Mataram | SUMBAWAPOST.com- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mataram secara terbuka menantang Kapolda NTB, Edy Murbowo, untuk menggelar tes rambut massal terhadap seluruh jajaran kepolisian, mulai dari tingkat Polda NTB, Polres hingga Polsek, Senin (23/2/2026).
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Mataram, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa Nusa Tenggara Barat (NTB) kini menghadapi ancaman serius peredaran gelap narkoba di tengah geliat pariwisata internasional.
“Nusa Tenggara Barat kini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga tengah menghadapi tantangan besar sebagai wilayah dengan peredaran narkoba yang telah menyentuh garis bahaya,” tegas Farhan.
Menurutnya, kawasan wisata unggulan seperti Gili Trawangan dan Mandalika menjadi magnet wisata dunia, namun juga berpotensi dimanfaatkan jaringan narkoba karena tingginya mobilitas orang dan distribusi logistik.
Sementara itu, Wakapolda NTB Hari Nugroho sebelumnya menyampaikan bahwa pengungkapan kasus narkotika sepanjang 1 Januari hingga 28 Desember 2025 mencapai 1.010 kasus dengan total 1.453 tersangka.
Data tersebut, kata Farhan, merupakan capaian penegakan hukum, namun sekaligus menjadi alarm keras bahwa pasar narkoba di NTB masih sangat besar. Farhan menilai angka tersebut menunjukkan NTB sedang berpacu dengan waktu menghadapi ancaman narkoba yang telah menyasar hingga wilayah pedesaan dan kalangan anak muda.
“Jika tren ini berlanjut, jargon Bonus Demografi bisa berubah menjadi Bencana Demografi. Ketika produktivitas pemuda lumpuh akibat ketergantungan, fondasi ekonomi daerah ikut rapuh,” ujarnya.
Ia juga mengkritisi pola penindakan yang dinilai lebih banyak menyasar pengguna dan kurir kecil.
“Saya menantang Polda NTB, berapa banyak bandar besar yang berhasil diseret ke meja hijau? Mayoritas yang dirilis adalah pemain receh dan kurir yang mudah digantikan,” katanya.
Farhan bahkan mempertanyakan komitmen internal kepolisian dalam membersihkan dugaan oknum yang terlibat.
“Dengan maraknya peredaran narkoba di NTB, apakah Kapolda NTB pernah menangkap bandar besar? Atau ada indikasi pihak kepolisian dari atas sampai bawah ikut bermain dalam bisnis narkoba?,” tegasnya.
Menurut Farhan, sejumlah kasus yang menyeret aparat menjadi sinyal perlunya reformasi dan pengawasan internal yang lebih ketat.
Sebagai bentuk transparansi, HMI Cabang Mataram secara resmi menantang Kapolda NTB untuk memerintahkan tes rambut menyeluruh tanpa pengecualian, dari Polres hingga tingkat Polsek.
“Tes rambut adalah standar emas yang mampu melacak jejak penggunaan narkoba hingga 90 hari ke belakang. Jika Kapolda NTB benar-benar serius, sudah saatnya memerintahkan tes rambut menyeluruh bagi seluruh jajaran personel, tanpa terkecuali,” tandas Farhan.
Ia menambahkan, publik sudah jenuh dengan pemusnahan barang bukti yang bersifat seremonial, sementara pengawasan internal dinilai lemah.
“Jika Kapolda berani melakukan ini dan mengumumkan hasilnya secara terbuka, maka mosi tidak percaya masyarakat bisa berubah menjadi dukungan. Sebaliknya, jika diabaikan, publik akan menilai komitmen itu hanya retorika,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Kapolda NTB Edy Murbowo belum dapat dikonfirmasi untuk dimintai tanggapannya. Secara terpisah, Kabid Humas Polda NTB AKBP Mohammad Kholid juga belum memberikan respons saat dihubungi media ini.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










