SUMBAWAPOST.com | Jakarta- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat komitmen dalam perlindungan ekosistem laut melalui partisipasi aktif pada peluncuran Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Morrissey Hotel Jakarta, Selasa (27/1/2026). Inisiatif ini melibatkan 58 organisasi dan komunitas lokal yang aktif bergerak di wilayah pesisir dan laut sebagai garda terdepan perlindungan ekosistem.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Bappeda NTB, Iskandar Zulkarnain, S.Pt., M.Si., sebagai bentuk dukungan daerah terhadap program konservasi berskala internasional yang melibatkan kerja sama strategis antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat.
Program TFCCA merupakan inisiatif kolaboratif dalam memperkuat konservasi, perlindungan, serta restorasi terumbu karang melalui skema debt for nature swap. Skema ini memungkinkan pengalihan sebagian kewajiban utang untuk pembiayaan program lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Provinsi NTB menjadi salah satu wilayah penerima manfaat program tersebut. Sejumlah kawasan pesisir dan laut ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan, antara lain Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Timur, Sekotong, Pulau Moyo, hingga Sumbawa. Wilayah-wilayah ini dikenal memiliki ekosistem terumbu karang yang strategis bagi keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat pesisir.
Kabid Perekonomian dan SDA Bappeda NTB, Iskandar Zulkarnain, menegaskan bahwa program TFCCA memiliki nilai strategis bagi NTB karena tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap pembangunan ekonomi daerah.
“Program TFCCA ini sangat penting bagi NTB karena sejalan dengan upaya menjaga ekosistem laut sekaligus mendorong ketahanan pangan, pariwisata bahari, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir,” ujar Iskandar.
Ia menambahkan, terjaganya kesehatan terumbu karang akan memberikan manfaat jangka panjang, baik dari sisi lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor kelautan dan perikanan.
“Dengan terumbu karang yang sehat, produktivitas laut akan meningkat. Ini bukan hanya soal konservasi, tetapi juga investasi jangka panjang bagi masyarakat pesisir,” jelasnya.
Secara keseluruhan, Program TFCCA diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir NTB. Selain menjaga keberlanjutan sumber daya alam, program ini juga dinilai mampu memperkuat fondasi ekonomi lokal, mendorong sektor pariwisata bahari, serta memastikan keberlanjutan ketahanan pangan berbasis kelautan di masa depan.
Terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Koswara, menegaskan bahwa TFCCA sejalan dengan arah kebijakan ekonomi biru yang tengah dikembangkan pemerintah. Menurutnya, keberlanjutan ekosistem laut menjadi fondasi utama dalam pembangunan sektor kelautan Indonesia.
“Di tengah ancaman perubahan iklim, pencemaran laut, dan praktik penangkapan ikan yang merusak, konservasi terumbu karang menjadi agenda strategis pemerintah dalam kerangka kebijakan ekonomi biru,” ujar Koswara, dikutip dari Antara, Selasa (27/1/2026).
Terumbu karang memiliki peran vital bagi kehidupan laut dan masyarakat pesisir. Selain menjadi habitat ribuan spesies ikan, ekosistem ini juga berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi serta menopang perekonomian lokal melalui sektor perikanan dan pariwisata bahari.
Namun demikian, kondisi terumbu karang Indonesia saat ini menghadapi tekanan yang kian serius. Kenaikan suhu laut, meluasnya pencemaran, hingga masih maraknya praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan menjadi tantangan nyata di berbagai daerah. Atas dasar itu, pemerintah menilai diperlukan pendekatan kolaboratif yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam upaya konservasi. Kehadiran TFCCA diharapkan mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Koswara juga menjelaskan bahwa TFCCA tidak hanya berdimensi nasional, tetapi menjadi bagian dari diplomasi biru Indonesia di tingkat global. “Program TFCCA merupakan upaya diplomasi biru yang mengedepankan sinergi global hingga lokal untuk mendukung konservasi ekosistem laut, khususnya terumbu karang, secara inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai penanda dimulainya implementasi program, tujuh perwakilan penerima hibah menandatangani perjanjian hibah pada momentum peluncuran. Mereka mewakili para pelaksana kegiatan konservasi di berbagai wilayah Indonesia.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










