SUMBAWAPost, Mataram – Kebutuhan kedelai di Provinsi NTB mencapai sekitar 2500 ton per bulan, namun petani lokal tidak mampu memenuhi jumlah tersebut sehingga perlu dilakukan impor kedelai.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perdagangan (Kadisdag) Provinsi NTB Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) dengan pelaku usaha dari Jawa Barat. Rakor tersebut dalam rangka untuk mengatasi masalah dalam arus keluar-masuk komoditi bawang putih dan kedelai, dengan fokus utama menjaga stabilitas pasokan kebutuhan pokok masyarakat NTB.
Disdag juga menyampaikan, tidak hanya soal kebutuhan, tapi harga kedelai saat ini mengalami penurunan, menjadi sekitar Rp. 9.400 – 9.750 per kilogram.
“Para pengrajin tahu tempe menginginkan agar harga kedelai stabil sekitar Rp. 9.000 per kilogram guna mendukung kelangsungan produksi mereka,”ujarnya.
Adanya praktik bundling (taktik penjualan dengan mengemas lebih dari satu produk/jasa menjadi satu) kedelai oleh distributor minyak goreng juga menjadi perhatian dalam Rakor, di mana hal tersebut dapat mengganggu persaingan pasar yang sehat.
Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (PUSKOPTI) se-Jawa Barat yang mampu memproduksi berbagai produk turunan sari tempe seperti burger, sate, dan bakso soroti pentingnya stok kedelai yang memadai untuk kelangsungan operasional mereka.
“PUSKOPTI berharap dapat mendapatkan bantuan berupa cold storage untuk menyimpan stok kedelai hingga satu tahun, serta kapal tongkang kecil dengan kapasitas sekitar 1.000 ton untuk mempermudah distribusi dan mengurangi biaya operasional mereka,”ungkapnya.
Selain itu, Dinas Perdagangan NTB berharap Rapat ini dapat menghasilkan langkah-langkah strategis yang efektif untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas, khususnya kedelai, di NTB.
“Langkah-langkah tersebut diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan memastikan persaingan pasar yang sehat di tingkat regional,”terang Baiq Nelly.










