SUMBAWAPOST.com, Mataram – Daerah Bima kembali diguncang skandal narkoba yang lebih mencengangkan dari sekadar peredaran barang haram. Jumlah narkoba yang beredar mungkin tidak se-fantastis kota-kota besar, tetapi dampaknya menghancurkan merusak keluarga, menyulut konflik sosial, dan melahirkan kejahatan-kejahatan lain. Namun, fakta yang lebih mengejutkan muncul: ada dugaan kuat bahwa pasar narkoba di Bima justru dikendalikan oleh oknum penegak hukum sendiri.
Akademisi Universitas Mataram (Unram), Taufan, mengungkapkan realitas yang mengerikan ini.
“Bukan soal kuantitas peredaran, tapi kualitas,” tegasnya. Saat menghadiri acara Buka puasa bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Hukum Bima (FKMHB) Universitas Mataram. Minggu 16 Maret 2025.
Menurutnya, masalah narkoba di Bima bukan hanya sekadar banyak atau sedikitnya barang yang beredar, melainkan efek domino yang ditimbulkannya. Satu kasus narkoba bisa memicu gelombang kejahatan lain, dari pencurian, perampokan, hingga kekerasan yang merusak tatanan sosial.
Narkoba Bukan Sekadar Ketergantungan, Tapi Rekayasa Pasar
Berdasarkan hasil kajian, kejahatan narkotika di Bima bukan semata-mata karena keinginan pengguna. Mereka dikondisikan. Faktor lingkungan, tekanan pergaulan, pengaruh senior, dan yang lebih mengejutkan peran para pemain besar di balik layar membentuk ekosistem peredaran narkoba yang terstruktur.
“Merekalah yang mengatur pasar biar ada pengguna. Hal ini sesuai hasil penjangkauan kasus yang dilakukan,” ungkap Taufan, dosen muda yang sering menjadi narasumber di berbagai diskusi mahasiswa dan pemuda di NTB.
Lebih ironis lagi, sambung Ia banyak pengguna dan pengedar kecil yang ditangkap, namun dalang sesungguhnya tetap tak tersentuh.
“Ada indikasi kuat bahwa sebagian barang haram ini justru masuk ke Bima dengan restu dan kendali oknum yang seharusnya memberantasnya,”cetusnya.
Oknum Penegak Hukum, Sang ‘Penguasa’ Pasar Gelap?
Tudingan keterlibatan oknum penegak hukum dalam bisnis narkoba bukanlah hal baru, tetapi kali ini, suara-suara kebenaran semakin nyaring. Ada yang memastikan pasokan tetap mengalir, ada yang “mengamankan” jaringan, ada pula yang bermain di balik layar demi kepentingan tertentu.
Jika benar ada “tangan besi” yang mengatur pasar ini, maka perang melawan narkoba di Bima hanya akan menjadi drama tanpa akhir. Seolah ada skenario yang terus dimainkan: para bandar kecil dan pengguna dikorbankan, sementara aktor utama tetap nyaman di balik bayang-bayang kekuasaan.
“Tanpa keberanian untuk menindak mereka yang berkhianat, perang melawan narkoba di Bima hanya akan menjadi sandiwara yang terus berulang,” tandas Taufan dengan nada serius.










