Tragedi di Bima, Bayi Berusia 2 Hari Meninggal Saat Keluarga Urus Administrasi BPJS

Avatar

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:46 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang ayah mengangkat jenazah bayi laki-lakinya untuk dibawa ke ambulans usai dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Bima.

Seorang ayah mengangkat jenazah bayi laki-lakinya untuk dibawa ke ambulans usai dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Bima.

SUMBAWAPOST.com | Kota Bima- Peristiwa yang menyita perhatian publik terjadi di Kabupaten Bima. Sebuah keluarga di Desa Tolouwi, Kecamatan Monta, mengaku mengalami kendala administrasi kepesertaan BPJS Kesehatan saat berupaya mendapatkan pelayanan bagi bayi mereka yang lahir dalam kondisi kritis di RSUD Bima.

Di tengah proses pengurusan administrasi tersebut, bayi laki-laki yang baru berusia dua hari itu akhirnya meninggal dunia pada Jumat (19/6/2026), sehingga memicu keprihatinan keluarga dan warga setempat.

Perwakilan keluarga, Ahyar, menjelaskan bahwa bayi tersebut merupakan putra pasangan Arif Rahman (28) dan Fitriani (20). Bayi itu lahir di Puskesmas Monta sebelum dirujuk ke RSUD Bima karena membutuhkan penanganan medis lanjutan.

Menurut Ahyar, setibanya di RSUD Bima, bayi sempat mendapatkan penanganan dari tenaga medis. Namun ketika membutuhkan obat-obatan tertentu, keluarga mengaku menghadapi kendala karena bayi tersebut belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Baca Juga :  Pasca Kasat dan Kapolres Jadi Tersangka, Pengungkapan Kasus Narkoba di Bima Kota Meningkat Hampir Setiap Hari

“Karena belum terdaftar BPJS, penebusan obat dipersulit oleh petugas Apotik RSUD Bima. Padahal kondisi bayi saat itu sangat urgent dan membutuhkan obat,” kata Ahyar, Sabtu (20/6/2026).

Keluarga, lanjut Ahyar, berupaya mencari solusi agar obat yang dibutuhkan tetap dapat diperoleh. Mereka mengaku bersedia menebus obat secara mandiri tanpa menggunakan fasilitas BPJS.

“Kita beri jaminan sembari menunggu kiriman uang dari kampung untuk menebus obat yang dibutuhkan tanpa BPJS,” ujarnya.

Namun, menurut keterangan keluarga, mereka diarahkan untuk terlebih dahulu mengurus pengalihan kepesertaan BPJS dari ibu bayi kepada pasien serta melengkapi dokumen administrasi yang diperlukan.

“Kami diarahkan untuk mengalihkan BPJS ibunya ke bayi dulu baru obat bisa ditebus,” katanya.

Di tengah proses tersebut, kondisi bayi terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis RSUD Bima. Jenazah kemudian dipulangkan ke Desa Tolouwi menggunakan ambulans untuk dimakamkan.

Baca Juga :  Kota Bima dan Mataram Borong Penghargaan Kemendagri, Insentif Capai Rp10,5 Miliar

Peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam sekaligus keprihatinan di tengah masyarakat. Keluarga menilai pelayanan terhadap pasien dalam kondisi darurat seharusnya tidak terkendala persoalan administrasi, terutama ketika keselamatan pasien menjadi prioritas utama.

“Kejadian ini sangat kami sayangkan. Kami mengecam keras tindakan pihak RSUD Bima,” ujar Ahyar.

Hingga berita ini diterbitkan, Direktur RSUD Bima belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi yang dilakukan terkait dugaan kendala pelayanan tersebut. Pihak rumah sakit juga belum menyampaikan keterangan resmi mengenai kronologi penanganan pasien maupun prosedur yang diterapkan dalam kasus tersebut.

Kasus ini menjadi perhatian publik dan memunculkan harapan agar seluruh pihak terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka sehingga diperoleh gambaran utuh mengenai peristiwa yang terjadi. Selain itu, masyarakat berharap pelayanan kesehatan bagi pasien dalam kondisi darurat dapat berjalan optimal tanpa hambatan yang berpotensi memengaruhi keselamatan pasien.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

58 Jemaah Umrah Gagal Berangkat, Badko HMI Bali-Nusra Desak Kemenhaj NTB Cabut Izin Travel Bermasalah
Sirkuit Mandalika Lolos Standar Tertinggi FIM, Raih Grade A, MotoGP Indonesia 2026 Siap Digelar
Lima Pembalap Dunia Sambangi Sekolah di Mandalika
Aktivis Kritik Berujung Tersangka, Pemuda Sasak Sentil Gubernur NTB: Rakyat Harus Diam?
MotoGP Mandalika, 160 Tenaga Medis Siaga, 12 Ambulans dan Helikopter Disiapkan
Enam Produk Unggulan NTB Siap Nembus Pasar Ekspor Lewat TEI 2026
Mori Hanafi Kembali Maju, Daftar Sebagai Calon Ketua KONI NTB 2026-2030
Marc Marquez Sebut Mandalika Seperti Rumah Kedua, Ribuan Warga Sambut Parade MotoGP di Mataram
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 04:05 WIB

58 Jemaah Umrah Gagal Berangkat, Badko HMI Bali-Nusra Desak Kemenhaj NTB Cabut Izin Travel Bermasalah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:22 WIB

Sirkuit Mandalika Lolos Standar Tertinggi FIM, Raih Grade A, MotoGP Indonesia 2026 Siap Digelar

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Lima Pembalap Dunia Sambangi Sekolah di Mandalika

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Aktivis Kritik Berujung Tersangka, Pemuda Sasak Sentil Gubernur NTB: Rakyat Harus Diam?

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:27 WIB

MotoGP Mandalika, 160 Tenaga Medis Siaga, 12 Ambulans dan Helikopter Disiapkan

Berita Terbaru

Lima pembalap Moto2 dan Moto3 Berinteraksi dan Berbagi Inspirasi dengan Siswa SDN 2 Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB, Kamis (8/10/2026).

Olahraga

Lima Pembalap Dunia Sambangi Sekolah di Mandalika

Kamis, 8 Okt 2026 - 15:53 WIB