SUMBAWAPOST.com |™ Lombok Utara- Kearifan Masyarakat Adat Bayan dalam menjaga Alam dan Mempertahankan peran Perempuan mendapat Perhatian khusus dari Duta Kehormatan UNDP sekaligus Putri Mahkota Swedia, HRH Crown Princess Victoria.
Putri Mahkota Victoria mengunjungi Masjid Adat Bayan dan berdialog langsung dengan Masyarakat adat di Desa Karang Bajo, Kabupaten Lombok Utara, Minggu (6/9/2026).
Kunjungan tersebut didampingi Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, dan Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri.
Turut hadir Sekretaris Negara untuk Perdagangan Internasional Swedia Diana Janse dan Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella.
Suasana dialog berlangsung hangat. Bahkan, salah satu pranata adat Karang Bajo, Raden Gedarib, menyapa Putri Mahkota menggunakan bahasa Swedia.
Kepala Bidang Kebudayaan Dikbudpora Lombok Utara, Raden Sawinggih, menjelaskan filosofi masyarakat Sasak dalam menjaga lingkungan.
“Bumi adalah ibu. Untuk menghormati kelestarian alam, masyarakat adat Bayan menempatkan perangkat adat khusus yang bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan secara spiritual agar dampaknya terus memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Perwakilan perempuan adat, Denda Wensi, kemudian memaparkan konsep Gumi Inaq atau Bumi Ibu yang menjadi simbol kesuburan. Menurutnya, nilai kesetaraan gender telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat adat Bayan.
“Perempuan memiliki peran strategis. Dalam ritual adat, perempuan memegang urusan internal, laki-laki di bagian eksternal. Tidak ada perempuan yang dimarginalkan. Dalam pengambilan keputusan, perempuan adat Bayan selalu dilibatkan, baik melalui forum adat maupun Musrenbang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Karang Bajo, Satradi, menyampaikan bahwa masyarakat adat masih menjaga empat hutan adat yang menjadi penopang 37 titik mata air.
Salah satunya Hutan Adat Pengempokan dengan luas 9,27 hektare. Kawasan tersebut kini menjalani proses reboisasi pada 2025-2026 melalui kolaborasi dengan pemerintah.
Tradisi Selamat Mata Air juga masih dipertahankan. Para petani baru mulai menanam setelah ritual tersebut selesai dilaksanakan.
Masjid Kuno Bayan pun tetap menjadi pusat pelaksanaan berbagai ritual, termasuk saat Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Adat.
“Kami berharap kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kebudayaan Nasional. Jika nilai adat ini hilang, apalah jadinya daerah kita. Tagline NTB Mendunia sejalan dengan cita-cita kami agar Bayan dikenal internasional,” kata Satradi.
Putri Mahkota Victoria menyampaikan apresiasi atas sambutan dan kearifan masyarakat adat Bayan.
“Terima kasih atas keramahtamahan yang hangat. Ini pengalaman istimewa berkunjung ke hutan adat. Saya tersentuh melihat bagaimana masyarakat menurunkan pengetahuan dan kearifan lokal kepada generasi muda,” ungkapnya.
“Saya merasa terhormat menjadi bagian dari interaksi budaya masyarakat adat di sini,” tambahnya.
Usai dialog, rombongan menyaksikan prosesi nyesek, yakni tradisi menenun kain khas Sasak yang dilakukan oleh perempuan adat.
Pemerintah Provinsi NTB menyambut positif kunjungan tersebut. Kehadiran Putri Mahkota Swedia dinilai menjadi bentuk pengakuan internasional terhadap nilai budaya, pelestarian lingkungan, dan kesetaraan gender yang terus dijaga masyarakat NTB.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










