Mataram| SUMBAWAPOST.com- Dalam upaya memperlancar pengiriman hewan qurban tahun 2026, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, S.P., M.Ec.Dev., bersama Tim Ahli Gubernur NTB Dr. Basuki Prayitno melakukan kunjungan ke PERUMDA Dharma Jaya, Rumah potong untuk sapi dan kerbau ini berlokasi di Jalan Raya Penggilingan Nomor 25, Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. pada Kamis (12/2/2026). Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Direktur Bisnis Irwan Nusyirwan bersama jajaran.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah poin penting terkait kebutuhan dan peluang kerja sama pengiriman ternak dari NTB. Perumda Dharma Jaya diketahui melakukan pemotongan sekitar 100 ekor sapi per hari, dengan kebutuhan tahunan mencapai 7.500 hingga 10.000 ekor, baik sapi eksotis maupun sapi lokal.
Selain itu, kebutuhan hewan qurban Perumda Dharma Jaya pada tahun 2026 diperkirakan sekitar 800 ekor, terdiri dari 80 persen Sapi Bali dan 20 persen sapi eksotis. Harga pembelian sapi qurban dan sapi bibit ditetapkan sebesar Rp57.500 per kilogram berat hidup dengan penimbangan di kantor Cakung.
“Perumda Dharma Jaya membuka peluang masuknya sapi dari NTB, baik Sapi Bali maupun Sapi Eksotis, untuk kebutuhan sapi bibit maupun sapi potong,” jelas Muhamad Riadi, dalam keterangan yang diterima media ini. Rabu (18/2/2026).
Tak hanya itu, Perumda Dharma Jaya juga membuka opsi kerja sama dengan BUMD Provinsi NTB maupun kabupaten/kota dalam pengembangan bisnis ternak sapi Bali maupun sapi eksotis.
Setelah kunjungan tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB bersama Tim Ahli Gubernur NTB melanjutkan pertemuan dengan sejumlah pelaku usaha ternak di wilayah Jabodetabek. Dari pertemuan itu terungkap sejumlah tantangan di lapangan, di antaranya praktik perusahaan sapi yang telah menerima kuota pengiriman lebih awal sehingga membatasi ruang bagi pelaku usaha lain.
Kondisi tersebut dinilai berpengaruh pada harga sapi dari NTB yang cenderung lebih tinggi dibanding harga pasar di DKI Jakarta. Sebagai contoh, harga sapi di Bima saat ini mencapai Rp55 ribu per kilogram berat hidup, sementara harga pasar di Jakarta berada di kisaran Rp57.500 per kilogram berat hidup.
Selain persoalan harga, ketidakstabilan harga sapi di NTB dan belum adanya standarisasi seperti di daerah lain juga menjadi perhatian. Permasalahan lain yang kerap muncul ialah pengiriman sapi dari Kabupaten Bima yang belum memiliki calon pembeli di kawasan Jakarta, sehingga menimbulkan persoalan ketika ternak tidak habis terjual setelah Idul Adha.
Kuota pengiriman Sapi Bali dari NTB untuk Idul Adha 2026 diperkirakan mencapai 20.000 ekor, dengan sekitar 9.000 ekor telah memiliki kontrak bisnis melalui asosiasi resmi, terutama yang berasal dari Kabupaten Bima dan Pulau Sumbawa.
Solusi Transportasi dan Regulasi
Persoalan transportasi menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Terbatasnya sarana transportasi lalu lintas ternak mendorong pemerintah mencari solusi melalui jalur Tol Laut serta pembatasan penerbitan rekomendasi dan izin pengiriman harian pada pelayaran publik.
“Persoalan transportasi menjadi hal penting yang harus disikapi dengan solusi konkret agar kegaduhan yang sering terjadi tidak terulang kembali,” ungkapnya.
Asosiasi pedagang di Jakarta juga mengusulkan agar pengiriman ternak dapat dilakukan langsung dari pelabuhan terdekat sesuai lokasi pengumpulan sapi, tanpa harus melalui jalur darat lintas kabupaten yang selama ini menyebabkan penumpukan di pelabuhan penyeberangan Lembar dan Gili Mas.
Selain itu, praktik tata niaga ternak menjelang Idul Adha diharapkan tetap mengikuti regulasi yang berlaku, baik dari sisi administrasi maupun kesehatan ternak, termasuk uji laboratorium dan PCR, agar persoalan pengiriman dan penjualan dapat diminimalisir.
“Harapannya, persoalan pengiriman ternak asal NTB jelang Idul Adha tidak terjadi lagi dan bisnis ternak di NTB dapat berkembang pesat,” pungkasnya.
Penulis : SUMBAWAPOST.com










