SUMBAWAPOST.com, Mataram – Fakta mengejutkan terungkap dalam diskusi yang digelar Aliansi Pemuda Aktivis (ALPA) NTB di Kafe Meeino Working, Gomong, Mataram. Rabu 26 Maret 2025. Aktivis senior sekaligus Ketua LSM IB PEKAT NTB, Ziat, mengungkapkan bahwa bisnis tambak udang di NTB memiliki potensi pendapatan fantastis hingga Rp34 triliun. Namun, ia mempertanyakan transparansi pembagian hasil dengan pemerintah daerah.
“Hitungan kami di lapangan, produksi tambak udang mencapai 68 ribu kg per siklus panen. Dengan harga rata-rata Rp100 ribu per kg, satu tambak bisa menghasilkan Rp6,8 miliar. Sementara, luas tambak di NTB mencapai 5 ribu hektare, artinya total nilai produksi bisa mencapai Rp34 triliun,” ujar Ziat.
Yang lebih mengejutkan, ia menegaskan bahwa seluruh tambak di NTB tidak memiliki Surat Layak Operasional (SLO), yang seharusnya menjadi syarat utama dalam penerbitan izin usaha tambak. “Tanpa SLO, izin tidak boleh diterbitkan. Tapi faktanya, tambak-tambak ini tetap beroperasi,” katanya.
Ziat juga menyoroti minimnya kontribusi sektor ini terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kalau dari Rp34 triliun diambil sekitar 2 triliun saja untuk PAD, itu bisa mendanai berbagai program pembangunan di NTB. Tapi ke mana sebenarnya aliran dana ini?,” tanyanya dengan tegas.
Selain itu, ia menekankan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR) kepada masyarakat sekitar tambak.
“Harus ada manfaat nyata bagi warga, seperti beasiswa, perbaikan jalan, atau peningkatan pendidikan. Jangan hanya eksploitasi tanpa dampak positif bagi masyarakat,” tambahnya.









