Putri Mahkota Swedia Terpesona Kearifan Adat Bayan, dari Gumi Inaq hingga Hutan Adat

Avatar

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 08:25 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Putri Mahkota Swedia HRH Crown Princess Victoria Saat Berdialog Dengan Masyarakat Adat di Desa Karang Bajo, Kabupaten Lombok Utara.

Putri Mahkota Swedia HRH Crown Princess Victoria Saat Berdialog Dengan Masyarakat Adat di Desa Karang Bajo, Kabupaten Lombok Utara.

SUMBAWAPOST.com |™ Lombok Utara- Kearifan Masyarakat Adat Bayan dalam menjaga Alam dan Mempertahankan peran Perempuan mendapat Perhatian khusus dari Duta Kehormatan UNDP sekaligus Putri Mahkota Swedia, HRH Crown Princess Victoria.

Putri Mahkota Victoria mengunjungi Masjid Adat Bayan dan berdialog langsung dengan Masyarakat adat di Desa Karang Bajo, Kabupaten Lombok Utara, Minggu (6/9/2026).

Kunjungan tersebut didampingi Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, dan Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri.

Turut hadir Sekretaris Negara untuk Perdagangan Internasional Swedia Diana Janse dan Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella.

Suasana dialog berlangsung hangat. Bahkan, salah satu pranata adat Karang Bajo, Raden Gedarib, menyapa Putri Mahkota menggunakan bahasa Swedia.

Kepala Bidang Kebudayaan Dikbudpora Lombok Utara, Raden Sawinggih, menjelaskan filosofi masyarakat Sasak dalam menjaga lingkungan.

“Bumi adalah ibu. Untuk menghormati kelestarian alam, masyarakat adat Bayan menempatkan perangkat adat khusus yang bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan secara spiritual agar dampaknya terus memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Miq Iqbal dan Angelina Sondakh ‘Jabat Tangan’ di Banyumulek: Lahirkan Ponpes Love Tahfidz untuk Dunia

Perwakilan perempuan adat, Denda Wensi, kemudian memaparkan konsep Gumi Inaq atau Bumi Ibu yang menjadi simbol kesuburan. Menurutnya, nilai kesetaraan gender telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat adat Bayan.

“Perempuan memiliki peran strategis. Dalam ritual adat, perempuan memegang urusan internal, laki-laki di bagian eksternal. Tidak ada perempuan yang dimarginalkan. Dalam pengambilan keputusan, perempuan adat Bayan selalu dilibatkan, baik melalui forum adat maupun Musrenbang,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Karang Bajo, Satradi, menyampaikan bahwa masyarakat adat masih menjaga empat hutan adat yang menjadi penopang 37 titik mata air.

Salah satunya Hutan Adat Pengempokan dengan luas 9,27 hektare. Kawasan tersebut kini menjalani proses reboisasi pada 2025-2026 melalui kolaborasi dengan pemerintah.

Tradisi Selamat Mata Air juga masih dipertahankan. Para petani baru mulai menanam setelah ritual tersebut selesai dilaksanakan.

Masjid Kuno Bayan pun tetap menjadi pusat pelaksanaan berbagai ritual, termasuk saat Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Adat.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati Salurkan 39 Ekor Sapi Kurban untuk Lombok, Salah Satunya Berbobot Lebih dari Satu Ton

“Kami berharap kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kebudayaan Nasional. Jika nilai adat ini hilang, apalah jadinya daerah kita. Tagline NTB Mendunia sejalan dengan cita-cita kami agar Bayan dikenal internasional,” kata Satradi.

Putri Mahkota Victoria menyampaikan apresiasi atas sambutan dan kearifan masyarakat adat Bayan.

“Terima kasih atas keramahtamahan yang hangat. Ini pengalaman istimewa berkunjung ke hutan adat. Saya tersentuh melihat bagaimana masyarakat menurunkan pengetahuan dan kearifan lokal kepada generasi muda,” ungkapnya.

“Saya merasa terhormat menjadi bagian dari interaksi budaya masyarakat adat di sini,” tambahnya.

Usai dialog, rombongan menyaksikan prosesi nyesek, yakni tradisi menenun kain khas Sasak yang dilakukan oleh perempuan adat.

Pemerintah Provinsi NTB menyambut positif kunjungan tersebut. Kehadiran Putri Mahkota Swedia dinilai menjadi bentuk pengakuan internasional terhadap nilai budaya, pelestarian lingkungan, dan kesetaraan gender yang terus dijaga masyarakat NTB.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Operasi Narkoba di Hiburan Malam Senggigi: 21 Orang Positif, Sabu dan 23 Butir Inex Disita
Sumbawa Produksi 650 Ribu Ton Jagung, Limbahnya Dibidik Jadi Produk Kerajinan Bernilai Ekonomi
PSOI NTB Optimistis Bidik Emas di PON 2028, Kejurnas Jadi Ajang Ukur Kekuatan Lawan
Atlet PSOI NTB Torehkan Prestasi di Kejurnas dan LSI Bali, Ini Daftar Nama dan Peraih Medali
Atlet PSOI NTB Bronson Meydi Borong Emas di Kejurnas dan Liga Surfing Indonesia di Bali
Ketua PSOI NTB Nurbaya Sari Minta KONI Perhatikan Kesejahteraan Atlet Selancar
Bronson Meydi Kembali Raih Emas di Liga Surfing Indonesia, Ketua PSOI NTB: Luar Biasa!
Atlet PSOI NTB Bronson Meydi Sumbang Emas Pertama KONI NTB di Kejurnas Selancar Bali
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 01:20 WIB

Operasi Narkoba di Hiburan Malam Senggigi: 21 Orang Positif, Sabu dan 23 Butir Inex Disita

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 01:08 WIB

Sumbawa Produksi 650 Ribu Ton Jagung, Limbahnya Dibidik Jadi Produk Kerajinan Bernilai Ekonomi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:25 WIB

PSOI NTB Optimistis Bidik Emas di PON 2028, Kejurnas Jadi Ajang Ukur Kekuatan Lawan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Atlet PSOI NTB Torehkan Prestasi di Kejurnas dan LSI Bali, Ini Daftar Nama dan Peraih Medali

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Atlet PSOI NTB Bronson Meydi Borong Emas di Kejurnas dan Liga Surfing Indonesia di Bali

Berita Terbaru