DPRD NTB Angkat Bicara, Nadirah Al-Habsyi Puji Fatwa MUI: Tiga Pajak Ini Haram Dipungut dari Rakyat

Avatar

- Jurnalis

Kamis, 27 November 2025 - 11:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Isu Pajak kembali memanas setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa yang menyebut Tiga jenis Pajak sebagai Haram dipungut dari Rakyat. Menyikapi hal ini, Anggota DPRD NTB sekaligus Ketua DPW PBB NTB, Nadirah Al-Habsyi, angkat bicara dan memberikan Apresiasi terbuka. Ia menilai Fatwa tersebut menyentuh langsung Persoalan Keadilan Fiskal yang selama ini dirasakan berat oleh Masyarakat Kecil.

SUMBAWAPOST.com| Mataram- Wacana reformasi pajak kembali menghangat setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi menerbitkan fatwa tentang Pajak Berkeadilan. Fatwa ini langsung menuai respons positif dari Anggota DPRD NTB sekaligus Ketua DPW Partai Bulan Bintang (PBB) NTB, Nadirah Al-Habsyi, Kamis (27/11/2025), yang menilai ketetapan tersebut menyentuh nurani Rakyat dan memberi arah baru bagi kebijakan Fiskal yang lebih Manusiawi.

Dalam penjelasannya, Nadirah Al-Habsyi menegaskan bahwa MUI telah mengatur Tiga jenis Pajak yang Haram dipungut, karena dinilai bertentangan dengan Prinsip Keadilan, Kemaslahatan, dan Perlindungan terhadap Masyarakat kecil.

1. Pajak atas Kebutuhan Primer Haram Dipungut

MUI menilai barang kebutuhan pokok seperti sembako tidak boleh dibebani pajak apa pun, karena termasuk kebutuhan dasar yang menjadi hak setiap warga negara.

Baca Juga :  Selamat, Kadis LHK NTB Menerima Penghargaan ADI NITI dari Menteri LHK RI 2024

“Jika sembako masih dipajak, berarti Negara secara tidak langsung membebani perut rakyat kecil. Itu tidak adil, dan MUI sangat tegas soal itu,” ujar Nadirah Al-Habsyi

2. Pajak Berulang atas Bumi dan Bangunan, Diharamkan untuk Hunian Masyarakat

Bumi dan Bangunan yang dihuni untuk kebutuhan pribadi dan bukan untuk kepentingan komersial tidak boleh dikenakan Pajak Berulang setiap tahun.
“Masyarakat sudah membeli tanah dan membangun rumah menggunakan biaya sendiri. Maka tidak adil jika setiap tahun kembali dipungut pajak hanya untuk bisa tinggal di rumahnya sendiri,” jelasnya.

3. Pajak yang tidak adil dan tidak sesuai kemampuan masyarakat, fatwa MUI Haram

Setiap pungutan pajak yang tidak mempertimbangkan kemampuan finansial warga atau tidak dialokasikan untuk kepentingan mereka yang membutuhkan, dinilai tidak sah secara syariah.

“Ini mengoreksi praktik pungutan yang memberatkan rakyat. Pajak harus diarahkan untuk keadilan sosial, bukan sekadar pemasukan negara,” tegasnya.

Baca Juga :  Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Lombok Timur Resmi Beroperasi, Bupati Haerul Warisin Terima Paspor Perdana

MUI juga menegaskan bahwa pajak penghasilan hanya boleh dikenakan kepada warga yang memiliki kemampuan finansial minimal setara dengan nisab zakat mal, yaitu 85 gram emas.

Ketentuan ini, menurut Nadirah Al-Habsyi yang juga istri dari Sekwil GP Ansor NTB Arman Anwar, menunjukkan konsistensi MUI dalam menyelaraskan prinsip syariah dengan keadilan ekonomi.

“Jika kemampuan finansial di bawah nisab, maka tidak boleh dipajaki. Negara harus memperhatikan batas minimum ini agar tidak menggerus pendapatan masyarakat kecil,” katanya.

Nadirah Al-Habsyi menyampaikan penghargaan mendalam terhadap MUI karena berani mengeluarkan fatwa yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat luas.

“Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi. Fatwa ini bukan hanya panduan moral, tetapi tamparan halus bagi pemerintah agar menata ulang sistem perpajakan secara lebih adil, transparan, dan berpihak pada rakyat,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah Pusat hingga Daerah menjadikan Fatwa ini sebagai refleksi serius untuk Evaluasi kebijakan Fiskal, terutama dalam isu pemajakan terhadap Kelompok Rentan dan Ekonomi Kecil.

 

Berita Terkait

Ranperda Pajak NTB Dikoreksi Mendagri, Komisi III DPRD Beberkan 6 Poin Ini Wajib Diperbaiki
Kemendagri Koreksi Pajak Air NTB, Komisi III Soroti Water Meter, Air Payau hingga IPR
Kemendagri Hapus Sejumlah Tarif Retribusi dalam Ranperda Pajak NTB, Ini Daftarnya
Bom Meledak di Lombok Tengah Jelang MotoGP Mandalika 2026, Tim Jibom Polda NTB Bergerak
PMI NTB Yanuar Masih Tertahan di Myawaddy, Sudah Terhubung dan Sehat Tapi Belum Bisa Pulang, Ini Alasannya
PKL Nasional di Kemenag RI, Mahasiswa FDIK UIN Mataram Didorong Uji Skill dan Mental di Dunia Kerja
Mahasiswa Bima Tusuk Ihsan hingga Tewas di Pantai Wadu Baba, Terancam Hukuman Mati
Sakit Hati Pacarnya Diduga Diperkosa, Mahasiswa Bima Tusuk Pemuda Pantai Hingga Tewas
Berita ini 113 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:23 WIB

Ranperda Pajak NTB Dikoreksi Mendagri, Komisi III DPRD Beberkan 6 Poin Ini Wajib Diperbaiki

Selasa, 29 September 2026 - 16:57 WIB

Kemendagri Koreksi Pajak Air NTB, Komisi III Soroti Water Meter, Air Payau hingga IPR

Selasa, 29 September 2026 - 15:44 WIB

Kemendagri Hapus Sejumlah Tarif Retribusi dalam Ranperda Pajak NTB, Ini Daftarnya

Selasa, 29 September 2026 - 11:49 WIB

Bom Meledak di Lombok Tengah Jelang MotoGP Mandalika 2026, Tim Jibom Polda NTB Bergerak

Senin, 28 September 2026 - 19:50 WIB

PMI NTB Yanuar Masih Tertahan di Myawaddy, Sudah Terhubung dan Sehat Tapi Belum Bisa Pulang, Ini Alasannya

Berita Terbaru