Bawaslu NTB Wacanakan E-Voting untuk Pemungutan Suara Pemilu

Avatar

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 05:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Bawaslu NTB Itratip bersama Direktur WALHI NTB Amri Nuryadin saat melakukan diskusi terkait pemilu ramah lingkungan dan wacana E-Voting di Mataram.

Ketua Bawaslu NTB Itratip bersama Direktur WALHI NTB Amri Nuryadin saat melakukan diskusi terkait pemilu ramah lingkungan dan wacana E-Voting di Mataram.

SUMBAWAPOST.com | Mataram- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai membuka ruang diskusi terkait inovasi sistem pemungutan suara berbasis digital atau E-Voting sebagai bagian dari upaya mewujudkan pemilu yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Wacana tersebut mengemuka dalam kunjungan konsolidasi Demokrasi Bawaslu NTB ke kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTB yang diterima langsung oleh Direktur WALHI NTB, Amri Nuryadin, Kamis (18/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog strategis yang membahas kolaborasi pengawasan pemilu ramah lingkungan, pengelolaan alat peraga kampanye (APK), hingga penguatan konsep Green Democracy Indonesia yang kini mulai didorong dalam praktik Demokrasi modern.

Dalam pertemuan itu, Ketua Bawaslu NTB, Itratip, menegaskan bahwa pengawasan pemilu ke depan tidak hanya berfokus pada aspek kepatuhan regulasi, tetapi juga harus memperhatikan dampak lingkungan dari setiap tahapan demokrasi.

Ia menilai WALHI memiliki perspektif penting dalam mendorong penyelenggaraan pemilu yang tidak hanya Demokratis, tetapi juga berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Kami melihat WALHI memiliki perspektif penting terkait keramahtamahan lingkungan dalam penyelenggaraan pemilu. Karena itu, kolaborasi antara Bawaslu dan WALHI menjadi sangat strategis untuk mendorong lahirnya pemilu yang tidak hanya demokratis, tetapi juga berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ujar Itratip.

Menurutnya, salah satu fokus kolaborasi adalah pengawasan alat peraga kampanye (APK), termasuk penanganan sampah pasca-penertiban yang kerap menjadi persoalan di ruang publik.
Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan data terkait pencetakan APK oleh peserta pemilu.

Baca Juga :  Debat Perdana Pilgub NTB 2024: Ketiga Paslon Adu Gagasan

“Semestinya ketika peserta pemilu mencetak APK di luar yang difasilitasi KPU, seluruh informasi terkait jumlah, materi muatan, desain, hingga spesifikasinya dilaporkan kepada penyelenggara pemilu. Hal ini penting untuk memastikan kepatuhan regulasi sekaligus memudahkan pengawasan,” katanya.

Bawaslu NTB juga membuka ruang partisipasi WALHI untuk ikut melakukan pemantauan dari sisi lingkungan, mulai dari jumlah APK, bahan yang digunakan, hingga sebarannya di wilayah desa dan kelurahan.

“WALHI dapat melihat dari sisi keramahtamahan lingkungannya. Misalnya mengawasi berapa jumlah APK yang terpasang, dipasang pada media apa, menggunakan penyangga dari bahan apa, serta sebarannya di setiap desa dan kelurahan. Temuan tersebut dapat dilaporkan untuk kemudian ditindaklanjuti melalui mekanisme penertiban sesuai ketentuan yang berlaku,” tambahnya.

Dari sisi lingkungan, Direktur WALHI NTB, Amri Nuryadin, menegaskan bahwa Demokrasi tidak dapat dipisahkan dari isu keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA).

Ia menilai konsep Green Democracy Indonesia perlu terus diperkuat agar proses politik tidak meninggalkan dampak lingkungan yang merugikan.

“Kami melihat adanya hubungan yang erat antara Demokrasi, pengelolaan Sumber Daya Alam, dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, gagasan Green Democracy Indonesia perlu terus didorong agar proses politik tidak menghasilkan limbah yang merugikan lingkungan,” ujar Amri.

Amri juga menyoroti praktik pemasangan APK yang masih banyak menempel pada pohon atau menggunakan material yang tidak ramah lingkungan.

“Pemasangan APK pada pohon sama tidak ramah lingkungannya dengan pemasangan APK yang menggunakan penyangga dari kayu. Keduanya perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan,” tegasnya.

