SUMBAWAPOST.com | Malang- Tak banyak yang tahu, Balai Latihan Kerja (BLK) Singosari, Malang, adalah BLK pertama di Indonesia. Didirikan tahun 1951 dan mulai aktif beroperasi pada 1957, lembaga ini menjadi tonggak sejarah dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia di bidang ketenagakerjaan.
“Pertama di Indonesia salah satunya di Singosari. BLK Singosari berdiri tahun 1951 dan mulai aktif 1957. Dari 10 BLK di Indonesia, Singosari yang tertua,” ungkap Isman Widodo, Kepala BLK Singosari, didepan sejumlah Forum Wartawan Parlemen (FWP) DPRD NTB yang melakukan kunjungan Press trip di sela kegiatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur. Kamis (13/11/2025).
Isman menjelaskan, sejak berdiri, BLK Singosari telah melahirkan ribuan lulusan yang tak hanya berkiprah di tingkat lokal dan regional, tapi juga menembus pasar tenaga kerja internasional.
“Lulusan BLK Singosari bukan hanya di dalam negeri, tapi juga bekerja di luar negeri. Kami terus mendorong peserta agar lebih giat dan mampu mengoptimalkan potensi yang ada,” jelasnya.
Dari ruang pelatihan sederhana di masa awal republik, BLK Singosari kini tumbuh menjadi pusat pembelajaran berbasis industri dan masyarakat. Di sini, berbagai program pelatihan digelar mulai dari teknik listrik, otomotif, pengelasan, tata boga, tata busana, hingga teknologi informasi dan kewirausahaan.
“Pelatihan di BLK Singosari itu tidak hanya menyiapkan tenaga kerja untuk industri besar, tapi juga membangun kemandirian masyarakat. Ada pelatihan berbasis industri, tapi juga berbasis komunitas, agar peserta punya kompetensi dan daya saing,” terang Isman.
Kini, BLK Singosari memasuki babak baru. Lembaga legendaris ini menjadi salah satu pionir penerapan konsep Skill Setter sistem pelatihan modern yang menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan dunia usaha dan industri (DUDI).
“Skill Setter ini sistem pelatihan terbaru. Kami sesuaikan dengan kebutuhan industri agar lulusan langsung bisa diserap. Jadi bukan sekadar belajar teori, tapi benar-benar siap kerja,” ujarnya.
Namun, Isman tidak menampik adanya tantangan besar. Dunia kerja bergerak cepat, sementara tidak semua kompetensi sekolah formal sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kami melihat banyak lulusan sekolah yang belum sesuai dengan kebutuhan industri. Di sinilah peran BLK untuk menyiapkan tenaga kerja yang benar-benar terampil, bukan hanya berijazah,” tegasnya.
Selain fokus pada pelatihan, BLK Singosari juga aktif membangun jejaring kemitraan dengan berbagai pihak. Saat ini, lembaga ini telah bekerja sama dengan puluhan perusahaan di Jawa Timur dan luar daerah, termasuk pernah mendampingi program pelatihan di kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
“Kami pernah juga mendampingi pelatihan di Mandalika. Itu menjadi pengalaman penting, karena pelatihan di sana bukan sekadar soal keterampilan, tapi juga adaptasi budaya dan karakter lokal,” kata Isman.
Ke depan, BLK Singosari berencana menggandeng lembaga keuangan untuk menyediakan skema pembiayaan lunak bagi alumni pelatihan yang ingin berwirausaha.
“Banyak peserta yang ingin mandiri. Kami sedang membahas dengan pihak terkait agar ada pembiayaan ringan untuk alumni BLK. Harapannya, mereka bisa membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja baru,” tutup Isman.









