentikan Reklamasi dan Galian C Ilegal di Sekotong

“Pak Gubernur menjamin bahwa tidak ada pengurangan kuota gas elpiji untuk daerah kita,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa yang perlu dibenahi saat ini adalah sistem distribusi agar benar-benar tepat sasaran dan mudah diakses masyarakat yang berhak menerima subsidi.

Untuk itu, Abdul Ra’uf mendorong pemerintah kabupaten dan kota agar lebih aktif melakukan pengawasan terhadap jalur distribusi elpiji subsidi, mulai dari tingkat agen hingga pangkalan.

“Pengawasan yang ketat dinilai penting untuk mencegah terjadinya penimbunan, permainan harga, maupun distribusi yang tidak sesuai peruntukan,” beber Abdul Ra’uf, Anggota DPRD NTB Dapil VI yang meliputi Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.

Politisi Partai Demokrat tersebut juga meminta para kepala daerah, baik bupati maupun wali kota, untuk tidak tinggal diam terhadap persoalan yang terus berulang setiap tahun tersebut.

“Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat distribusi yang tidak tertib,” pungkasnya.

Menurutnya, pemerintah daerah harus hadir memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dengan baik, terutama kebutuhan energi rumah tangga yang sangat dibutuhkan masyarakat kecil.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

NTB Tembus 10 Besar MTQ Nasional 2026, Khairunnisa Asal Bima Raih Juara 1
Bank NTB Syariah Gandeng Maybank Indonesia, KUR dan Remitansi PMI NTB Diperkuat
Defisit Rp369 Miliar, 263 Ribu Warga NTB Krisis Air: Prioritas APBD-P Dipertanyakan
Konsolidasi Demokrasi Jelang Pemilu 2029 di NTB, Bawaslu Buka Ruang Kritik: Jangan Segan Mengoreksi Kami
APBD-P NTB 2026 Disetujui: Belanja Rp6,05 Triliun, Defisit Rp369 Miliar, SiLPA Rp431 Miliar
Daftar Kabupaten-Kota Berprestasi di NTB Raih Penghargaan Kemendagri, Bawa Pulang Insentif Rp17 Miliar
Kota Bima dan Mataram Borong Penghargaan Kemendagri, Insentif Capai Rp10,5 Miliar
Lombok Timur Raih Penghargaan Kemendagri, Bawa Pulang Insentif Rp1 Miliar
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 16:36 WIB

NTB Tembus 10 Besar MTQ Nasional 2026, Khairunnisa Asal Bima Raih Juara 1

Senin, 21 September 2026 - 10:02 WIB

Bank NTB Syariah Gandeng Maybank Indonesia, KUR dan Remitansi PMI NTB Diperkuat

Minggu, 20 September 2026 - 20:36 WIB

Defisit Rp369 Miliar, 263 Ribu Warga NTB Krisis Air: Prioritas APBD-P Dipertanyakan

Minggu, 20 September 2026 - 11:53 WIB

Konsolidasi Demokrasi Jelang Pemilu 2029 di NTB, Bawaslu Buka Ruang Kritik: Jangan Segan Mengoreksi Kami

Sabtu, 19 September 2026 - 09:37 WIB

APBD-P NTB 2026 Disetujui: Belanja Rp6,05 Triliun, Defisit Rp369 Miliar, SiLPA Rp431 Miliar

Berita Terbaru