Pengadilan Negeri (PN) Mataram, berubah menjadi ruang yang bukan hanya memeriksa Perkara Hukum, tetapi juga memantulkan wajah solidaritas. Ketua IPPAT NTB, Dr Saharjo S.H.,M.Kn.,M.H, hadir mendampingi seorang rekan PPAT yang sedang menghadapi Persidangan, membawa pesan yang jauh melampaui urusan teknis Kenotariatan. Bahwa di tengah badai, sahabat tidak boleh dibiarkan berdiri sendirian. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia menegaskan bahwa Empati, Keberpihakan pada Kemanusiaan, dan Kebersamaan adalah napas yang harus dijaga oleh setiap insan IPPAT maupun calon Notaris.
SUMBAWAPOST.com| Mataram-Suasana ruang sidang Pengadilan Negeri Mataram berubah haru ketika Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) NTB, Dr Saharjo S.H.,M.Kn.,M.H, hadir memberi dukungan moral bagi seorang rekan PPAT yang tengah menghadapi proses hukum. Bukan sekadar kunjungan biasa, kehadiran Dr Saharjo menjadi pesan kuat tentang pentingnya solidaritas, empati, dan kebersamaan dalam keluarga besar IPPAT.
Di hadapan para anggota IPPAT dan mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Mataram yang turut menyaksikan persidangan, Dr Saharjo menyampaikan pernyataan mendalam tentang makna kemanusiaan dalam profesi.
“Ketika ada sahabat kita yang diuji, di situlah kemanusiaan kita dipertaruhkan. Kita datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia tidak berjalan sendirian,” ujarnya tegas, namun sarat empati.
Menurutnya, empati bukan sekadar sikap, melainkan fondasi hubungan antarmanusia. “Kita penting menolong bukan karena kita lebih kuat, tetapi karena kita sama-sama manusia. Empati adalah jembatan antara rasa kita dan penderitaan orang lain,” tambahnya.
Dr Saharjo menekankan bahwa nilai moral, solidaritas, dan integritas harus berjalan seiring dalam profesi kenotariatan. Profesi PPAT, katanya, tidak hanya menuntut kepatuhan pada aturan, tetapi juga keberanian untuk hadir dan mendampingi sesama di saat paling sulit. “Integritas bukan hanya tentang bekerja sesuai aturan. Ia juga soal hadir ketika sahabat membutuhkan kekuatan,” ujarnya.
Sebagai dosen notariat, Dr Saharjo mengingatkan mahasiswanya bahwa ilmu hukum tidak akan bernilai jika tidak ditopang kepedulian sosial. “Hari ini kita belajar bahwa solidaritas bukan teori, tetapi tindakan nyata,” katanya menggarisbawahi makna kehadiran IPPAT dalam persidangan tersebut.
Sebelum mengakhiri pesannya, Dr Saharjo menyerukan agar nilai kebersamaan itu terus hidup dalam tubuh organisasi. “Solidaritas adalah nafas kemanusiaan. Selama kita menjaganya, kita tidak hanya menjadi pejabat pembuat akta, tetapi juga manusia yang bermartabat,”ungkap Dr Saharjo
Kehadiran Dr Saharjo bersama jajaran IPPAT di ruang sidang hari itu menjadi simbol kuat bahwa ikatan profesi tidak hanya berdiri di atas aturan, tetapi juga di atas kemanusiaan dan persahabatan yang tidak lekang oleh tekanan apa pun.









