Di Tengah Normalisasi Tambang, Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 5 Agustus 2026 - 17:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) mengenai pertumbuhan ekonomi NTB Triwulan II Tahun 2026 di Mataram, Rabu (5/8/2026).

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) mengenai pertumbuhan ekonomi NTB Triwulan II Tahun 2026 di Mataram, Rabu (5/8/2026).

SUMBAWAPOST.com |™ Mataram- Di tengah Normalisasi aktivitas Sektor Pertambangan setelah berakhirnya Relaksasi Ekspor Konsentrat Tembaga, Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap menunjukkan Performa yang Impresif. Pada Triwulan II Tahun 2026, Ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen (year-on-year/y-on-y), menjadikannya Provinsi dengan Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi ke-Dua di Indonesia, sekaligus tetap berada di atas Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Nasional.

Tak hanya mencatat Pertumbuhan Ekonomi yang tinggi, berbagai indikator Kesejahteraan Masyarakat juga menunjukkan Tren Positif. Angka Kemiskinan terus Menurun, ketimpangan Semakin Rendah, kesempatan kerja meningkat, sementara tingkat pengangguran terbuka tetap berada pada level rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB semakin berkualitas dan manfaatnya mulai dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis di Mataram, Rabu (5/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, serta pimpinan perangkat daerah dan instansi vertikal.

Menurut Wahyudin, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB pada Triwulan II Tahun 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp29,89 triliun.

Secara tahunan, ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen, sementara secara kumulatif selama Semester I Tahun 2026 mencapai 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Wahyudin menjelaskan, pertumbuhan pada Triwulan II memang tidak setinggi Triwulan I karena Sektor Pertambangan mulai memasuki Fase Normalisasi setelah berakhirnya Relaksasi Ekspor Konsentrat Tembaga. Meski demikian, kondisi tersebut bukan mencerminkan Plemahan Ekonomi.

“Struktur pertumbuhan ekonomi NTB justru semakin sehat karena sektor-sektor Ekonomi Riil tetap tumbuh Positif dan menjadi penopang utama Perekonomian Daerah,” jelas Wahyudin.

Baca Juga :  DPRD Kabupaten Bima Sekolah di Mataram, Biar Makin Jago Kawal Anggaran dan Pembangunan Daerah

Selain Sektor Pertambangan dan Penggalian yang masih tumbuh 30,57 persen, sektor Industri Pengolahan juga meningkat 7,45 persen, didorong aktivitas smelter dan industri makanan-minuman. Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 11,42 persen, mencerminkan terus bergairahnya sektor Pariwisata dan Jasa.

Dari sisi pengeluaran, Ekspor Barang dan jasa melonjak 49,42 persen, menunjukkan daya saing Produk NTB yang semakin kuat di Pasar Global.

Wahyudin menegaskan, mesin pertumbuhan Ekonomi NTB kini semakin beragam dan tidak lagi hanya bertumpu pada sektor pertambangan.

“Pertumbuhan Ekonomi kini juga diperkuat sektor Industri Pengolahan, Pertanian, Perdagangan, Pariwisata, dan Jasa yang terus menunjukkan Kinerja Positif. Ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan Ekonomi yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Kinerja positif tersebut juga tercermin pada Sektor Ketenagakerjaan. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, jumlah angkatan kerja NTB mencapai 3,24 juta orang, meningkat sekitar 5,56 ribu orang dibanding Februari 2026. Jumlah penduduk yang bekerja pun naik menjadi 3,14 juta orang.

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 1,07 juta orang atau 33,95 persen dari total penduduk bekerja.

Peningkatan kesempatan kerja itu sejalan dengan membaiknya aktivitas pertanian. Luas panen padi meningkat dari 13.748 hektare pada Februari menjadi 30.248 hektare pada Mei 2026, sedangkan produksi gabah kering giling melonjak dari 74.984 ton menjadi 158.559 ton.

Pada saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTB turun menjadi 2,98 persen, lebih rendah dibandingkan Februari 2026.

“Angka tersebut menunjukkan pasar kerja NTB tetap mampu menyerap tambahan angkatan kerja di tengah dinamika Ekonomi yang terus berkembang,” kata Wahyudin.

