SUMBAWAPOST.com, Bima- Belum sebulan digunakan, jembatan penghubung Desa Bolo-Rade di Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, sudah retak diterjang banjir, Kamis (6/11/2025). Jembatan senilai Rp6,2 miliar itu kini menjadi sorotan publik, namun Pemerintah Kabupaten Bima bergerak cepat.
Bupati Bima Ady Mahyudin dan Wakil Bupati dr. Irfan turun langsung ke lokasi pada Jumat (7/11/2025), didampingi sejumlah pejabat OPD. Tak hanya meninjau, keduanya langsung mengerahkan alat berat milik Dinas PUPR untuk memperbaiki kerusakan di titik oprit jembatan.
Diketahui, proyek jembatan tersebut dikerjakan oleh CV Dewi Wangi dengan pemenang tender PT Bunga Raya, bersumber dari APBN tahun 2025 di bawah naungan Dinas PUPR Kabupaten Bima.
Langkah cepat itu mendapat apresiasi warga. “Terima kasih banyak atas responnya Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati Bima Ady Mahyudin dan Pak dokter Irfan,” ujar Adi, warga Madapangga.
Warga Desa Rade juga menyampaikan terima kasih. “Jembatan itu sangat penting bagi masyarakat kami. Kami apresiasi perhatian pemerintah daerah,” kata Rahmat, warga setempat.
Namun di balik apresiasi, ada juga nada sindiran dari warga lain.
“Bersyukur atas datangnya hujan, karena kita jadi tahu hasil pekerjaan jembatan penghubung tersebut bobrok,” celetuk seorang warga.
Sore harinya, pihak kontraktor langsung turun tangan memperbaiki sejumlah keretakan di jembatan tersebut. Sejumlah pekerja tampak sibuk menambal bagian oprit dan mengevaluasi struktur yang terdampak banjir.
Untuk sementara waktu, jembatan penghubung Desa Bolo-Rade belum bisa dilalui kendaraan, karena masih dalam proses perbaikan dan penguatan.
Pihak Dinas PUPR Kabupaten Bima memastikan, seluruh kerusakan akan diperbaiki sepenuhnya oleh pihak kontraktor sebelum masa PHO (Provisional Hand Over). Hal itu menegaskan bahwa pemerintah belum membayarkan seluruh nilai proyek, sehingga tanggung jawab penuh masih berada di pihak pelaksana.
Dengan perbaikan yang sedang berlangsung, warga berharap jembatan senilai Rp6,2 miliar ini benar-benar kokoh dan tahan terhadap cuaca ekstrem, agar tak lagi menjadi momok setiap kali hujan deras melanda.









