Temuan BPK RI Pada Tata Kelola Aset Pemprov NTB: Evaluasi dan Strategi Pembenahan Kedepan

Avatar

- Jurnalis

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Guru Besar FHISIP Universitas Mataram, Kurniawan, menyampaikan pandangannya terkait temuan BPK RI pada tata kelola aset Pemerintah Provinsi NTB sebagai bahan evaluasi dan perbaikan tata kelola pemerintahan.

Guru Besar FHISIP Universitas Mataram, Kurniawan, menyampaikan pandangannya terkait temuan BPK RI pada tata kelola aset Pemerintah Provinsi NTB sebagai bahan evaluasi dan perbaikan tata kelola pemerintahan.

๐‘‚๐‘™๐‘’โ„Ž: ๐พ๐‘ข๐‘Ÿ๐‘›๐‘–๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘›, (Guru Besar ๐น๐ป๐ผ๐‘†๐ผ๐‘ƒ ๐‘ˆ๐‘›๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘š)

๐“๐ž๐ฆ๐ฎ๐š๐ง ๐๐๐Š ๐‘๐ˆ ๐š๐ญ๐š๐ฌ ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฅ๐จ๐ฅ๐š๐š๐ง ๐š๐ฌ๐ž๐ญ ๐๐ž๐ฆ๐ฉ๐ซ๐จ๐ฏ ๐๐“๐ Semester I 2026 harus dibaca sebagai alarm tata kelola, bukan sekadar koreksi administratif. Ketika pencatatan aset tidak merepresentasikan kondisi riil, belum seluruh aset masuk ke SIPD (Sistem Informasi Pemerintahan Daerah) dan sinkronisasi antar OPD (Organisasi Perangkat Daerah) lemah hingga memunculkan pencatatan ganda, dampaknya menjalar ke hal yang lebih mendasar yaitu inefisiensi belanja dan menyempitnya ruang fiskal.

๐€๐ฌ๐ž๐ญ ๐๐š๐ž๐ซ๐š๐ก ๐ฌ๐ž๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ง๐ฒ๐š ๐๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐ฅ๐š๐ค๐ฎ๐ค๐š๐ง sebagai kapital publik yang โ€œbekerjaโ€ untuk layanan, nilai ekonomi, dan pendapatan daerah. Namun, aset yang tidak tertib data dan tidak jelas status hukumnya cenderung sulit direncanakan pemanfaatannya, rawan sengketa, dan berakhir menjadi beban pemeliharaan tanpa manfaat. Di titik ini, problem administratif berubah menjadi problem pembangunan.

๐๐จ๐ฅ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ค ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ฎ๐ฅ๐š๐ง๐  adalah tata kelola masih bertumpu pada pelaporan akhir tahun, bukan pembaruan berkala berbasis siklus. Akibatnya, rekonsiliasi antar OPD berulang, kualitas data tidak stabil, dan kerja sama pemanfaatan aset sulit bergerak karena fondasi informasinya rapuh. Digitalisasi yang tidak disertai tata kelola justru berisiko menjadi otomatisasi kekacauan.

Baca Juga :  Gubernur Miq Iqbal Rombak Birokrasi Menuju NTB Makmur Mendunia, Jabatan ASN Tak Lagi Berdasarkan Kedekatan

๐’๐จ๐ซ๐จ๐ญ๐š๐ง ๐ƒ๐๐‘๐ƒ ๐๐“๐ menambah dimensi fiskal. Meski capaian pendapatan daerah dilaporkan tinggi, indikasi kebocoran dari aset tidak produktif menunjukkan paradoks yaitu angka pendapatan bisa tampak baik, tetapi potensi pendapatan berbasis aset justru tidak tergarap. Kebocoran sering muncul karena aset tidak dipetakan secara tegas: mana yang untuk layanan publik dan mana yang idle serta dapat dioptimalkan secara legal dan transparan.

๐Œ๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ค๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ข๐š๐ฅ ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก โ€˜๐ฎ๐ญ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐ž๐ ๐š๐ฅ๐ข๐ญ๐š๐ฌโ€™ yaitu aset hibah tanpa BAST, aset yang dikuasai pihak ketiga tanpa status jelas, dan aset belum bersertifikat. Sengketa bukan sekadar kemungkinan, melainkan risiko yang mengendap dalam waktu, anggaran, dan hilangnya peluang pemanfaatan.

Baca Juga :  Bentuk Satgas Tiap Ponpes, Kemenag NTB Ingin Pastikan Para Santri Nyaman dan Aman Belajar

Karena itu, digitalisasi harus ditempatkan sebagai pembenahan end-to-end yaitu perbaikan atau restrukturisasi menyeluruh yang mencakup setiap tahapan proses, mulai dari titik awal (hulu) hingga ke titik akhir (hilir).

๐…๐จ๐ค๐ฎ๐ฌ๐ง๐ฒ๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก integrasi data lintas OPD dalam satu basis data, pembaruan berkala yang tervalidasi dengan kondisi riil, keterpaduan data fisik dengan dokumen legal, serta penertiban aset yang dikuasai pihak ketiga tanpa kepastian status.

๐“๐ž๐ซ๐š๐ค๐ก๐ข๐ซ, publik perlu ukuran keberhasilan yang jelas dan bisa diaudit yaitu progres sinkronisasi SIPD, penyelesaian dokumen legal secara bertahap, serta peta jalan optimalisasi yang menghasilkan pemanfaatan nyata sekaligus menekan temuan berulang. Tanpa indikator, digitalisasi berisiko menjadi formalitas baru sementara masalah lama hanya berganti kemasan. Semoga

 

Penulis : SUMBAWAPOST.com

Berita Terkait

Pilkades Lombok Tengah 2026: 334 Calon Adu Pengaruh di 87 Desa, Ribuan Personel Turun Tangan
Optimalisasi Potensi Lokal Jadi Strategi KoPITol NTB Perkuat Ekonomi Masyarakat
NTB Genjot Penyelamatan Hutan, Proyek FOLU GCF Resmi Dimulai, Ini Mitranya
Tragedi Udayana: Pelajar 14 Tahun Tewas Dibacok, 13 Terduga Pelaku Diamankan, 10 Masih Anak-anak
Yanuar Fikri Tiba di NTB, Disnakertrans Jemput Langsung di Bandara, Tak Sekadar Urus Pemulangan
Kongres Internasional Bahasa Sasak Dorong Reformasi, dari Bahasa Sehari-hari Menuju Bahasa Ilmu
Wagub NTB Buka Kongres Internasional I Bahasa Sasak di Momentum Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda ke-98, 15 Pemuda Pelopor NTB Raih Penghargaan, Ini 5 Nama ke Seleksi Nasional
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Pilkades Lombok Tengah 2026: 334 Calon Adu Pengaruh di 87 Desa, Ribuan Personel Turun Tangan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:36 WIB

Optimalisasi Potensi Lokal Jadi Strategi KoPITol NTB Perkuat Ekonomi Masyarakat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:36 WIB

NTB Genjot Penyelamatan Hutan, Proyek FOLU GCF Resmi Dimulai, Ini Mitranya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Tragedi Udayana: Pelajar 14 Tahun Tewas Dibacok, 13 Terduga Pelaku Diamankan, 10 Masih Anak-anak

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Yanuar Fikri Tiba di NTB, Disnakertrans Jemput Langsung di Bandara, Tak Sekadar Urus Pemulangan

Berita Terbaru