SUMBAWAPOST.com|™ Lombok Timur- Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Abul Chair menggunakan analogi Video Assistant Referee (VAR) dalam Sepak Bola untuk menjelaskan pentingnya Penerapan Manajemen Risiko dalam Pemerintahan.
Menurut Abul Chair, manajemen risiko memiliki fungsi penting sebagai Instrumen Mitigasi untuk mencegah terjadinya Pelanggaran sekaligus memastikan pelaksanaan Pemerintahan berjalan sesuai Aturan.
“Penerapan Manajemen Risiko itu, ibarat penggunaan Video Assistant Referee (VAR) dalam Sepak Bola. Teknologi tersebut, merupakan contoh Instrumen Mitigasi yang membantu mencegah Pelanggaran dan menjaga Keadilan,”kata Sekretaris Daerah Provinsi NTB Abul Chair, saat menutup Workshop Manajemen Risiko Pemerintah Provinsi NTB, di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu (8/8).
Selain penggunaan Teknologi VAR, dalam Sepak Bola juga terdapat garis lapangan dengan berbagai Instrumen Pendukungnya.
“Kehadirannya bukan untuk membatasi ruang gerak, melainkan menandai arena permainan agar tetap Aman dan Transparan,” ujarnya.
Abul Chair mengatakan, analogi Mitigasi Risiko melalui Sepak Bola tersebut merupakan contoh Sederhana untuk memudahkan Pemahaman mengenai pentingnya Manajemen Risiko dalam pelaksanaan tugas Pemerintahan.
Menurutnya, Manajemen Risiko tidak seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang rumit maupun menakutkan. Sebaliknya, penerapannya dapat dimulai melalui Langkah-langkah sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari.
“Saya berharap seluruh Pimpinan Perangkat Daerah, untuk terus berinovasi dan mencari cara baru dalam meningkatkan Kualitas Pelayanan serta pelaksanaan Program Pemerintah, dengan tetap mematuhi Ketentuan Hukum,” jelasnya.
Selain penerapan Manajemen Risiko, Sekda NTB juga menekankan pentingnya Keberanian Aparatur dalam merespons berbagai Potensi Persoalan. Menurutnya, Aparatur tidak boleh bersikap pasif ketika menemukan Kondisi yang berpotensi menimbulkan Risiko dalam Pelaksanaan Tugas.
“Ini adalah tugas kita semua. Bukan hanya tugas Inspektorat, BPKP, atau BPK. Tanggung jawab kita semua adalah memastikan Kita taat Aturan dan menjauhi larangan. Risiko yang ada kita kelola, kita kurangi dampaknya, dan kita ubah menjadi peluang untuk kebaikan Daerah,” tegasnya.
Ia berharap pemahaman mengenai manajemen risiko yang diperoleh selama Workshop dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas Sehari-hari.
Dengan demikian, setiap Perangkat Daerah diharapkan mampu mengantisipasi berbagai persoalan sekaligus menciptakan Inovasi yang memberikan Manfaat bagi Masyarakat.
Melalui penerapan Manajemen Risiko, Abul Chair menekankan bahwa Aparatur Pemerintah tetap memiliki ruang untuk berinovasi, namun harus dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Hukum dan Prinsip Kehati-hatian.
Analogi VAR yang disampaikan Sekda NTB menggambarkan bahwa Manajemen Risiko bukanlah Instrumen untuk mempersempit ruang gerak Aparatur, melainkan mekanisme untuk membantu memastikan setiap Program dan Kebijakan berjalan pada jalur yang tepat.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










