SUMBAWAPOST.com | Lombok Barat- Di balik aktivitas pengelolaan sampah di TPA Regional Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersimpan potensi energi besar yang berpeluang menjadi sumber energi alternatif bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB mengungkapkan bahwa timbunan sampah di kawasan tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 9 juta ton gas metana per tahun, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti gas untuk kebutuhan rumah tangga.
Potensi besar tersebut terungkap dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 yang digelar di Kantor TPA Regional Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri (Umi Dinda), didampingi Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair.
Selain menyerahkan dana kompensasi kepada delapan desa lingkar TPA Kebon Kongok, Pemerintah Provinsi NTB juga menegaskan komitmennya untuk mendorong pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat.
Kepala DLHK Provinsi NTB, H. Didik Mahmud Gunawan Hadi, menjelaskan bahwa volume sampah yang masuk ke TPA Regional Kebon Kongok terus mengalami peningkatan setiap tahun seiring pertumbuhan penduduk, aktivitas ekonomi, dan perkembangan kawasan perkotaan di Pulau Lombok.
Menurutnya, selain berfungsi sebagai fasilitas utama pengolahan sampah regional, TPA Kebon Kongok juga menyimpan peluang besar dalam pengembangan energi terbarukan melalui pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian sampah organik.
“Kami telah mengajukan proposal untuk pemurnian gas metana agar dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bakar pengganti gas untuk kebutuhan sehari-hari. Ini merupakan salah satu bentuk manfaat yang dapat dihasilkan dari pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya.
Didik mengungkapkan, potensi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di TPA Regional Kebon Kongok diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton per tahun. Jika dikelola secara optimal, potensi tersebut dapat menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomis sekaligus membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap energi berbasis fosil.
Selain memberikan manfaat energi, pemanfaatan gas metana juga diyakini mampu menekan dampak lingkungan dari timbunan sampah serta mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca yang menjadi salah satu tantangan global saat ini.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Permasalahan sampah hari ini membutuhkan kebersamaan dan kerja keras dari kita semua. Berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan lahan hingga dampak sosial yang dirasakan masyarakat sekitar, harus diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan niat yang sama untuk mencari solusi,” ujarnya.
Umi Dinda juga menekankan pentingnya edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah sebagai langkah mendasar dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
“Jika masyarakat tidak diberikan pemahaman yang baik untuk memilah sampah sejak dari rumah, maka persoalan ini akan terus berlanjut dan menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai,” katanya.
Lebih jauh, ia mendorong agar TPA Regional Kebon Kongok dapat berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus laboratorium pembelajaran bagi generasi muda mengenai pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi.
“Ke depan tidak menutup kemungkinan TPA ini menjadi lokasi kunjungan edukatif bagi anak-anak sekolah untuk melihat secara langsung bagaimana sampah diproses dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Mari kita ubah pandangan bahwa tempat pembuangan akhir adalah kawasan yang tidak bermanfaat. Jika dikelola dengan baik, justru dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB juga menyerahkan dana kompensasi kepada delapan desa yang berada di sekitar TPA Regional Kebon Kongok, yakni Desa Banyumulek, Sukamakmur, Taman Ayu, Parampuan, Karang Bongkot, Lelede, Gapuk, dan Kuranji.
Melalui pengembangan potensi gas metana dan berbagai program pengelolaan sampah berkelanjutan, Pemprov NTB berharap TPA Kebon Kongok tidak hanya menjadi pusat pengolahan sampah regional, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi sumber energi alternatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan di Nusa Tenggara Barat.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