Baca Juga :  Bupati Sumbawa Apresiasi Luthfiah Sabrina, Putri Daerah Raih Prestasi Nasional

Perbaikan ekonomi juga berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin NTB tercatat 11,17 persen, turun 0,21 persen poin dibandingkan September 2025 dan turun 0,61 persen poin dibandingkan Maret 2025.

Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang 26,07 ribu orang dalam setahun, dari 654,57 ribu orang menjadi 628,50 ribu orang.

“Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

BPS juga mencatat perbaikan pemerataan Ekonomi. Gini Ratio NTB pada Maret 2026 turun menjadi 0,358, lebih rendah dibandingkan September 2025 (0,364) maupun Maret 2025 (0,369).

Menurut Wahyudin, distribusi pengeluaran masyarakat NTB tetap berada pada kategori ketimpangan rendah berdasarkan klasifikasi Bank Dunia, dengan pangsa pengeluaran kelompok 40 persen penduduk terbawah mencapai 19,57 persen.

“Penurunan ketimpangan ini menunjukkan hasil pembangunan semakin dirasakan secara lebih merata. Di tengah dinamika Ekonomi Global, daya beli masyarakat berpendapatan rendah tetap terjaga sehingga kesenjangan pengeluaran terus mengecil,” terangnya.

Meski demikian, BPS mengingatkan masih terdapat pekerjaan rumah yang harus terus diperkuat, terutama dalam meningkatkan proporsi pekerja formal, memperluas kesempatan kerja berkualitas, serta memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata hingga ke wilayah perdesaan.

Rangkaian indikator yang dirilis BPS menunjukkan bahwa perekonomian NTB tidak hanya mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi di tengah normalisasi sektor pertambangan, tetapi juga semakin berkualitas. Menguatnya sektor-sektor fundamental, meningkatnya kesempatan kerja, menurunnya angka kemiskinan, serta semakin rendahnya ketimpangan menjadi sinyal bahwa fondasi ekonomi daerah semakin kokoh menuju pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Dana BTT APBD NTB 2025 Rp484 Miliar Tak Tersentuh LHP BPK, Legislator PDIP Desak Audit Investigatif
40 Cabor Bulat Dukung Mori Hanafi Kembali Pimpin KONI NTB, Ini Alasannya
Link and Match Jadi Strategi Gubernur Iqbal Tekan Pengangguran Lulusan SMK di NTB
Anemia hingga Batu Ginjal Dominasi Penyakit Pasien Rujukan Bima-Dompu ke RSUD NTB
309 Ribu Pasien Rujukan Ditangani RSUD NTB, Ribuan Berasal dari Bima-Dompu
Anggota DPRD NTB Nadirah Soroti Dugaan Salah Diagnosis Pasien Asal Bima-Dompu
Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Konsep FELDA Malaysia untuk Pertanian NTB
Willgo Zainar Kembali Pimpin HKTI NTB, Siap Perkuat Transformasi Pertanian Modern
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Dana BTT APBD NTB 2025 Rp484 Miliar Tak Tersentuh LHP BPK, Legislator PDIP Desak Audit Investigatif

Rabu, 5 Agustus 2026 - 17:26 WIB

Di Tengah Normalisasi Tambang, Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen

Rabu, 5 Agustus 2026 - 14:38 WIB

40 Cabor Bulat Dukung Mori Hanafi Kembali Pimpin KONI NTB, Ini Alasannya

Selasa, 4 Agustus 2026 - 16:47 WIB

Link and Match Jadi Strategi Gubernur Iqbal Tekan Pengangguran Lulusan SMK di NTB

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:45 WIB

Anemia hingga Batu Ginjal Dominasi Penyakit Pasien Rujukan Bima-Dompu ke RSUD NTB

Berita Terbaru

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) mengenai pertumbuhan ekonomi NTB Triwulan II Tahun 2026 di Mataram, Rabu (5/8/2026).

Bisnis & Ekonomi

Di Tengah Normalisasi Tambang, Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen

Rabu, 5 Agu 2026 - 17:26 WIB