SUMBAWAPOST.com, SUMBAWA – Suara keprihatinan petani akhirnya meledak di Gedung DPRD Sumbawa. Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) panas, Jumat (25/4), membahas kisruh Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan jagung serta serapan hasil panen yang dinilai mandek di tangan Bulog.
Rapat yang dipimpin Sekretaris Komisi II, Zohran, SH, itu tak hanya dihadiri jajaran anggota dewan seperti Muhammad Zain, SIP, Ademudhita Noorsyamsu, SAP, Kaharuddin Z, H. Andi Mappeleppui, Juliansyah, SE, Andi Rusni, SE., MM, dan H. Zainuddin Sirat, tetapi juga melibatkan suara kritis dari Aliansi Kepemudaan – GMNI, LMND, PMII, KAMMI, dan SMI.
Dari unsur eksekutif dan aparat, hadir Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Pangan, KBO Polres Sumbawa, perwakilan Kodim, serta Kepala Kantor Perum Bulog Sumbawa.
Namun kehadiran itu tak mampu meredam derasnya keluhan dari perwakilan Aliansi. Mereka membeberkan realita pahit: petani kini kesulitan menjual gabah dan jagung sesuai HPP, pupuk langka, dampak residu pestisida makin terasa, dan Bulog dinilai tak maksimal menyerap hasil panen akibat keterbatasan gudang.
Zohran, SH, menyampaikan apresiasi atas keberanian organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang membela nasib petani. “Ini bentuk perhatian nyata yang harus kita respons bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Zain tampil menohok. Ia menyoroti lemahnya pembentukan kelompok tani di desa-desa yang seharusnya jadi benteng pemberdayaan dan peningkatan produksi. Ia mendesak adanya pendampingan aktif dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan pembangunan gudang penyimpanan di tingkat petani, agar tak hanya sibuk mengurus tanaman, tetapi juga memikirkan nasib hasil panen.
Isu terpanas yang dibahas adalah penyerapan jagung oleh Bulog. Muhammad Zain mengungkap fakta bahwa serapan di lapangan sangat jauh dari harapan. “Janji tinggal janji! Realisasi belum mencapai 100 persen, pendampingan minim, dan bahkan di beberapa wilayah selatan, tim Bulog hanya terima laporan tanpa aksi nyata,” sentil Zain.
Ia menambahkan, keterbatasan armada dan lambannya gerak Bulog memperparah penderitaan petani yang sudah babak belur dihantam harga pasar yang tak menentu.
Aliansi Pemuda mendesak agar DPRD segera mengambil langkah tegas. “Jika ini dibiarkan, petani akan terus dikorbankan!” teriak salah satu perwakilan Aliansi.
Suasana RDP pun berlangsung tegang, penuh desakan, namun tetap dalam koridor penyampaian aspirasi yang beradab. Komisi II berjanji akan menindaklanjuti seluruh keluhan ini dalam rekomendasi resmi kepada pihak terkait.









