Wabup Lobar Kaget! 90 Persen Dana Rp1 Miliar per Desa Hanya untuk Proyek Fisik, Stunting Terabaikan

Avatar

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha saat turun langsung ke tengah masyarakat dan berdialog dengan tenaga kesehatan serta warga terkait upaya percepatan penanganan stunting. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di tingkat desa.

Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha saat turun langsung ke tengah masyarakat dan berdialog dengan tenaga kesehatan serta warga terkait upaya percepatan penanganan stunting. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di tingkat desa.

SUMBAWAPOST.com | Lombok Barat-Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha, mengaku prihatin setelah melihat mayoritas usulan dalam Program Rp1 Miliar per Desa masih didominasi pembangunan fisik. Padahal, program unggulan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tersebut diharapkan tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menjadi instrumen percepatan penanganan stunting dan pengentasan kemiskinan di tingkat Desa.

Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) bersama seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Batulayar, yang berlangsung di Kantor Camat Batulayar, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini, Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha, Asisten I Setda Lombok Barat, para kepala OPD teknis, Camat Batulayar, serta seluruh kepala desa se-Kecamatan Batulayar.

Program Rp1 Miliar per Desa merupakan salah satu program prioritas Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ) yang dirancang untuk mempercepat pemerataan pembangunan hingga ke tingkat dusun sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam arahannya, Wakil Bupati Nurul Adha mengungkapkan bahwa berdasarkan data usulan yang telah masuk dari pemerintah desa, sebagian besar anggaran masih diarahkan untuk pembangunan fisik.

“Dari data input yang disampaikan Kepala Desa terhadap kamus usulan satu program, satu miliar per desa. Ini lebih banyak, bahkan bisa dikatakan 90 persen ke fisik yah. Tidak yang mengusulkan ke program pemberdayaan ataupun ke persoalan stunting,” ungkapnya.

Baca Juga :  PDB NTB Anjlok, Senator Mirah Soroti Ketergantungan pada Tambang: Diversifikasi Ekonomi Jadi Kebutuhan Mendesak

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena persoalan stunting dan kemiskinan merupakan indikator penting dalam penilaian pembangunan daerah di Kabupaten Lombok Barat.

“Padahal stunting ini juga menjadi penilaian kita se-Kabupaten Lombok Barat (Lobar), ya, penilaian stunting dan penurunan kemiskinan. Jadi saya harapkan ke bapak-bapak kades, bapak-bapak kades juga punya usulan terhadap persoalan stunting ini,” tegas Wabup.

Ia menilai pemerintah desa memiliki peran strategis dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting melalui penguatan layanan kesehatan masyarakat, pemberdayaan keluarga, serta optimalisasi peran posyandu.

“Sehingga kita bisa memahami bersama apa itu gerakan sensitif, gerakan spesifiknya gitu, pak kades-kades berperan di mana, posyandunya bagaimana dan seterusnya,” ujarnya.

Nurul Adha juga meminta seluruh kepala desa agar menjadikan persoalan stunting sebagai perhatian bersama dengan melakukan pemantauan secara rutin terhadap kondisi layanan kesehatan dasar dan berbagai kendala yang dihadapi masyarakat.

“Oleh karena itu mohon kepada bapak-bapak kades, persoalan stunting menjadi sensitivitas kita bersama sehingga ada kemauan kita untuk bapak-bapak pantau. Persoalan posyandu itu seperti apa, apa yang menjadi kendala,” katanya.

Program Rp1 Miliar per Desa sendiri telah mulai direalisasikan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kepada 119 desa dan tiga kelurahan sebagai bentuk komitmen memperkuat pembangunan berbasis desa.

Baca Juga :  Baihaqi Resmi Daftar Calon Ketua Asprov PSSI NTB, Klaim Kantongi 26 Dukungan Sah

Sementara itu, Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini menegaskan bahwa rakor tingkat kecamatan menjadi wadah penting untuk menyerap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung dari pemerintah desa.

“Kegiatan rakor tingkat kecamatan ini kami laksanakan untuk menyerap berbagai permasalahan yang ada di wilayah Kecamatan Batulayar. Dalam pertemuan ini juga hadir OPD teknis agar berbagai persoalan yang disampaikan dapat langsung ditindaklanjuti dan dicarikan solusi,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyoroti persoalan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.

“Salah satu perhatian utama kami adalah persoalan rumah tidak layak huni. Saya ingin tidak ada lagi masyarakat Lombok Barat yang tinggal di rumah tidak layak huni. Karena itu, sinergi dan kolaborasi semua pihak sangat diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut,” pungkasnya.

Melalui Program Rp1 Miliar per Desa, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat berharap pembangunan desa tidak hanya terlihat dari sisi infrastruktur semata, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat, penurunan angka kemiskinan, serta percepatan penanganan stunting di seluruh wilayah Lombok Barat.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Satgas Desa Berdaya Resmi Dibentuk, Pemprov NTB Siap Sikat Program Tak Tepat Sasaran hingga ke Desa
Sekda NTB Abul Chair Tegaskan Desa Berdaya Jadi Mesin Utama Pengentasan Kemiskinan
Amerika Serikat Dalami Tambang Rakyat Lantung Sumbawa, Soroti Lingkungan dan Tata Kelola SDA
NTB Terapkan Metode Baru Percepat Penanganan Stunting, Desa Sakra Lombok Timur Jadi Pilot Project
Tambang Rakyat Lantung Sumbawa Jadi Perhatian Amerika Serikat
KPU NTB dan Bawaslu NTB Touring Monitoring Coktas di Lombok Utara, Pastikan Data Pemilih Akurat
TPA Kebon Kongok di NTB Berpotensi Hasilkan 9 Juta Ton Gas Metana per Tahun, Siap Jadi Sumber Energi Alternatif
Wakil Ketua DPRD Lalu Wirajaya Hadiri Penutupan MTQ XXXI NTB 2026, Dorong Lahirnya Generasi Qurani Berprestasi
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:42 WIB

Wabup Lobar Kaget! 90 Persen Dana Rp1 Miliar per Desa Hanya untuk Proyek Fisik, Stunting Terabaikan

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:05 WIB

Satgas Desa Berdaya Resmi Dibentuk, Pemprov NTB Siap Sikat Program Tak Tepat Sasaran hingga ke Desa

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:59 WIB

Sekda NTB Abul Chair Tegaskan Desa Berdaya Jadi Mesin Utama Pengentasan Kemiskinan

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:45 WIB

Amerika Serikat Dalami Tambang Rakyat Lantung Sumbawa, Soroti Lingkungan dan Tata Kelola SDA

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:27 WIB

NTB Terapkan Metode Baru Percepat Penanganan Stunting, Desa Sakra Lombok Timur Jadi Pilot Project

Berita Terbaru