SUMBAWAPOST.com | Mataram- Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kinerja gemilang dalam pengadaan gabah dan beras sepanjang tahun 2025. Realisasi penyerapan mencapai 188.754 ton setara beras, atau 103,75 persen dari target yang ditetapkan. Capaian tersebut dipaparkan dalam Rapat Evaluasi Pengadaan Gabah dan Beras Tahun 2025 yang digelar di Ballroom Aston Inn Hotel, Mataram, Senin malam. (15/12/2025).
Rapat evaluasi ini dihadiri jajaran strategis lintas instansi, di antaranya Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Kepala BPS Provinsi NTB, para Kepala Dinas Ketahanan Pangan kabupaten/kota, pimpinan PT Sucofindo Area Pelayanan Mataram, BGR Logistik Indonesia Area Mataram, Forum Wartawan Ekonomi NTB, mitra pengadaan pangan, gabungan kelompok tani, serta jajaran Perum Bulog Kanwil NTB.
Pemimpin Wilayah (Pimwil) Perum Bulog Kanwil NTB Mara Kamin Siregar menegaskan bahwa NTB memegang peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Sepanjang 2025, Bulog NTB menyerap 320.171 ton gabah kering panen (GKP) dan 17.847 ton beras, dengan kontribusi NTB mencapai 5,78 persen dari total pengadaan nasional sebesar 3,21 juta ton setara beras.
“Seluruh kapasitas pergudangan Bulog NTB yang berjumlah 16 kompleks dengan daya tampung 117.500 ton saat ini terisi penuh. Kami juga memanfaatkan gudang mitra dan sewa untuk memastikan kesiapan stok,” ujarnya.
Saat ini, stok beras di wilayah NTB tercatat sekitar 160.700 ton, terdiri atas Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 158.849 ton dan stok komersial sekitar 1.852 ton. Dengan jumlah tersebut, Bulog memastikan ketersediaan beras di NTB aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga lebih dari 30 bulan ke depan. Selain beras, Bulog NTB juga mengelola stok gula, minyak goreng, serta jagung pipilan yang sebagian telah disalurkan untuk kebutuhan peternak dan distribusi antarwilayah.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi NTB yang diwakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB Dr. H. Aidy Furqan, S. Pd., M.Pd.,menekankan bahwa ketahanan pangan tidak semata diukur dari ketersediaan stok, tetapi juga dari keterjangkauan harga dan pola konsumsi masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan, harga beras medium dan premium di NTB masih berada dalam kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET), meski komoditas minyak goreng memerlukan perhatian khusus akibat tingginya permintaan.
“Meski NTB surplus pangan, peningkatan pengadaan tetap penting sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana, fluktuasi harga, dan kerawanan pangan di sejumlah wilayah,” katanya.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Muhamad Riadi, S.P, M.Ec.Dev dalam paparannya menyoroti pentingnya peningkatan serapan gabah sebagai instrumen penyangga harga di tingkat petani. Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) 2025, produksi padi NTB mencapai 1,69 juta ton gabah kering giling atau setara sekitar 965.644 ton beras. Namun demikian, serapan Bulog dinilai masih perlu terus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas harga saat panen raya.
Ia juga menegaskan bahwa penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram harus ditegakkan secara konsisten di lapangan. Dengan dukungan TNI melalui Tim Jemput Gabah serta kebijakan penurunan harga pupuk hingga 20 persen, stabilitas harga gabah sepanjang 2025 dinilai terjaga dan berdampak positif terhadap semangat petani menanam padi.
“Ketika harga terjamin dan biaya produksi menurun, petani akan dengan sendirinya meningkatkan produksi. Ini menjadi kunci keberlanjutan swasembada pangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bulog NTB juga menyerahkan penghargaan dan apresiasi kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB serta Komando Resor Militer 162/Wira Bhakti atas kontribusi aktif dalam mendukung penyerapan gabah dan beras sepanjang 2025. Rapat evaluasi ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antarinstansi agar pengadaan gabah dan beras pada 2026 dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.









