SUMBAWAPOST.com| Jakarta-
Penghargaan tersebut dijadwalkan akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, pada 9 Februari 2026.
Ketua Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat sekaligus Direktur Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menjelaskan bahwa proses penjaringan nominator telah berlangsung selama dua bulan dan menghasilkan 10 kepala daerah terbaik, terdiri dari tiga wali kota dan tujuh bupati.
“Dari 10 orang itu, tergolong masih muda. Ini kebanggaan bagi kami di PWI,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima media ini.
Yusuf menegaskan bahwa penilaian dilakukan secara serius dan profesional dengan melibatkan juri-juri yang kompeten di bidang seni dan kebudayaan. Ia juga membantah anggapan bahwa pemberian anugerah ini dilakukan secara serampangan atau disertai pungutan biaya. “Tidak ada sama sekali,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan sisi humanis dalam proses penjurian, di mana tiga kepala daerah mengikuti presentasi melalui sambungan daring karena alasan kemanusiaan dan tugas penting di daerah masing-masing.
“Bupati Labuhanbatu mengikuti zoom setelah pemakaman ibunya, dengan pakaian putih-putih dan mata sembab,” kenang Yusuf. “Bupati Padang Pariaman harus mengikuti zoom karena memimpin penanganan banjir, sementara Bupati Manokwari tidak bisa hadir karena ada agenda adat yang tidak bisa ditinggalkan,” tambahnya.
Meski demikian, Yusuf menegaskan proses penjurian tetap berjalan profesional dan objektif.
Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana sendiri memaparkan presentasi tahap akhir penilaian pada Jumat siang (9/1/2026) di hadapan Dewan Juri di Kantor PWI Pusat, Gedung Dewan Pers, Jakarta. Dalam presentasinya, Mohan menekankan karakter Kota Mataram sebagai kota heterogen yang menjunjung tinggi nilai harmoni sosial, keterbukaan terhadap kemajuan teknologi, sekaligus konsisten menjaga warisan budaya dan sejarah.
Ia menjelaskan bahwa Gerbang Sangkareang merupakan transformasi nilai lumbung padi masyarakat Sasak yang kini menjadi trademark baru Kota Mataram, dan dibangun serta diresmikan pada 2022, pada periode pertama kepemimpinannya.
“Gerbang Sangkareang ini dibangun dan diresmikan pada tahun 2022 lalu pada periode pertama pemerintahan kami,” jelas Mohan, dalam keterangan yang diterima media ini.
Gerbang Sangkareang lahir dari karakter ruang dan sejarah sosial masyarakat Kota Mataram. Inspirasi desainnya berasal dari lumbung padi masyarakat Sasak yang melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, rasa syukur, pengendalian diri, serta semangat gotong royong yang telah mengakar dalam budaya lokal.
“Sedangkan nama Sangkareang itu diambil dari nama puncak kedua tertinggi di Pulau Lombok,” tambahnya.
Menurut Mohan, Gerbang Sangkareang tidak hanya berfungsi sebagai simbol visual, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem ekonomi dan budaya baru. Konsep ini melahirkan berbagai turunan budaya, seperti Batik Mentaram, arsitektur kota, hingga produk kerajinan lokal.
“Bahkan bros yang saya pakai saat ini, juga hasil dari turunan Gerbang Sangkareang,” ujarnya.
Mohan juga menyampaikan bahwa Batik Mentaram kini telah menembus panggung internasional, tampil di Bellabric dan Melbourne, Australia.
“Dari tangan pengerajin lokal, Batik Mentaram terus memperkuat identitas budaya daerah yang elegan, adaptif, dan mampu bersaing di ranah global,” jelasnya.
Gerbang Sangkareang dinilai telah memberikan dampak ekonomi nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja lokal, peningkatan UMKM, hingga penguatan city branding Kota Mataram secara berkelanjutan.
Selain Mohan Roliskana, sejumlah kepala daerah lain juga melakukan presentasi langsung, di antaranya Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Wali Kota Samarinda Andi Harun.
Sementara Bupati Lampung Utara Harmartoni Ahadis, Bupati Temanggung Agus Setiawan, Bupati Manggarai Heribertus Geradus Laju Nabit, dan Bupati Blora Arief Rohman hadir secara bergiliran.
Adapun Bupati Labuhanbatu Maya Hasmita, Bupati Manokwari Hermus Indou, dan Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis mengikuti presentasi melalui zoom karena kendala dan tugas yang tidak bisa ditinggalkan.
Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI-HPN 2026 berjumlah lima orang, terdiri dari unsur internal dan eksternal PWI Pusat, yakni Dr. Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T, Sudjiwo Tejo, Akhmad Munir, dan Yusuf Susilo Hartono.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










