Misteri Pengadaan Mobil Dinas Gubernur NTB: Harga Tak Konsisten, Pejabat Diminta Bertanggung Jawab

Avatar

- Jurnalis

Minggu, 9 Maret 2025 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMBAWAPOST.com, Mataram – Pengadaan mobil dinas untuk Gubernur dan Wakil Gubernur NTB kembali menuai kritik. Ardiansyah, Koordinator Nasional Poling (NaSpol) NTB, menyoroti adanya kejanggalan dalam anggaran yang tercatat di Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) LKPP.

“Terdapat dua kode RUP dengan angka yang mencurigakan: Kode RUP 55320615 senilai Rp 1,3 miliar dan Kode RUP 55319124 dengan total Rp 3,52 miliar untuk dua unit mobil dinas,” ujar Ardiansyah, Senin, 10 Maret 2025.

Ketidaksesuaian Harga, Publik Berhak Bertanya

Ardiansyah menegaskan bahwa harga satu unit mobil dinas tidak sesuai dengan pernyataan Gubernur NTB sebelumnya. Dalam pernyataannya, gubernur menyebut bahwa satu unit mobil dinas dibeli seharga Rp 1 miliar. Namun, data di SiRUP LKPP menunjukkan angka yang berbeda.

Bahkan, harga Hyundai Palisade Signature mobil yang diduga dibeli di situs resmi Hyundai tercatat Rp 1,259,500.000 per unit. “Harga ini lebih tinggi dari klaim gubernur, sehingga perlu ada penjelasan terbuka,” tambahnya.

Pejabat Harus Bertanggung Jawab

Kepala Biro Umum Setda NTB menyatakan bahwa harga mobil dinas ini lebih murah dibanding kendaraan sebelumnya. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan kontradiksi. Pada tahun 2020, gubernur saat itu menolak pengadaan mobil dinas senilai Rp 1,22 miliar, sedangkan kini dengan anggaran yang lebih besar, justru tetap dilakukan pembelian.

Baca Juga :  Jelang Masa Kampanye Pilkada 2024, KPU NTB Bimtek Jajaran KPU Kabupaten Kota

“Jika dulu dianggap tidak perlu, kenapa sekarang tetap dibeli dengan harga lebih tinggi? Ini yang harus dijelaskan ke publik,” tegas Ardiansyah.

Transparansi Wajib. Jangan Sampai Ada yang Ditutup-Tutupi.

NaSpol NTB mendesak pemerintah daerah untuk membuka informasi terkait harga, spesifikasi, dan mekanisme pembelian mobil ini melalui sistem e-purchasing.

“Publik berhak tahu! Jangan sampai ada kesan pengadaan ini ditutupi dan tidak transparan,” cetusnya.

Selain itu, ia juga meminta gubernur lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan publik. Jika sebelumnya berjanji untuk menghemat anggaran daerah, mengapa justru mengeluarkan dana besar untuk mobil mewah?

Aparat Hukum Harus Turun Tangan

Dugaan kejanggalan dalam pengadaan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. “Jika ada indikasi mark-up atau penyalahgunaan anggaran, aparat harus segera bertindak. Transparansi adalah kunci menjaga kepercayaan rakyat terhadap pemerintah daerah,” tutup Ardiansyah.

Gubernur NTB Klaim Hemat Anggaran

Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal (LMI), menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan efisiensi anggaran dalam pengadaan kendaraan dinas (Randis) untuk dirinya dan Wakil Gubernur. Ia mengungkapkan bahwa anggaran awal yang disiapkan sebesar Rp5,7 miliar telah dikoreksi menjadi Rp2 miliar, menyusul penolakan keras dari berbagai pihak.

Baca Juga :  Ngeri! Segini Banyak Nyawa Melayang Akibat Kecelakaan di NTB Dalam Setahun

“Semula pagu anggaran mobil dinas gubernur dan wakil gubernur sebesar Rp5,7 miliar, lalu kami pangkas menjadi Rp2 miliar. Jadi, tidak benar kalau kami membeli mobil yang mahal,” ujarnya.

