SUMBAWAPOST.com | Mataram- Masuknya investor asal Spanyol ke kawasan Mandalika menjadi sinyal kuat bahwa Nusa Tenggara Barat (NTB) kian dilirik dunia internasional. Namun, investasi besar tersebut diingatkan agar tidak sekadar menghadirkan bangunan mewah, melainkan juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Anggota DPD RI Dapil NTB, Mirah Midadan Fahmid, menyambut positif rencana pembangunan vila senilai hampir Rp55 miliar di kawasan ITDC Mandalika. Meski demikian, ia menegaskan bahwa investasi harus tumbuh seiring dengan kesejahteraan rakyat.
“Saya menyambut baik investasi ini, tapi harus diingat, Mandalika bukan hanya soal bangunan mewah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kehadiran investor memberi manfaat langsung bagi masyarakat NTB,” tegas Mirah. Senin (19/1/2026).
Menurutnya, Mandalika harus dibangun dengan prinsip keadilan dan keberlanjutan. Tenaga kerja lokal wajib menjadi prioritas, UMKM harus dilibatkan secara aktif, serta nilai budaya dan kelestarian lingkungan tidak boleh diabaikan.
“Investasi boleh masuk, tapi harus bernapas NTB. Investor datang, ekonomi tumbuh, dan rakyat sejahtera. Mandalika harus maju, adil, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pembangunan inklusif, Mirah Midadan Fahmid menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis agar investasi di Mandalika benar-benar berpihak pada masyarakat lokal.
Pertama, ia menekankan pentingnya penyerapan tenaga kerja lokal dengan skema alih kompetensi. ITDC dan investor diharapkan menetapkan kuota minimal tenaga kerja asal NTB di setiap fase proyek, mulai dari konstruksi hingga manajerial. Tak hanya merekrut, investor juga diminta menyediakan pelatihan, magang, dan sertifikasi agar SDM lokal naik kelas.
Kedua, Mirah mendorong pembentukan Pusat Pelatihan Pariwisata Mandalika. Menurutnya, Pemprov NTB bersama ITDC dan investor perlu menghadirkan pusat pelatihan yang fokus pada manajemen hotel, bahasa asing, digital tourism, serta pelayanan berstandar internasional, sehingga masyarakat sekitar siap bersaing di pasar global.
Ketiga, ia menegaskan perlunya integrasi UMKM lokal ke dalam rantai pasok investor. Produk kuliner khas Lombok, kriya, jasa transportasi lokal, laundry, event organizer, hingga layanan budaya harus menjadi bagian inti ekosistem pariwisata, bukan sekadar pelengkap.
Keempat, Mirah menekankan pengembangan pariwisata berbasis budaya Lombok. Investor didorong untuk mengintegrasikan identitas lokal dalam desain dan layanan vila, mulai dari seni Sasak, kuliner khas, pertunjukan budaya, hingga narasi sejarah Mandalika.
“Inilah yang akan membuat Mandalika tidak hanya mewah, tapi juga berkarakter dan bernilai. Pariwisata yang tumbuh bersama budaya akan jauh lebih berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan pendekatan tersebut, Mirah berharap Mandalika benar-benar menjadi ikon pariwisata dunia yang tidak meninggalkan masyarakat lokal, melainkan tumbuh bersama mereka.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










