DPRD NTB Soroti Kasus Imam Masjid Gantung Diri Usai Diperiksa Polisi, Begini Kronologinya

Avatar

- Jurnalis

Rabu, 19 Maret 2025 - 08:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMBAWAPOST.com, Lombok Utara – Kejadian memilukan mengguncang masyarakat Kayangan, Lombok Utara, setelah seorang imam masjid, Riskil Watoni (almarhum), ditemukan gantung diri pada 17 Maret 2025, menjelang berbuka puasa. Insiden tragis ini diduga dipicu oleh tekanan psikologis akibat pemeriksaan intensif yang dilakukan pihak kepolisian, meskipun ia telah berdamai dengan pelapor dalam kasus dugaan pencurian ponsel.

Berawal dari Kesalahpahaman, Berakhir di Tahanan

Kejadian ini bermula saat Riskil Watoni berbelanja di sebuah minimarket. Tanpa sengaja, ia mengambil ponsel milik kasir yang tertinggal di meja, mengira itu adalah miliknya. Saat pemilik ponsel menelepon, almarhum langsung menyadari kesalahannya dan berjanji akan mengembalikannya setelah salat Tarawih.

Namun, sebelum sempat mengembalikan, anggota Polsek Kayangan tiba-tiba mendatangi rumahnya pada 7 Maret. Insiden ini semakin memanas setelah kasir minimarket memviralkan kejadian tersebut di media sosial.

Pihak kepolisian kemudian membawa almarhum ke Polsek Kayangan dan menahannya semalam. Pada hari berikutnya, ia bertemu langsung dengan pemilik ponsel dan menjelaskan bahwa tidak ada niat mencuri, melainkan hanya salah mengambil. Mereka akhirnya berdamai, bahkan almarhum sempat menyetorkan Rp2 juta sebagai bentuk penyelesaian.

Baca Juga :  Baiq Isvie Rupaeda Raih Penghargaan Tokoh Perempuan Inspiratif Politik NTB, Tiga Periode Pimpin DPRD

Namun, meskipun laporan telah dicabut dan perdamaian telah disepakati, almarhum tetap diwajibkan menjalani wajib lapor dan beberapa kali dipanggil oleh kepolisian.

Tekanan Berujung Tragedi

Riskil Watoni mengungkapkan kepada keluarganya bahwa ia merasa tertekan akibat terus dipanggil dan diperiksa meskipun kasus telah diselesaikan. Hingga akhirnya, pada 17 Maret 2025, menjelang berbuka puasa, ia ditemukan tewas gantung diri.

Kabar kematiannya menyebar cepat dan memicu kemarahan warga. Usai berbuka, ratusan massa mendatangi Polsek Kayangan untuk meminta klarifikasi terkait perlakuan polisi terhadap almarhum. Namun, karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan, massa mulai mengamuk dan melakukan aksi perusakan.

Anggota DPRD NTB Angkat Bicara

Menanggapi peristiwa ini, Anggota DPRD NTB Raden Luna mengecam keras tindakan kepolisian yang dinilai berlebihan dan tidak mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

“Seharusnya ada pendekatan yang lebih bijak dalam menangani kasus seperti ini. Jika memang sudah ada perdamaian, mengapa almarhum masih harus menjalani proses yang membuatnya tertekan?,” tegasnya. Rabu 19 Maret 2025.

Baca Juga :  12 Ribu Warga NTB Alami Gangguan Mata, 5.000 Disiapkan untuk Operasi Gratis

Ia juga menyoroti kurangnya transparansi dalam penanganan kasus ini dan meminta agar Polda NTB segera turun tangan untuk melakukan investigasi menyeluruh.

“Kami tidak ingin ada spekulasi liar. Jika ada kesalahan prosedur atau tekanan berlebihan dalam pemeriksaan, maka harus ada tindakan tegas,” tambahnya.

DPRD NTB Desak Investigasi Transparan

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD NTB, Marga Harun, juga turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan meminta agar Kapolda NTB, Hadi Gunawan, segera menindaklanjuti kasus ini secara serius.

“Jika ada oknum yang berperan dalam menekan almarhum hingga ia mengakhiri hidupnya, maka mereka harus ditindak tanpa pandang bulu,” katanya.

Marga Harun menegaskan bahwa jika terbukti ada penyalahgunaan wewenang, maka ini akan merusak citra kepolisian. “Kami ingin kepolisian tetap menjadi institusi yang dipercaya masyarakat. Kasus ini tidak boleh ditutup-tutupi,” pungkasnya.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden yang mengguncang Lombok Utara ini.

 

Berita Terkait

Saat Dunia Makin Ribut, KPU NTB Ingatkan Satu Obat Ampuh: Pancasila
Dulu Terseok, Kini Ngebut Usai Utang Beres! RSUP NTB Siap Naik Kelas Jadi Rumah Sakit Pendidikan Unggulan
Hari Lahir Pancasila 2026 di NTB, Miq Iqbal Tegaskan Pancasila Adalah Jangkar Perdamaian Global
Sekolah Rakyat Pertama di Pulau Sumbawa Disiapkan di Bima, Jadi Harapan Baru Pemerataan Pendidikan NTB
KPU NTB Berkurban di Idul Adha, Agus Hilman: Yang Dinilai Bukan Dagingnya, Tapi Ketakwaannya
PKS NTB Sembelih 193 Hewan Kurban, Sebanyak 2.000 Paket Daging Dibagikan untuk Warga
Momentum Halal Bihalal Idul Adha, Harmoni Kepemimpinan Lombok Timur Tuai Apresiasi
Bahlil Lahadalia dan Sari Yuliati Salurkan Sapi Kurban untuk NTB, Golkar Potong Lima Ekor di Mataram
Berita ini 658 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 19:49 WIB

Saat Dunia Makin Ribut, KPU NTB Ingatkan Satu Obat Ampuh: Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 - 18:13 WIB

Dulu Terseok, Kini Ngebut Usai Utang Beres! RSUP NTB Siap Naik Kelas Jadi Rumah Sakit Pendidikan Unggulan

Senin, 1 Juni 2026 - 13:55 WIB

Hari Lahir Pancasila 2026 di NTB, Miq Iqbal Tegaskan Pancasila Adalah Jangkar Perdamaian Global

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:55 WIB

Sekolah Rakyat Pertama di Pulau Sumbawa Disiapkan di Bima, Jadi Harapan Baru Pemerataan Pendidikan NTB

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:04 WIB

KPU NTB Berkurban di Idul Adha, Agus Hilman: Yang Dinilai Bukan Dagingnya, Tapi Ketakwaannya

Berita Terbaru