Dari Rp2,7 Miliar Jadi Rp1 Miliar per Unit

Lebih lanjut, Iqbal menjelaskan bahwa awalnya Pemprov NTB berencana membeli Randis seharga Rp2,7 miliar per unit. Namun, ia meminta Biro Umum Setda NTB mencari opsi kendaraan yang lebih murah, hingga akhirnya diputuskan menggunakan Hyundai Palisade, masing-masing seharga Rp1 miliar.

“Mobil baru yang saya dan Wagub gunakan ini seharga Rp1 miliar per unit. Jadi totalnya Rp2 miliar. Ini bentuk penghematan anggaran,” jelas mantan Duta Besar Indonesia untuk Turki itu.

Iqbal juga memastikan bahwa sisa anggaran dari pengadaan Randis tersebut akan dialokasikan untuk program yang lebih menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Pangkas Anggaran Pembangunan Fisik

Selain penghematan dalam pengadaan Randis, pria yang akrab disapa Mamiq Iqbal ini menegaskan bahwa pembangunan fisik yang dianggap tidak mendesak juga turut dipangkas sebagai bagian dari langkah efisiensi anggaran Pemprov NTB.

“Kami pangkas semua, termasuk pembangunan fisik yang tidak urgent,” tegasnya.

Berita Terkait

Cekcok Soal Uang, Anak Perempuan Diduga Aniaya Ayahnya Hingga Tewas di Lombok Barat
Seorang Ayah di Lombok Tewas Diduga Dianiaya Anak Perempuan Sendiri
TGB Ingatkan Bahaya Ghibah, Tekankan Etika Sosial dalam Halalbihalal NWDI di Mataram
Halalbihalal NWDI Jadi Panggung Konsolidasi, Pemprov NTB Dorong Kolaborasi Percepat Pembangunan
Di Hadapan RKB-WRKB Pulau Lombok, Wagub NTB Serukan Gotong Royong: Bangun Daerah dari Kita, Oleh Kita, untuk Kita
Ribuan Warga Bima Padati UIN Mataram, Ketua RKBPL Dorong Ekonomi Mandiri Berbasis Gotong Royong
Qori Cilik Juara Internasional Tampil, Halalbihalal dan Pelepasan Jamaah Calon Haji RKB Pulau Lombok Kian Khusyuk
KONI NTB Rapatkan Barisan, Matangkan Slot Atlet dan Nomor Unggulan Jelang Porprov 2026
Berita ini 146 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 18:32 WIB

Cekcok Soal Uang, Anak Perempuan Diduga Aniaya Ayahnya Hingga Tewas di Lombok Barat

Minggu, 19 April 2026 - 18:05 WIB

Seorang Ayah di Lombok Tewas Diduga Dianiaya Anak Perempuan Sendiri

Minggu, 19 April 2026 - 15:13 WIB

TGB Ingatkan Bahaya Ghibah, Tekankan Etika Sosial dalam Halalbihalal NWDI di Mataram

Minggu, 19 April 2026 - 14:01 WIB

Halalbihalal NWDI Jadi Panggung Konsolidasi, Pemprov NTB Dorong Kolaborasi Percepat Pembangunan

Minggu, 19 April 2026 - 13:24 WIB

Di Hadapan RKB-WRKB Pulau Lombok, Wagub NTB Serukan Gotong Royong: Bangun Daerah dari Kita, Oleh Kita, untuk Kita

Berita Terbaru

Terlihat Terduga Pelaku bersama Petugas kepolisian saat melakukan olah TKP kasus dugaan penganiayaan yang menewaskan seorang ayah di Desa Tamansari, Lombok Barat.

Hukum & Kriminal

Seorang Ayah di Lombok Tewas Diduga Dianiaya Anak Perempuan Sendiri

Minggu, 19 Apr 2026 - 18:05 WIB