Baca Juga :  Polresta Mataram Diduga Tutup Mata, Kasus Penganiayaan oleh Direktur Debt Collector Mandek, Kuasa Hukum Ancam Lapor Kapolri

Selain itu, diskusi turut menyoroti besarnya penggunaan surat suara dalam setiap pemilu yang menghasilkan konsumsi kertas dalam jumlah besar. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan lingkungan yang perlu dicarikan solusi ke depan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Bawaslu NTB menyebut perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi dampak lingkungan dalam penyelenggaraan pemilu, termasuk melalui opsi E-Voting.

“Penggunaan surat suara sebagai alat menghitung perolehan suara dapat dipandang sebagai salah satu aspek yang kurang ramah lingkungan karena membutuhkan penggunaan kertas dalam jumlah sangat besar. Dalam konteks tersebut, E-Voting bisa dimaknai sebagai salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan untuk mewujudkan pemilu yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, WALHI NTB menilai efisiensi penggunaan sumber daya dalam sistem pemilu merupakan bagian penting dari reformasi Demokrasi yang perlu terus dikaji.

“Jika berbicara lebih jauh, pemilu yang ramah lingkungan juga dapat dikaitkan dengan pilihan sistem pemilu yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya. Ini tentu menjadi ruang diskusi yang menarik untuk dikaji bersama oleh berbagai pihak,” katanya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara Bawaslu NTB dan WALHI NTB. Kedua pihak sepakat bahwa penguatan demokrasi dan perlindungan lingkungan merupakan agenda yang dapat berjalan beriringan menuju tata kelola pemerintahan yang lebih berintegritas dan berkelanjutan.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Mahasiswa NTB Didorong Jadi ‘Satpam’ Demokrasi, Bawaslu Ungkap Alasannya
KPU NTB Ingatkan Parpol: SIPOL Jangan Dibiarkan Berdebu, Data Harus Rajin Diupdate
Sensus Ekonomi 2026 NTB Dikebut, 658 Ribu Usaha Bakal Didata Door to Door
Gubernur NTB Gaspol Sensus Ekonomi 2026: Jangan Lagi Pakai Intuisi, Data Itu Raja
Era Kendaraan Listrik Dimulai di NTB, Sekda: Nanti Bukan Lagi Tanya Isi Bensin, Tapi Sudah Dicas Belum
NTB Bersiap Tinggalkan BBM? Sekda Abul Chair Ajak Warga Beralih ke Kendaraan Listrik
1.860 Anak Terindikasi Stunting di Lombok Barat Diskrining Ulang
NTB Pamerkan Mobil Listrik di Kantor Gubernur, Sekda Abul Chair: Bukan Sekadar Tren Tapi Masa Depan Energi Bersih
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 05:35 WIB

Bawaslu NTB Wacanakan E-Voting untuk Pemungutan Suara Pemilu

Minggu, 21 Juni 2026 - 04:55 WIB

Mahasiswa NTB Didorong Jadi ‘Satpam’ Demokrasi, Bawaslu Ungkap Alasannya

Minggu, 21 Juni 2026 - 04:49 WIB

KPU NTB Ingatkan Parpol: SIPOL Jangan Dibiarkan Berdebu, Data Harus Rajin Diupdate

Minggu, 21 Juni 2026 - 04:31 WIB

Sensus Ekonomi 2026 NTB Dikebut, 658 Ribu Usaha Bakal Didata Door to Door

Minggu, 21 Juni 2026 - 03:26 WIB

Gubernur NTB Gaspol Sensus Ekonomi 2026: Jangan Lagi Pakai Intuisi, Data Itu Raja

Berita Terbaru

Ketua Bawaslu NTB Itratip bersama Direktur WALHI NTB Amri Nuryadin saat melakukan diskusi terkait pemilu ramah lingkungan dan wacana E-Voting di Mataram.

Politik

Bawaslu NTB Wacanakan E-Voting untuk Pemungutan Suara Pemilu

Minggu, 21 Jun 2026 - 05:35 WIB

Gubernur NTB didampingi Sekda NTB bersama Anggota DPR RI, Kepala BPS RI, Forkopimda, serta para bupati dan wali kota se-NTB saat menghadiri pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Mataram.

Bisnis & Ekonomi

Sensus Ekonomi 2026 NTB Dikebut, 658 Ribu Usaha Bakal Didata Door to Door

Minggu, 21 Jun 2026 - 04:31 WIB