Bumi Tak Punya Tombol Undo, Pesan Menohok Sekda NTB soal Krisis Lingkungan

Avatar

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 07:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekda NTB Abul Chair saat ikut menanam pohon pada puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa, Narmada, Lombok Barat.

Sekda NTB Abul Chair saat ikut menanam pohon pada puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa, Narmada, Lombok Barat.

SUMBAWAPOST.com | Mataram- Krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi dunia saat ini. Momentum Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dimanfaatkan Pemerintah Provinsi NTB untuk mengingatkan masyarakat agar tidak menunda aksi penyelamatan lingkungan.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, menegaskan bahwa berbagai persoalan lingkungan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran lingkungan, deforestasi, alih fungsi ruang, hingga meningkatnya bencana ekologis merupakan sinyal nyata yang tidak bisa diabaikan.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Provinsi NTB Tahun 2026 di Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa, Dusun Kumbi, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Sabtu (20/6/2026).

Dalam sambutannya, Abul Chair menyampaikan pesan yang langsung menyita perhatian peserta. Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa dipulihkan dengan mudah seperti menghapus kesalahan pada perangkat digital.

“Kemarin saya terima undangannya, judulnya itu ‘Now for Climate’. Judul yang tegas, luar biasa. Sekarang, bukan nanti, bukan besok. Artinya lingkungan kita tidak memberi toleransi, tidak memberi kesempatan kita untuk terlambat. Ketika kita terlambat menyelamatkan lingkungan kita, ternyata lingkungan Bumi yang kita tempati, tidak menyediakan tombol undo, tidak bisa dibatalkan. Dan itu berakibat, berdampak pada munculnya kerusakan alam,” kata Abul Chair.

Baca Juga :  Merah Putih Tak Cuma di Darat, Tapi Juga di Laut! NTB Pamerkan Upacara Kemerdekaan Paling Epik

Menurutnya, pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Pembangunan yang hanya mengejar nilai ekonomi tanpa memperhatikan dampak ekologis berpotensi melahirkan persoalan yang lebih besar di masa mendatang.

Abul Chair juga menyoroti masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga lingkungan, terutama terkait pengelolaan sampah dan perilaku yang berpotensi merusak alam.

“Kita menginginkan suasana yang sejuk, tapi ternyata yang kita tebang lebih banyak, yang kita buang lebih banyak. Dan parahnya lagi, memperlakukan sampah. Jadi sampah-sampah biasanya kita titipkan di sungai dan berharap bisa berjalan sendiri ke TPA. Jadi bismillah taruh di sungai mudah-mudahan nanti sampai ke TPA. Dan itu kelakuan. Minta tolong jaga bumi ini, kita bersama-sama menjaga bumi ini,” katanya.

Baca Juga :  GARDA SATU NTB Apresiasi Bupati Jarot Jaga Hutan, Soroti Tambang Liar Sumbawa

Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui seremoni dan kegiatan simbolis. Dibutuhkan aksi nyata yang melibatkan seluruh elemen masyarakat agar upaya pelestarian lingkungan dapat memberikan dampak jangka panjang.

“Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya diwujudkan melalui aksi-aksi simbolik. Harus melalui gerakan nyata. Tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam aksi nyata pelestarian lingkungan. Komitmen dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan akan menjadi kunci kesuksesan untuk wujudkan lingkungan yang asri dan lestari,” pungkasnya.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di NTB menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa bumi membutuhkan tindakan nyata hari ini, bukan besok. Sebab ketika kerusakan lingkungan terjadi, tidak ada tombol yang dapat mengembalikan semuanya seperti semula.

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Puluhan Tahun Perangi Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?
300 Warga Bima NTB Mengungsi Usai Gempa M7,7, Warga dari Desa Mana Saja? Ini Rinciannya
Ratusan Maba FHISIP Unram 2026 Mulai Langkah Baru, PKKMB Jadi Gerbang Kehidupan Kampus
Menenun “GAPUK Sejahtera”: Dosen UIN Mataram Pengabdian Integratif di Desa Lingkar Kampus
Inilah Lokasi Kerusakan di Bima Usai Diguncang Gempa M7,7 Flores
Gempa M7,7 Flores Terasa hingga Bima: Rumah, Masjid hingga Gudang Bulog Rusak, Warga Luka
270 ASN dari 30 OPD NTB Lupa Jadi Pejabat, Mendadak Jadi Atlet, Ini Cabornya
HUT ke-81 RI, Wagub NTB Ajak ASN Lepas Penat dan Perkuat Persaudaraan
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:05 WIB

Puluhan Tahun Perangi Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 18:23 WIB

300 Warga Bima NTB Mengungsi Usai Gempa M7,7, Warga dari Desa Mana Saja? Ini Rinciannya

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:01 WIB

Ratusan Maba FHISIP Unram 2026 Mulai Langkah Baru, PKKMB Jadi Gerbang Kehidupan Kampus

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:56 WIB

Menenun “GAPUK Sejahtera”: Dosen UIN Mataram Pengabdian Integratif di Desa Lingkar Kampus

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Inilah Lokasi Kerusakan di Bima Usai Diguncang Gempa M7,7 Flores

Berita Terbaru

Dr. Ufran, Ketua Bagian Hukum Pidana FHISIP Universitas Mataram (Unram), Penulis artikel Puluhan Tahun Perang Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?

Hukum & Kriminal

Puluhan Tahun Perangi Narkotika, Mengapa Pasarnya Tak Pernah Mati?

Sabtu, 15 Agu 2026 - 22:05 WIB

Sejumlah Titik di Kota Bima dan Kabupaten Bima Dilaporkan Terdampak Gempa M7,7 yang Berpusat di Wilayah Flores, NTT, Sabtu (15/8/2026). BPBD NTB melakukan pendataan dan verifikasi kerusakan di lapangan.

Pemerintahan

Inilah Lokasi Kerusakan di Bima Usai Diguncang Gempa M7,7 Flores

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:18 WIB